​Cerita (Pendidikan) Bapak

Published Agustus 11, 2016 by pembawacerita

Aku ingat ketika masih SD, Bapak mengantarkanku beli buku Bahasa Indonesia di kota. Iya, pada tahun 1990an, Trenggalek adalah kota sedangkan aku tinggal di desa 7 kilo meter dari pusat kota. Tak lama setelah berangkat baru saja keluar rumah, tiba-tiba hujan deras. Bapak kemudian memutuskan untuk berteduh di rumah Pakdhe, tak jauh dari air hujan pertama kali turun. Hujan semakin deras dan kami ditemani teh hangat yang diseduh Budhe. Bapak ngobrol kesana kemari dengan Pakdhe.
Aku tak tahu apa yang diobrolkan karena aku sebel dengan suasana itu. Hujan deras. Dan aku kemungkinan ga jadi dapat buku bacaan. Sebelnya seorang bocah. Kira-kira seperti itu.
Tapi aku langsung sumringah ketika Bapak memutuskan untuk melanjutkan membeli buku setelah hujan reda. Kami melanjutkan perjalanan naik motor malam itu. Hingga sampai Cengkong (nama daerah kurang lebih 1 km sebelum masuk kota), hujan deras kembali mengguyur. Kami basah kuyup. Aku bilang kepada Bapak, “Pak, kita berhenti saja. Ngiyup (berteduh)”. Bapak menolaknya, “Sudah terlanjur basah, kamu harus dapat bukunya. Jangan sampai toko bukunya tutup sebelum kita datang”.
Bapak berhasil membelikanku buku tepat ketika pegawai mau menutup tokonya. Aku semakin merasa bersalah. Bapak diam saja dan kami pulang dalam kedinginan. “Nanti kamu akan tahu”, begitu kata Bapak. Tapi aku tetap tak mengerti, hanya merasa bersalah saja.
‘Clue’ dari Bapak itu mulai terbuka ketika aku daftar SMP. Dari SD-ku, hanya aku yang daftar di SMP N 1 Trenggalek. Bapak juga yang mengantarku daftar ke SMP.
Sepulang dari daftar sekolah itu, Bapak cerita. Dulu Bapak susah mau sekolah. Bapak sudah yatim sejak SD. Bapak ingin bekerja saja. Cari kayu di hutan kemudian di jual di pasar. Tapi mbah putri tetap bertahan untuk menyekolahkan anaknya yang ada delapan itu. Sepertinya mbah putri menaruh harapan besar untuk menyekolahkan Bapak bersama Pakpuh Miftah (Allahuyyarhum).
Kondisi yang sangat sulit. Tapi toh Bapak dan Pakpuh tetap dipaksa mbah putri untuk sekolah. Begitu seterusnya sampai bapak kuliah di IKIP Malang, lulus, kemudian membantu mbah putri menyekolahkan Paklik dan Bulik (adiknya Bapak). Bahkan menurut ibuku, Pakpuh Miftah (Allahuyyarhum) rela menikah diumur yang sudah tua untuk membiayai sekolah adik-adiknya dan membantu mbah putri.
Dari situlah aku memahami bahwa karakter mbah putri itu yang membentuk karakter Bapak. Hingga Bapak rela menembus dingin hujan malam hari hanya untuk sebuah buku Bahasa Indonesia buatku.
Itu cerita Bapak. Cerita yang justru membuatku prihatin dengan kondisi sekarang. Beberapa waktu lalu seorang kawan bercerita bahwa anak-anak dan orang tuanya mengancam akan berhenti sekolah jika kebijakan full day school diberlakukan Pemerintah. Alasannya, anak-anak itu harus membantu orang tuanya cari rumput untuk makan ternak. Sederhana sekali alasannya. 
Mungkin orang-orang seperti itu perlu sosok mbah putri di rumahnya. Aku pun berusaha berbaik sangka, semoga temanku itu justru tidak membakar kondisi hanya karena tidak suka dengan wacana full day school.
Sungguh ironi menurutku. Hanya karena tidam setuju dan alasan himpitan ekonomi, lantas membuang kesempatan mendapat ilmu dari sekolah. Beda sekali dengan mbah putri. Beliau tidak peduli dengan kebijakan Pemerintah, yang penting anak-anaknya semua harus sekolah bagaimana pun caranya. Apakah himpitan ekonomi sebagai single parent dengan delapan anak masih kurang menantang bagi orang jaman sekarang? Ataukah memang orang-orang jaman sekarang itu rendah adversity quotient-nya?
Semoga pendidikan di Indonesia tidak pupus hanya karena opini dan ketidaksukaan. Apalagi hanya sekedar kompor yang akan redup ketika tak lagi cukup bahan bakarnya. Semoga semakin banyak sosok-sosok sadar pendidikan seperti mbah putri di kemudian hari.
*ditulis di KRL Tanah Abang-Depok 11 Agustus 2016 dan diselesaikan pukul 20.57 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: