Kecintaan Bapak dan Dilema Kehidupan

Published Mei 31, 2016 by pembawacerita

image

Kedua jarum arloji saya membentuk sudut yang semakin lancip dengan salah satunya menunjuk angka 12. Sebentar lagi ganti hari. Saya melangkahkan kaki di Stasiun Gondangdia selepas ada acara untuk almamater. Sejurus kemudian pandangan saya tertuju pada pemandangan penuh haru. Seorang Bapak dengan dua anak kecil disamping kanan kirinya. Ada apa gerangan bocah kecil masih menyertai Bapaknya di waktu bocah seumuran dia sedang terlelap?

Saya menyempatkan ngobrol dengan si Bapak.
“Putranya pak?”
“Iya”
“Ikut kerja ya pak?”
“Iya”
Cukup. Berhenti dulu saya bertanya. Jawaban penuh kelelahan yang saya dapat. Satu kata yang hanya terdiri dari tiga huruf terucap lirih, pelan, dan sendu.

“Adik sekolah kelas berapa?”
Saya bertanya kepada anak  yang lebih kecil. Berharap mendapatkan jawaban yang lebih segar.
“Dia belum sekolah”
Si Bapak menjawab dan anak kecil yang tetap diam.

“Setiap hari dia ikut Bapak kerja ya?”
“Ya kalo dia pengen ikut aja ga bisa dilarang”
Masih dengan nada lemas.
“Kalo abangnya itu sudah sekolah pak?”
“Sudah. Kelas tiga. Tapi dia ga mau sekolah. Badung. Sebenarnya kalau badungnya sih saya maklum. Wajar lah ya bocah segini badung. Yang saya ga habis pikir itu dia ga mau sekolah itu lho. Ibarat kata, ga apa-apa Bapaknya bersusah-susah begini tapi dianya mau sekolah. Eh…ini malah ga mau sekolah. Di kasih uang jajan, buat main di warnet. Ikutan teman-temannya. Dibilangin alus (maksudnya dinasehati.red), ga dianggep. Dikerasin, ngambek. Sayanya yang repot ya. Saya kan ga mungkin hanya ngurusin dia. Ada kakaknya dan adik-adiknya yang lain. Anak saya  lima. Sehari-hari ya begini.”
Hufh…pertama, akhirnya keluar juga omongan dari si Bapak. Kedua, semua yang dibicarakan menggambarkan betapa berat beban hidupnya. Ketiga, si Bapak tidak tahu memulai mencari solusi dari mana. Keempat, nada lelah masih mendominasi kata-katanya.

“Bapak coba anaknya didoakan ya pak”
Ekspresinya dingin. Tidak jelas dia mengangguk setuju atau kah memang lemas raganya karena letih seharian bekerja. Dan KRL pun datang sekian detik kemudian.

Para penumpang menawarkan tempat duduk untuk si Bapak dan dua anaknya. Tapi tak ada yang mau menerima tawaran itu. Saya bujuk si bocah, tetap saja tak mau.

Hingga sampai Stasiun Manggarai, si bocah besar merasa lelah kemudian duduk di bangku prioritas. Si Bapak pun masih tetap berdiri menyandarkan dahinya diatas lengan yang menempel di pintu KRL. Betapa lelah si Bapak ini, saya hanya membatin.

Sepanjang perjalanan saya terbayang bagaimana rasa cinta seorang bapak kepada anaknya. Hingga sang anak ingin selalu merasakan dekat dengannya. Pemandangan ini mengingatkan saya pada kisah hubungan bapak dan anak yang terbaik dan diabadikan dalam Al Qur-an. Anak memanggil bapaknya dengan ‘abati’ bukan ‘abi’ dan bapak memanggil anak dengan panggilan ‘bunay’ bukan ‘ibn’. Panggilan ‘abati’ yg diabadikan itu pada umumnya digunakan oleh anak yang kangen dengan bapaknya karena sang bapak jauh darinya. Demikian pula panggilan ‘bunay’ oleh sang bapak kepada anaknya. Tapi panggilan itu tetap digunakan dalam kisah abadi walaupun bapak dan anak sedang dalam interaksi langsung, face to face. Ini menunjukkan betapa dekat hubungan cinta antara bapak dan anak. Walaupun mereka sedang bersama, mereka tetap saling rindu dan ingin selalu bersama.

Namun tidak dipungkiri juga bahwa pemandangan itu tersurat kegalauan si Bapak akan masa depan anaknya. Bukan jumlah anaknya yang banyak yang dirisaukan. Tapi bagaimana dia memotivasi anaknya agar mau bersekolah. Kini dia menjumpai fakta demotivasi  sekolah pada anaknya.

Saya sebenarnya ingin memberikan beberapa saran kepada si Bapak. Namun saya mengurungkannya karena memahami bahwa di sisi lain si Bapak harus bekerja keras untuk memberi nafkah keluarga. Pikiran saya dikacaukan dengan perhitungan berapa keuntungan menjual tisu di jalan sabang dari siang hingga malam. Itulah kegiatan si Bapak sehari-hari. Itu pun masih harus dikurangi hitungan transport Citayam-Jakarta.

Di satu sisi, saya berharap besar si Bapak ini tidak hanya mendapatkan ‘ikan’ dari orang lain. Namun di sisi lain, jika si Bapak diberi ‘kail’ itu juga memerlukan proses, waktu, bimbingan, dan pengawasan dalam menggunakan ‘kail’ itu.

Sampai menjelang Stasiun Depok, saya masih bingung menentukan ending olah rasa ini.  Namun akhirnya saya tetap memilih ending cerita yang tak sesuai dengan harapan ideal saya.

Setiap kita memiliki peran untuk lebih bermanfaat. Bukan hanya untuk diri pribadi, tapi juga semakin bertambah spektrumnya meliputi lapisan keluarga, kemudian sesama, dan lingkup besar kenegaraan. Spektrum ini berkembang natural. Tidak mungkin seseorang ingin memberi manfaat kepada negara jika belum selesai dan berkelanjutan spektrum manfaatnya untuk keluarga dan sesama.

Inilah nilai Dharma Kasatriyan yang saya pelajari dari budaya yang lahir di bumi nusantara ini. “Memayu hayuning jiwa, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sasama, lan memayu hayuning bawana”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: