Pendidikan dan Kepercayaan

Published Mei 2, 2016 by pembawacerita

Konon jaman yang tak begitu dahulu, saya menyampaikan hasil ujian catur wulan matematika SD kepada ibu. Ibu membaca jawaban saya yang salah. Ibu kemudian berkata, “Lho, jawabanmu ini kan benar? Kok disalahkan sama Bu Guru?”. Sebagai anak yang masih bau kencur, saya tidak tahu mengapa jawaban itu disalahkan. “Ga tahu, buk”, jawab saya sambil ganti baju seragam. Kebiasaan yang ditanamkan ibu adalah segera ganti seragam sekolah setelah sampai rumah.

 

Ibu kemudian membuat catatan di selembar kertas yabg isinya menerangkan jawaban soal ujian catur wulan matematika itu. “Ini ibu sudah buat catatan, kalo kamu mau, kamu kembali ke sekolah sekarang dan sampaikan ke Bu Guru kalo jawabanmu benar. Ini penjelasan dari ibu”. Ibu saya itu guru matematika SMP. Jadi guru matematika SD saya percaya dengan ibu dalam beberapa kali penjelasan sebelumnya.

 

Saya memakai baju seragam sekolah lagi kemudian bergegas kembali ke sekolah. Saya menyampaikan catatan dari ibu kepada Bu Guru. Setelah membacanya, Bu Guru menulis catatan balasan untuk ibu. “Mas Wirawan, ibu guru sudah benarkan jawabannya yaa. Selamat yaa, nilainya sempurna. Terus ini ibu guru nitip buat ibu yaa”. Saya senang sekali dan pulang kembali dengan wajah berseri-seri.

 

“Gimana hasilnya?”, tanya ibu yang sudang menunggu di depan pintu. “Yeaaiiiy…dibenerin sama Bu Guru”, saya mennyampaikan hasilnya setengah berlari. Kombinasi yang komplit antara senang dengan hasil ujian dan buru-buru ganti baju karena mau main sehingga saya hanya menyerahkan begitu saja catatan Bu Guru kepada ibu.

 

“Bu, aku main yaaaa…”. “Eiiit…tunggu dulu”, tetiba ibu menghentikan langkah saya. “Coba ini surat Bu Guru dibaca”. Saya membaca dan tidak mengerti. Ibu kemudian menjelaskan, “Waktu ujian, ibu guru membuat pengumuman ralat soal. Diantara dua angka itu seharusnya ada tanda kurungnya. Nah, kamu pasti tidak mendengarkan pengumuman itu. Makanya jawabanmu disalahkan sama Bu Guru”. Ibu kemudian menjelaskan perhitungan jika menggunakan soal yang sudah diralat. Hasilnya memang berbeda. Jawaban saya salah. “Besok, di sekolah, minta maaf sama Bu Guru ya”.

 

Sekarang ketika sudah beranak istri, saya baru menyedari betapa interaksi antara ibu saya dengan Bu Guru itu adalah interaksi kepercayaan dalam pendidikan. Ibu mempercayakan pendidikan saya kepada guru. Ibu juga melakukan pengawasan atas hasil pendidikan saya. Ibu juga berkomunikasi dengan guru-guru saya. Demikian pula Bu Guru mempercayai ibu saya, bukan hanya sebagai wali murid tetapi juga respek sesama profesi guru. Karena itu lah jawaban saya yang salah itu dibenarkan oleh Bu Guru. Mungkin dalam hati Bu Guru bergumam, apalah arti nilai dibandingkan kepercayaan yang sudah terjalin rapi.

 

Cerita saya ini cerita nyata. Sangat indah jika saya mengingatnya. Jauh dibanding kisah fiktif pendidikan yang diangkat ke layar lebar atau sinema rumahan. Di sebuah sinema elektronik, ada cerita sekolah yang isinya hanya kepala sekolah dan guru yang sama-sama dandan seksi. Di latar yang sama, cerita dibumbui dengan petugas sekolah (baca: school officer atau OB-nya sekolah) yang ganteng dan naksir Bu Guru. Ditambah sega keruwetan murid-murid yang manja, centil hingga menyebalkan. Pemain sengaja dipilih yang muda, cantik, dan ganteng serta pakai rok mini. Kemudian dibumbui cerita asmara tak bermakna dengan penuh konflik drama yang tak berkesudahan.

 

Tak kalah di film layar lebar, saya ambil contoh “Catatan Akhir Sekolah”. Cerita yang di-setting konflik permusuhan antara guru dan murid. Murid yang tak lagi percaya kepada Guru dan merekam ada penyuapan yang dilakukan oknum wali murid kepada guru. Cerita sampah yang disajikan kepada publik yang sebenarnya dahaga dengan kisah teladan.

 

Cerita sinema dan film itu memang hanya fiktif belaka. Di ungkapkan pula di sinema itu penegasan di awal sebelum diputar dengan layar hitam dan tulisan putih bahwa cerita ini adalah fiktif belaka, kesamaan nama dan kharakter hanya kebetulan dan tidak disengaja. Menurut saya ini pembodohan sistematis. Dikiranya manusia itu hanya otak saja. Jika sudah dijelaskan itu cerita fiktif, lantas manusia pasti akan otomatis bisa memisahkan dengan kenyataan kehidupan. Padahal, cerita rekayasa itu diputar setiap hari, dihadapan publik, hingga menjadi pembiasaan. Ini yang diserang kebiasaan. Agar pemirsanya, terutama anak-anak itu dari alam bawah sadarnya berbuat seperti kebiasaan di cerita fiktif itu.

 

Saya lebay? Tidak. Ini ada teorinya. Lihat saja bagaimana Pavlov mengubah kebiasaan anjing yang tadinya hanya mengeluarkan air liur ketika diperlihatkan makanan. Dengan kebiasaan yang bertahap, intensif, dan memerlukan waktu, kebiasaan anjing itu berubah menjadi mengeluarkan air liur ketika dibunyikan lonceng walau tak ada makanan. Teori ini dikenal dengan teori behaviorisme dalam psikologi pendidikan.

 

Saya tidak dalam mengkritisi kebijakan pendidikan itu. Namun, saya perlu menyampaikan ada ancaman distorsi pendidikan dari lingkungan, diantara contohnya adalah pembodohan masal melalui sinema fiktif yang dikemas berlatar pendidikan yang saya ceritakan tadi.

 

Mungkin insan pendidikan sudah berupaya keras memikirkan pendidikan. Tapi bagaimana menghadapi lingkungan distortif seperti itu? Saya memilih mengembalikan kepada ontologi kewajiban pendidikan, darimana asal pendidikan itu berasal. Pada agama yang saya anut, Islam, Allah lah pemilik segala ilmu. Allah-lah yang akan menurunkan ilmu. Karena itulah hukum dasar Allah yang saya pilih dalam mengembalikan kewajiban pendidikan ini.

 

Dalam Al Qur-an, keluarga merupakan entitas pemilik kewajiban pelaksanaan pendidikan. Hanya karena kondisi yang berkembang saja kemudian ditunjuk satu profesi guru dan entitas khusus bernama sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan. Karena perkembangan distorsi pendidikan juga semakin kuat, maka pengembalian kewajiban kepada entitas pemiliknya menjadi sangat penting.

 

Keluarga lah tempat mendidik anak. Karena itu penting bagi orang tua berinteraksi etes to eyes, skin to skin, dan laugh to laugh. Oleh Karena itulah keluarga saya berusaha sebaik mungkin ketika sampai di rumah itu melakukan kegiatan yang sifatnya interaksi langsung. Ini pendidikan nyata. Bukan fiktif belaka seperti di karangan cerita. Mungkin suatu saat nanti, anak-anak saya baru menyadari, seperti halnya saya menyadari bagaimana ibu berinteraksi dengan guru saya, bahwa pendidikan itu bukan hanya di sekolah. Tetapi justru yang utama adalah di rumah.

 

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016

Dari seorang lulusan Manajemen Pendidikan UM 2015

 

*Dibuat selama mengantri di Kantor Imigrasi Depok dan perjalanan KRL Depok-Karet.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: