Tandur dan Pengorbanan

Published Januari 28, 2016 by pembawacerita

20 tahun yang lalu,seorang bocah kecil berlari-lari di tengah sawah. Bocah berseragam putih biru itu memburu waktu agar tidak terlambat masuk kelas. Malang harinya karena mobil colt angkutannya mogok di tengah perjalanan menuju sekolahnya. Hingga bertambah kesialannya ketika kaki kecilnya terperosok ke dalam sawah karena tak berhasil menjejak sempurna di pematang sawah.

Sret…kakinya terlepas dari sepatunya saat dia berusaha mengangkat dari lumpur sawah. Sawah di depan SMP 1 Trenggalek itu memang baru “ditanduri” padi. Jadi lumpurnya masih sangat legit.

Si bocah mengambil sepatunya yang sudah berbalur lumpur. Dia tak lagi berlari. Hanya bergegas menuju parit di pinggir sawah untuk membersihkan sepatunya. Disekanya perlahan lumpur sawah di sepatunya. Tak benar-benar bersih memang. Tapi cukup lah terlihat bahwa dia pakai sepatu sekolah,bukan sepatu boot berbalur lumpur. Dia lantas memakai sepatunya. Agak risih dirasanya karena sepatunya basah sebelah. Tapi apalah makna  basah,toh dia tetap berangkat sekolah.
***
Tak dikira, alam itu mendidik manusia yang mengamati dan berinteraksi dengannya. Si bocah yang suka menyeberang sawah ketika sekolah itu hari-harinya melihat para petani “nandur” padi. Iya, orang jawa mengatakan menanam padi itu “tandur”. Dalam buku-buku pelajaran Kawruh Basa Jawa, “tandur” diartikan “nata karo mundur” (menata sambil {berjalan} mundur). Memang begitulah petani kalau menamam padi.

Si bocah belajar dari petani. Menanam padi itu pengorbanan yg luar biasa. Petani rela mengalami kemunduran. Petani rela kotor dengan lumpur. Bukan hanya sekali dua kali. Tapi sepanjang hidup tanaman padi. Dan bisa jadi sepanjang hidup petani. Ketika padi sudah tumbuh pun petani masih harus menyiangi gulma dan rerumputan. Ketika padi sudah ranum,petani harus menjaga dari gangguan burung. Sering juga si bocah kecil menarik tali-tali yang melintang di tengah sawah untuk menggerakkan orang-orangan sawah dan menimbulkan bunyi berisik agar sekawanan burung tidak terlalu khusyuk makan padi dan segera terbang.

Semua pengorbanan itu demi buliran-buliran kecil padi. Yang dimakan oleh umat manusia. Yang menjadi energi penggerak kehidupan. Yang orang Indonesia, setidaknya mayoritas, merasa belum makan kalau tidak dengan nasi. Semua pengorbanan itu demi kemanfaatan yang lebih besar. Maka belajar dari petani padi, tidak ada manfaat yang dapat diberikan tanpa pengorbanan. Maka bersiaplah untuk berkorban.

@KA Majapahit
Di tengah sawah sebelum Stasiun Cikampek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: