Keresahan Membawa Kerukunan

Published Oktober 23, 2016 by pembawacerita

Kisah ini adalah sejarah yang benar-benar terjadi. Karena tidak mungkin kisah ini hanya fiktif belaka jika sampai ditanyakan lintas generasi dan ditulis, dihafal, diingat, dijaga hingga abadi.
Alkisah berkumpul lah suatu kaum, para ahli tafsir menyebutkan bahwa itu adalah kaum Romawi. Pada masa perkumpulan itu, mereka menyembelih hewan bukan atas nama Allah SWT. Mereka juga bersujud bukan kepada Allah SWT. 
Saat itu memang belum datang cahaya Islam. Belum hadir pula Isa Al Masih putra Maryam di dunia. Maka sangat wajar jika menegakkan tauhid itu merupakan perjuangan yang jauh lebih berat daripada sekarang ketika cahaya Islam telah menerangi timur dan barat.
Namun demikian, bukan berarti tidak ada keresahan hati melihat praktik kesyirikan itu. Seorang pemuda, konon dia adalah anak Sang Raja, gelisah melihat kelakuan kaumnya itu. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, dia tidak memiliki daya untuk mengingatkannya. Akhirnya pemuda itu memisahkan diri dari kaumnya kemudian menuju sebuah pohon. Dia bukan berdoa atau beribadah di pohon itu. Keresahan hati akan praktik kesyirikan tidak mungkin membawa dirinya untuk mempraktikan kesyirikan lain. Dia merenung memikirkan kejahiliyahan kaumnya itu.
Ternyata diluar dimensi tubuh Sang Pemuda, ada sosok lain merasakan hal yang sama. Pemuda putra bangsawan Romawi juga memisahkan diri dari ritual jahil kaumnya. Dia juga menuju pohon dan merenungkan praktik jahiliyah kaumnya itu. Demikian selanjutnya, ada beberapa pemuda lain yang hatinya resah meemisahkan diri dari kaumnya. Hingga jumlah mereka genap tujuh orang berteduh nerenung di bawah pohon.
Ketujuh pemuda ith tidak saling kenal. Awalnya mereka saling diam. Tak ada percakapan. Senyap. Hingga salah seorang dari mereka membuka percakapan. Dia menanyakan motivasi masing-masing pemuda, mengapa mereka meninggalkan kaumnya. Singkat cerita, akhirnya mereka sama-sama mengetahui bahwa ternyata mereka memiliki keresahan yang sama sehingga meninggalkan kaumnya. Dengan dasar kesamaan keyakinan tersebut, ketujuh pemuda itu kemudian membuat tempat ibadah sendiri yang benar-benar menjaga keesaan Tuhan, menegakkan ketauhidan Allah SWT.
Kisah sejarah ini setidaknya memberi dua pelajaran bagi kita. Pertama adalah rasa resah akan kebatilan. Kedua adalah sumber kerukunan yang membawa semengat dqn menggerakkan pada kebaikan yang lebih besar.
Pelajaran 1

Sudahkan kita merasakan keresahan atas kondisi-kondisi buruk yang ada di lingkungan kita?

Jika kita tenang-tenang saja dengan kondisi kebatilan yang ada, perlu dipertanyakan, dimana letak hati kita? Seberapa besar kesadaran kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk sosial?

Sungguh kebatilan yang dibiarkan saja bisa membawa bencana yang lebih besar. Oleh karena itulah keresahan hati diperlukan untuk merespon bentuk-bentuk kebatilan. 

Kisah tujuh pemuda di atas menjelaskan bahwa kita sebenarnya akan menghadapi keresahan-keresahan dalam bentuk lain. Misalnya lingkungan yang kotor, kumuh, dan problematika sampah. Apakah kita sudah merasa resah dengan kondisi ini? 

Kondisi lain, seperti lingkungan yang berkurang tingkat keamanannya. Apakah kita sudah merasa resah dengan kondisi ini?

Jika tidak merasakan keresahan apapun, maka patut dipertanyakan berada dimana posisi kita? Apakah posisi kita sama seperti tujuh pemuda itu, ataukah seperti kaum yang jahil melakukan praktik kesyirikan?
Maka bersyukurlah bagi kita yang masih merasakan keresahan akan kondisi-kondisi batil, buruk, jahil, dan kondisi negatif lainnya. Keresahan hati merupakan awal upaya perbaikan. Hal ini berarti berhenti pada keresahan semata tidak akan menyelesaikan masalah, tidak bisa menghindarkan kita dari ancaman akibat kondisi kebatilan tersebut. Oleh karenanya, pelajaran kedua pada kisah tujuh pemuda itu juga sangat penting untuk dipahami.
Pelajaran 2

Kerukunan ini akan muncul dengan adanya pertemuan dan pengenalan. Itulah kondisi yang terjadi pada tujuh pemuda. Pertemuan mereka yang didasari pada keresahan yang sama, walau pada mulanya mereka tidak saling mengenal, mereka kemudian saling berkenalan. Interaksi mereka menimbulkan kerukunan diantara mereka. Kemudian kerukunan itu membawa langkah perbaikan yang lebih besar. Perihal kerukunan melalui pertemuan dan perkenalan ini ditekankan kembali oleh Nabi Muhammad SAW.
” _Ruh-ruh itu ibarat bala tentara, apabila saling mengenal, maka akan rukun. Dan apabila tidak saling mengenal, maka akan berselisih_” (HR Bukhari-Muslim)
Benar mungkin diantara kita sudah merasa resah dengan kondisi yang perlu perbaikan. Tetapi jika kita diam saja, tentu tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Bukan hanya itu, banyak sekali permasalahan dalam hidup ini yang sifatnya jama’i (publik). Oleh karenanya masalah seperti itu sulit atau bahkan tidak bisa diselesaikan secara pribadi. 
Sebagai contoh, problematika sampah lingkungan. Jelas ini merupakan masalah bersama. Satu orang saja yang berupaya menyelesaikan problematika ini tidak cukup untuk melakukannya. Satu orang itu kungkin hanya bisa menyelesaikan problem sampah di rumahnya, tetapi tidak bisa di lingkungannya.
Contoh lain tentang keamanan lingkungan. Benar mungkin satu orang bisa mengamankan rumahnya. Namun mustahil dia bisa mengamankan satu komplek perumahan sendirian. Bukan hanya itu, upaya pengamanan untuk pribadinya sangat mungkin menjadi tidak bermakna jika tidak ada komitmen keamanan dilingkungannya.
Berkaca dari kisah tujuh pemuda itu, perbaikan dan pembangunan untuk menyelesaikan masalah jama’i (publik) terbukti efektif jika ada kerukunan antar sesama. Tujuh pemuda itu berhasil membangun tempat ibadah yang mengesakan Tuhan berkat adanya kerukunan diantara mereka. Selanjutnya kerukunan bisa terbentuk jika ada perkenalan antar sesama. Ini seperti perkenalan dan ‘saling curhat’ atas masing-masing keresahan dari tujuh pemuda di atas. Kemudian saling kenal ini bisa terjadi dan terbukti efektif jika ada pertemuan dengan tatap muka langsung. Hal ini dapat dilihat dari pertemuan tujuh pemuda pada suatu pohon ketika mereka memisahkan diri dari kaumnya yang jahil.
Kisah tujuh pemuda tersebut memberikan rumus cara membangun kebaikan jama’i (publik). “Tak ada pembangunan kebaikan tanpa perkenalan, tak ada perkenalan tanpa pertemuan langsung”.
Dalam sudut pandang umat islam, pertemuan langsung itu jelas dapat dilihat dari kebersamaan ibadah shalat berjama’ah di masjid. Dalam konteks hidup dalam lingkungan yang beragam, nilai universal dari kisah ini dapat didesain dengan membuat kegiatan yang mempertemukan antar sesama secara langsung melalui tatap muka.
Selamat berakhir pekan, semoga bermanfaat.

*belajar di atas _hammock_ diantara rintik hujan di Gardenia

*secuplik kisah Ashabul Kahfi (referensi: Al Qur-an Surat Kahfi dan Tafsir Ibnu Katsir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: