Smoke and Ignorance alias Asap dan Ketidakpedulian

Published Oktober 27, 2015 by pembawacerita

 

Dua sabtu lalu, 17 dan 24 Oktober 2015, terjadi kebakaran di kebun bambu yang berbatasan dengan komplek saya, Sektor Gardenia. Salah satu korbannya adalah bagian belakang rumah tetangga mengalami kerusakan. Korban itu hanya yang terlihat fisik. Korban yang tak kasat mata adalah ingatan. Sengaja saya tidak menggunakan kata trauma, agar tidak terkesan menakutkan. Warga Gardenia langsung bantu membantu untuk memadamkan api dengan menggunakan sumber daya yang ada, seperti air pam, selang air, dan ember. Beberapa saat setelah kebakaran, Pemadam kebakaran segera datang ke lokasi. Pada kejadian Sabtu pertama, 5 mobil pemadam kebakaran Pemkot Depok dikerahkan dan 2 mobil pemadam pada Sabtu keduanya.

Kejadian Sabtu kemarin itu memberikan pelajaran sekaligus empati saya dan sebagian besar warga Gardenia akan bencana asap yang melanda saudara-saudara setumpah darah di Sumatera. Saya bukan sok mewakili warga Gardenia, tapi empati itu memang ada, diantaranya telah dilakukan penggalangan dana sekaligus pembelajaran empati kepada santri-santri TPQ Raudhatul Ulum, Masjid At Taubah Gardenia​.

Kejadian itu juga memberikan pelajaran bagi saya mengenai berlakunya teori ekonomi dan politik. Kebakaran yang terjadi pada level kompleks pada mulanya menjadi tanggung jawab dan menjadi kewajiban warganya untuk memadamkan. Pada level awal ini tentu belum ada intervensi pemerintah. Dengan kata lain ada mekanisme pasar untuk mengatasi masalah yang terjadi. Representasinya adalah warga kompleks menggunakan sumberdaya pribadinya sebagai bentuk aktivitas pasar yaitu mengkonsumsi air dan mempergunakan berbagai peralatan untuk memadamkan api yang tujuan awalnya untuk menghindarkan bencana pada rumah pribadi masing-masing.

Upaya pemenuhan kebutuhan keamanan pribadi tersebut kemudian berkembang menjadi rasa solidaritas sosial. Pada level ini upaya memadamkan api bukan hanya untuk tujuan keamanan pribadi, tetapi juga keamanan warga komplek. Hal ini karena efek kebakaran bukan hanya panas api, tetapi juga asap yang tidak sehat.

Akan tetapi mekanisme pasar tersebut tidak bisa menyelesaikan permasalahan kebakaran yang terjadi. Kebutuhan keamanan yang tadinya kebutuhan pribadi, menjadi kebutuhan publik. Terminologi ini dalam teori ekonomi dikenal sebagai barang publik (public goods). Secara sederhana, barang publik adalah akumulasi atau agregat kebutuhan pribadi yang tidak bisa dipenuhi oleh individu karena telah berkembang menjadi kebutuhan umum. Dalam kondisi seperti ini, Pemerintah harus melakukan intervensi dengan menyediakan barang publik tersebut. Dalam konteks kebakaran di Gardenia kemarin, barang publik ini dimanifestasikan dengan keberadaan mobil pemadam kebakaran yang disediakan oleh Pemkot Depok.

Lantas bagaimana apabila kebakaran semakin besar sehingga seperti yang terjadi di Sumatera? Pada level Pemerintah Daerah (apalagi level swasta atau pasar) mungkin sudah tidak memiliki daya untuk memadamkan. Beberapa kawan saya berpendapat, Pemdanya kemana kok yang disalahkan selalu pemerintah pusat atau bahkan lebih spesifik adalah presiden. Pendapat itu tentu tidak keliru. Tetapi berkaca dari kejadian kebakaran di Gardenia kemarin (dan pengakuan personil pemadam kebakaran), barang publik berupa pemadam kebakaran yang disediakan pemerintah daerah tidak mencukupi untuk menyelesaikan masalah. Pada teori politik hal empiris ini menunjukkan adanya kegagalan pemerintah (government failure).

Pada kenyataannya, teori politk yaitu public choice theory telah mengevaluasi, pada kenyataannya intervensi pemerintah belum tentu berhasil untuk menutup kegagalan pasar. Browning dan Browning (1979: 270) berpendapat “The fact that the market is inefficient does not imply that government will do any better. It is always possible that government intervention will make a bad situation worse.”

Mungkin pendapat ini yang saat ini digunakan oleh pemerintah pusat. Daripada intervensi memadamkan asap di Sumatera justru membuat situasi lebih buruk, mendingan diam saja. Sengaja saya menulis ini dengan dua tujuan. Pertama, sebagai warga negara tentu boleh bagi saya untuk berpendapat secara kritis kenapa pemerintah pusat hanya diam saja atau tidak peduli atau jika ingin dikritik lebih halus adalah melakukan aktivitas yang tidak signifikan memberikan perubahan. Pada kenyataannya tidak ada perubahan signifikan dengan bencana asap di Sumatera. Bahkan beberapa informasi dari Sumatera menyatakan bahwa kondisi saat ini lebih buruk dari bencana sebelumnya. Melihat kondisi seperti itu, pemerintah pusat toh tidak mengambil kebijakan yang signifikan. Kedua, saya ingin menyampaikan kepada orang yang memiliki pandangan seperti saya bahwa pemerintah pusat yang terkesan cuek itu memiliki dasar teori. Seperti yang saya kutip di atas, “It is always possible that government intervention will make a bad situation worse“. Daripada menjadi lebih buruk, lebih baik diam saja.

Selamat pagi, selamat bekerja, selamat berkarya untuk Indonesia
Selamat Ulang Tahun ke-6 Putraku Khuzain Al Ardhi, semoga kelak kau menjadi Menteri Keuangan (sesuai dengan namamu) yang bisa memikirkan dan mengimplementasikan kebijakan agar Indonesia menjadi lebih baik. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: