​Mem-full day school-kan Diri

Published Agustus 9, 2016 by pembawacerita

Ramai sekali di linimasa kontra full day school yang masih diwacanakan Pak Muhadjir Effendi. Berbagai alasan diargumenkan. Anak kelelahan. Anak butuh bermain. Anak butuh istirahat. (Jadi yang benar mana? Main apa istirahat?). 
Baiklah. Saya ingin cerita saja. Cerita masa remaja yang suram (duuuh…sedihnyaa). Cerita anak lelaki yang tiap kali tertarik kepada teman lawan jenis hanya berani ngomong kepada Tuhan. “Tuhan, aku naksir dia”. Namun semakin dia berdoa, semakin menjauh dambaan hatinya. Itulah saya kala itu, lelaki remaja yang tak pernah pacaran. Bukan karena ga naksir perempuan. Tetapi karena memang tak ada yang mau.
Setiap hari, saya, remaja jomblo ngenes ini, dulu selallu mengayuh sepeda pulang pergi sekolah dg jarak kurang lebih 7 km dari rumah. Memang ada bus angkutan umum. Tetapi saya lebih memilih bersepeda. Alasannya, bersepeda seringkali lebih cepat daripada naik bus. Sederhana, bus dan awaknya perlu duit sehingga harus ngetem beberapa kali di tempat-tempat strategis. Sedangkan saya ga butuh duit. Fokus hanya ingin ke sekolah dan menghabiskan dagangan kripik singkong yang setiap hari saya jual ke teman-teman sekolah. Lhaa…katanya ga butuh duit? Iya…itu alasan sok sip aja sih. Tapi yang jelas, statistik membuktikan, saya lebih sering sampai sekolah lebih cepat naik sepeda daripada naik bus.
Disisi lain, panas terik melanda ketika pulang sekolah siang hari. Bahkan setiap tiga hari sepekan saya sampai di rumah hanya untuk makan siang, istirahat sebentar, kemudian berangkat bimbel. Ciyeee bimbel…biar kekinian nih yee. Ketika berangkat bimbel, saya ga sepedaan lagi. Saya naik Vespa keliling kota sampai binariaaa….ups…itu lagunya Naif. Iya, naik vespanya Bapak karena bapak sudah sampai di rumah pula.
Hingga suatu waktu, saya ga bisa pulang sekolah karena hujan di siang hari. Daripada kuyup, lebih baik saya bertahan di sekolah. Disitulah saya bisa ngobrol dengan pakdhe dan mbokdhe di kantin. Kalau ngantuk, tidur di Musholla Nurul Iman. Apakah saya mengerjakan PR di musholla itu? Ooo…tidak, saya tidak serajin itu kawan. Cukup tidur saja. Kalau tidak begitu, ngobrol dengan teman-teman SKI. 
Walhasil, ini menjadi kebiasaan saya. Bahkan sampai kelas 3 SMU (kalau konteks sekarang berarti kelas 12), saat mata pelajaran olah raga dijadwalkan sore hari, ya saya tetep enjoy bertahan di sekolah. Tepatnya di musholla. Begitu seterusnya hingga saya sering pulang sore sampai rumah.
Cerita ini mengingatkan saya pada masa lalu yang kebijakan pendidikannya masih setengah hari sekolah. Tapi kenyataannya saya sering pulang sore sampai rumah. 
Saya saat itu hanya mengikuti ritme yang paling mudah saja. Namun belakangan saya menyadari. Keputusan mem-full day school-kan diri yang saya lakukan itu membawa berkah. Setidaknya telah mengikatkan hati saya sejak remaja (yang konon ngenes itu) dengan tempat ibadah. Padahal bukan untuk beribadah pada mulanya. Hanya sedikit waktu untuk shalat, kemudian tidur atau ngobrol dengan kawan-kawan. 
Apakah keputusan saya mem-full day school-kan diri itu salah? Justru menurut perasaan saya ga salah. Ini tepat banget. Justru seperti itu ternyata pendidikan karakter terbentuk. Weit…kok pakai perasaan? Lah…memangnya ga boleh mengukur pencapaian atau kepuasan dengan rasa? Ah, saya tidak ingin berdebat tentang rasa.
Kembali ke kebijakan full day school. Saya justru khawatir dengan mereka yang kontra atau menghujat full day school itu sebenarnya tidak tahu dengan konsepnya. Apa saja kegiatan anak di sekolah? Bagaimana mendesain kondisi pendidikannya? Bagaimana konsep manajemen kurikulumnya? Bagaimana manajemen tenaga pendidik dan kependidikannya? Bagaimana manajemen layanan khususnya, seperti kantin, catering dan sejenisnya? Yaaa…begini-begini walau pernah jadi jomblo ngenes waktu remaja, saya pernah belajar tentang manajemen pendidikan kok. 
Saya khawatir, para khalayak terjebak dalam “argumentum ad ignoratiam”. Berargumen seolah pendapatnya paling benar tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi sehingga pendapat lain yang berbeda selalu dianggap salah.
Ah…kereta saya sudah sampai Stasiun Depok. Selamat malam para khalayak.
*Tulisan daripada nganggur di KRL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: