Trickle down effect (Pegawai) Pajak

Published April 25, 2016 by pembawacerita

Ketika kita berbicara tentang trickle down effect, kita akan diingatkan pada suatu teori ekonomi bahwa kemakmuran orang kaya memiliki dampak ikutan yaitu menyejahterakan kalangan bawah. Saya melihat teori ini dilandasi oleh sifat dasar manusia yang tidak dapat hidup sendiri karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial. Selain itu, manusia memiliki kecenderungan konsumtif atas apa yang mereka miliki. Namun, perkembangan teori ini diidentikkan dengan pendekatan kapitalisme karena tidak sedikit persepsi yang terbentuk seperti lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”.

Sudah cukup sampai disini saja pembukaannya. Saya tidak dalam rencana membuat artikel perkuliahan ekonomi. Saya hanya ingin sharing pengalaman tentang trickle down effect pada diri saya sendiri. Dan saya sengaja memililih judul trickle down effect ini dihubungkan dengan pegawai pajak. Bukan tanpa sebab. Saya masih meyakini sebagai mantan calon pegawai pajak. Saya adalah lulusan STAN yang tidak jadi memilih Direktorat Jenderal Pajak sebagai tempat saya bekerja.

Setelah lulus STAN, saya memilih untuk masuk ke BPK. Instansi yang tidak banyak dipilih saat itu. Salah satu sebabnya adalah faktor take home pay pegawai BPK yang rendah. Namun entah petunjuk Tuhan atau kah keinginan pribadi, saya nyaris tak bisa membedakan, saya justru memilih instansi itu.

Pada awal di BPK, saya mengalami kesulitan finansial karena gengsi. Saya sudah lulus kuliah, pantang untuk minta kepada orang tua lagi. Malu rasanya. Oleh karena itu, saya berusaha untuk menyembunyikan segala kebutuhan hidup saya dari orang tua. Akibatnya, saya harus bersusah-susah menghemat honor sebagai anak magang di BPK.

Ketika sudah diangkat menjadi CPNS pun, take home pay dari BPK persis hanya bisa mencukupi untuk saya hidup tak meminta-minta. Hingga suatu ketika muncul keinginan menggebu-gebu untuk melanjutkan kuliah S1. Saya mencari informasi perguruan tinggi. Bukan bonafide atau kualitas perguruan tingginya yang saya cari. Tapi perguruan tinggi yang cara membayarnya memudahkan saya. Akhirnya ketemulah saya dengan pilihan Universitas Mercu Buana. Biaya kuliah relatif bisa diangsur tiap bulan. Ini yang tidak mengganggu cach flow pribadi saya.

Namun, saya ragu apakah saya bisa masuk ke S1 Akuntansi UMB? Saat itu biaya ujian masuk dan sebagainya menuntut saya untuk memiliki uang Rp1,5 juta. Dan saya tidak punya uang sebesar itu. Hingga seorang sahabat luar biasa, saya sebut saja namanya, Yulianto Teguh Nugroho, meyakinkan saya. Jika mau kuliah, kuliah saja. Biaya bisa menggunakan dana angkatan.

Angkatan kami memiliki dana angkatan untuk mengurus berbagai administrasi kepegawaian seluruh kawan seangkatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kebetulan sebelum saya definitif masuk BPK, saya dipercaya kawan-kawan untuk menjadi Bendahara Angkatan. Jadi saya yang memegang dana angkatan kami. Nah, Yulianto menyarankan saya untuk memakai dana angkatan itu. Nanti setelah punya uang baru saya kembalikan ke dana angkatan lagi.

Saya menerima dengan senang hati usulan Yulianto. Saya sampaikan juga ke beberapa kawan pajak saya. Mereka tidak keberatan. Mereka justru mendukung saya untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya, saya memakai dana angkatan itu untuk pendaftaran kuliah di UMB.

Pada mulanya, saya memperkirakan bisa mengembalikan uang Rp1,5 juta itu dalam waktu cepat. Tapi ternyata saya salah. Kuliah membutuhkan banyak pengeluaran. Termauk diantaranya adalah belanja buku. Maklum, selama saya kuliah di STAN, belanja buku saya sangat sedikit karena literatur utama sudah disediakan kampus. Wal hasil, saya tidak bisa mengembalikan dana angkatan dalam waktu cepat.

Setelah hampir satu semester, saya baru bisa mengumpulkan uang Rp1,5 juta. Kemudian saya sampaikan uang itu ke kawan-kawan pajak saya. Kebetulan saat itu kami semua sedang ada acara futsal bareng. Kemudian dengan santainya mereka berkelakar, “Oalah Wip, uang cuma segitu aja kamu balikin. Wis kami ikhlas kok”. Sekali lagi, ini nadanya berkelakar ya. Bukan sombong. Saya memahami itu. Lagipula saat itu kawan-kawan saya baru saja dapat rapelan yang nilainya tidak sedikit. Jadi wajar kalau nilai Rp1,5 juta itu mau diikhlaskan karena tidak material. Tapi lagi-lagi saya gengsi. Malu jika tidak mengembalikan. Akhirnya saya serahkan kembali uang angkatan Rp1,5 juta itu kepada kawan-kawan saya.

Cerita ini hanya skelumit kisah saja. Bahwa trickle down effect itu bukan permasalahan kapitalis, sosialis, atau paradigma ekonomi jumud yang justru memecah persatuan dan persaudaraan. Dari kisah itu pula saya belajar bahwa trickle down effect itu terasa benar bagi saya yang posisinya lebih miskin daripada kawan-kawan saya di Pajak. Apakah saya iri? Justru pengalaman trickle down effect ini yang meyakinkan saya bahwa saya memiliki banyak kawan-kawan di Direktorat Jenderal Pajak yang baik dan suka berbagi.

Menurut saya, permasalahan utamanya bukan pada paradigma trickle down effect-nya, tapi manusia yang memandangnya. Jika kita memandang, trickledown effect merupakan salah satu bentuk keberkahan rejeki, maka itu pula yang kita dapatkan. Perseis seperti kisah saya itu. Namun jika ada orang yang melihat trickle down effect itu hanya hipokrisi, mungkin orang itu kurang piknik. Dia mungkin tidak memiliki kawan-kawan dekat dan baik hatinya. Dia mungkin terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan memandang dunia ini sangat sempit. Kasihan yaa orang seperti itu.

Karena itulah saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang meratapi take home pay dari kantor-nya yang dianggapnya tidak banyak. Dia kemudian membanding-bandingkan dengan kantor lain ibarat melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput halamannya. Dia mungkin juga menghina, menyalahkan, dan menebar sakit hati dengan instansi lain hanya karena perbedaan take home pay. Sudah lah, hidup ini indah dan Tuhan itu Maha Kaya. Tidak mungkin Tuhan menciptakan kita, makhluk yang paling sempurna dari makhluk yang lain ini dengan beban hidup yang harus diratapi apalagi dicaci maki.

Pada akhir cerita ini, saya ingat kata-kata indah dari Imam Hasan Al Bashri….“Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, kerana itulah hati-ku selalu tenang”.

 

Ditulis ditengah keresahan dan dalam rangka rehat dari penyusunan “Transparansi Fiskal” @CrownePlazaHotel 25.04.2016

 

One comment on “Trickle down effect (Pegawai) Pajak

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: