Kekayaan Tanpa Keberkahan

Published Februari 26, 2016 by pembawacerita

Alhamdulillah pagi ini hujan di Depok. Alhamdulillah lagi, hujan reda ketika saya berangkat kerja. Seperti biasa ketika hujan, pertigaan GDC selalu macet. Istri dan sekaligus ojek cinta saya bertanya “kenapa kalau hujan selalu macet di sini ya, bi?”

Pasti ada genangan air di jalan. Dan sekecil apapun genangan berdampak pada pengendara akan mengurangi kecepatannya. Sebab lain, hujan menjadi alasan orang yang memiliki mobil untuk mengeluarkan mobilnya, baik untuk bekerja atau pun hanya mengantar anggota keluarganya ke kantor, stasiun, atau ke sekolah.

Kemacetan semakin parah di jalan akses Stasiun Depok. Ratusan motor dan pejalan kaki mengantri. Saya melihat di depan ada mobil ikut mengantri juga.

Saya menghentikan motor di ujung jalan dan istri saya kembali tanpa sampai di depan stasiun. Saya kemudian berjalan menuju stasiun. Jalan akses yang lebarnya pas untuk dua mobil itu sangan sesak. Terlihat tidak ada selusin mobil di depan. Saya memutuskan untuk memberi pelajaran kepada mereka.

Saya mempercepat langkah. Ketika berpapasan dengan mobil, saya berhenti di depannya dan saya lihat muka pengemudinya. Saya menyusup diantara celah dua mobil yang berpapasan. Alhamdulillah badan saya muat. Saya pukul kedua mobil itu. Sejauh itu tak ada respon. Kedua pengemudi tetap di dalam mobil.

Demikian seterusnya, saya memukul mobil-mobil di jalan akses Stasiun Depok. Sesekali terdengar suara pejalan kali, “yang lebih keras pak”. Tapi tak mungkin lebih keras lagi. Saya lebih sayang tangan saya daripada body mobil orang lain. Lagi pula tujuan saya hanya untuk memberi pelajaran, bukan untum merusak.

Hingga sampai ujung jalan di depan stasiun, saya pukul dua mobil yang berpapasan. Salah satu pengemudinya membuka kaca dan berteriak keras, “Woeiy, mas! Jangan pukul-pukul mobil dong! Saya juga tak mau ada di sini!”. Awalnya tak saya hiraukan. Dia tetap berteriak-teriak. “Woeiy! Woeiy!”. Saya pandang dia, “Lo tu biangnya macet!”. Lantas saya bergegas masuk stasiun.
Saya tak tahu apa yang dia lakukan kemudian. Yang jelas dia tak mungkin mengejar saya. Bagaimana mungkin, keluar mobil saja tak mungkin karena begitu sesaknya jalan.

Lagi, saya tidak melihat dari sisi peraturan. Memang tak ada rambu mobil dilarang masuk ke jalan akses stasiun. Tapi ini masalah rasa hati.

Rasa yang peka dengan kondisi di sekitarnya. Semua juga tahu hujan baru saja reda. Semua pengguna moda transportasi KRL juga tak ingin kehujanan sebelum berangkat kerja. Semuanya sama.

Pembedannya adalah oknum yang tak ada selusin orang membawa mobil masuk ke jalan akses stasiun. Benar mereka memiliki kekayaan berupa mobil. Beberapa bahkan mobil mahal dan berkelas. Tapi keberadaan mobil yang tak sampai selusin itu menghambat perjalanan ratusan orang yang sama-sama ingin mencari nafkah untuk keluarganya.

Saya meragukan kejernihan pikiran dan perasaan oknum-oknum itu. Semua tahu kalau naik mobil akan terhindar dari hujan. Tapi oknum-oknum ini pemalas. Tak mau mencari cara bagaimana terhindar dari basah air hujan tanpa menyusahkan orang banyak. Sebenarnya kalau rasa mereka masih jernih dan pikiran mereka masih waras, mereka bisa mencari cara sederhana. Misalnya oknum pengemudi mengantar sampai ujung depan jalan akses, kemudian yang diantarkan jalan berlindung payung atau jas hujan menuju stasiun. Mereka mampu membeli mobil,sehingga saya yakin mereka mampu juga membeli payung. Ini memang bukan alasan kemampuan, tapi kemauan. Mereka malas untuk berjalan. Ini bahasa halus kalau mereka tak mau dibilang lumpuh kemauan kakinya.

Benar mereka punya mobil sebagai kekayaan mereka. Tapi melihat fenomena egosentris seperti itu, saya percaya kekayaan yang mereka miliki itu tidak membawa keberkahan. Kekayaan mereka justru mempersulit orang lain. Maka jangan kaget jika suatu saat mereka akan dipersulit kekayaannya itu. Fenomena pagi ini adalah fenomena yang menunjukkan kekayaan tanpa keberkahan. Kekayaan tanpa makna. Benar kekayaan itu ada, tetapi keberadaannya tidak membawa manfaat yang lebih besar.

Semoga saya dan keluarga terhindar dari kekayaan tanpa keberkahan.

*di dalam KRL Depok-Tanah Abang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: