Satu Kesatuan

Published Oktober 12, 2015 by pembawacerita

Pada mulanya, pembahasan mengenai berbagai jenis ilmu itu satu. Diajarkan seorang guru kepada murid atau dalam konteks penciptaan manusia Adam ditunjukkan ilmu secara langsung oleh Allah Sang Pencipta. Dalam Al Qur-an disebutkan dalam Al Baqarah ayat 31-33

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Apakah lantas kata “nama-nama” dalam terjemah ayat 31 tersebut hanya dimaknai sebagai nama saja? Tentu tidak sesederhana itu. Allah mengajarkan dalam konteks satu kesatuan yang bertahap. Mirip menyusun puzle.

***

Sama seperti audit dan akuntansi itu sebenarnya satu ilmu. Hanya untuk mempermudah pembahasannya dibagi menjadi dua mata kuliah yang berbeda. Kenapa harus dibagi? Hal ini karena pendekatan pemahaman dan praktik ilmunya berbeda. Jika akuntansi adalah proses menyusun transaksi-transaksi ekonomi menjadi laporan keuangan, maka audit adalah proses membongkar (kebalikannya menyusun) laporan keuangan agar diyakini berasal dari transaksi yang sebenarnya. Karena sifatnya yang berbeda itu maka pembahasannya juga dibedakan walaupun sebenarnya menggunakan satu teori.

Sebagai contoh, teori keagenan (agency theory) yang sering digunakan dalam literatur akuntansi dan audit. Kali ini saya akan membahas dari sisi  akuntansi dan audit saja, tidak termasuk keterkaitan teori keagenan dengan ilmu psikologi, manajemen, perilaku organisasi, dan sebagainya. Teori ini menjelaskan bahwa setiap pelaku dalam entitas akuntansi itu memiliki kesempatan yang bisa memicu tindakan oportunis yang menguntungkan dirinya sendiri. Satu entitas akuntansi itu terdiri dari agent (manajemen atau pelaku usaha) dan principal (pemberi modal usaha). Karena setiap pelaku memiliki kesempatan bertindak oportunis, maka akan ada persepsi dari agent bahwa principal itu selalu ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari hasil usaha yang dijalankan agent. Demikian pula dari sisi principal akan muncul persepsi bahwa agent akan bertindak oportunis agar mendapatkan bonus yang besar atau modal yang besar untuk menjalankan nusaha demi memperoleh keuntungan pribadi.

Dalam praktik akuntansi, teori keagenan mendasari adanya persamaan akuntansi bahwa aset merupakan jumlah dari kewajiban dan ekuitas (modal). Aset merupakan representasi manajemen yang menjalankan usaha dengan memanfaatkan aset tersebut. Kewajiban dan ekuitas (modal) merupakan cerminan kreditor (pemberi utang) dan investor (pemberi modal) yang menyediakan sumberdaya untuk memperoleh aset yang dimanfaatkan manajemen.  Dalam praktik audit, teori keagenan menjadi dasar mengapa diperlukan audit. Persepsi yang saling bertentangan antara  agent dan principal tersebut membutuhkan pihak ketiga yang bisa menengahi pertentangan. Pihak ketiga tersebut harus bisa memberikan jaminan kepada agent bahwa laporan keuangan yang disusun telah wajar sesuai dengan transaksi dan kejadian yang sebenarnya. Di lain hal, pihak ketiga juga harus meyakinkan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material  sehingga dapat digunakan principal (yaitu investor dan kreditor) untuk mengambil keputusan ekonomi.

Jadi dari penjelasan satu teori keagenan saja bisa dibahas dengan dua mata disiplin ilmu yang berbeda. Akan tetapi bukan lantas saat membahas akuntansi kemudian ilmu auditnya ditinggalkan atau diabaikan. Yang perlu dipahami adalah, kedua ilmu tersebut satu kesatuan. Jika berat untuk memahami satu kesatuan, maka kita sebut saja memiliki keterkaitan yang erat. Pembahasan pada dua disiplin ilmu tersebut hanya berbeda fokus karena sifat ilmunya yang berbeda saja.

Namun walau berbeda, sekali lagi janganlah memahaminya secara terpisah apalagi benar-benar dibedakan seolah berakar dari sumber yang berbeda. Permasalahan keagenan akan sulit dijelaskan apabila dipahami tidak dalam konteks satu kesatuan atau bahkan bisa muncul permasalahan lain yang mungkin lebih besar. Misalnya, seorang auditor menemukan ada kesalahan pencatatan akuntansi yang nilainya material dilakukan oleh manajemen. Walaupun pekerjaan audit hanya membandingkan kriteria kewajaran dengan kondisinya, maka dalam kasus salah catat tersebut tidak boleh auditor langsung menyatakan bahwa laporan keuangan yang disusun manajemen salah saji material. Padahal bisa saja manajemen salah karena tidak mengerti, lalai, atau tidak tahu bagaimana mencatat transaksi yang sebenarnya terjadi itu. Oleh karena itu, auditor harus membuka kesempatan apabila ada koreksi pencatatan (melalui jurnal koreksi) yang notabene ini merupakan ilmu akuntansi. Dengan adanya koreksi tersebut, maka laporan keuangan yang disusun oleh manajemen bisa diperbaiki dan bermanfaat bagi principal. Jadi, auditor harus memahami akuntansi disamping disiplin ilmu audit.

***

Setelah dari sisi mikro tersebut, saya mencoba untuk membawa yang lebih filosofis dan mungkin transendental. Kita mungkin sering mendengar istilah aqidah, syariat, dan akhlaq dalam agama Islam. Istilah tersebut sebenarnya berasal dari satu hadits yang fenomenal sebagai berikut.

Sahabat Abi Hurairah ra telah berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw sedang berkumpul dengan umat manusia, tiba-tiba ada seorang lelaki datang menghadap seraya bertanya: “Ya Rasulullah, apakah iman itu?” Jawab Rasulullah: “Iman adalah: percaya kepada Allah, percaya kepada para malaikat, percaya akan bertemu dengan Allah, percaya kepada utusan-utusan Allah, percaya kepada kitab-kitab Allah, percaya kepada hari akhir, dan percaya kepada qadar Allah.” Kemudian lelaki itu bertanya lagi: “Apakah Islam itu, ya Rasulallah?” Jawab Rasulullah: “Islam adalah beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat yang telah diwajibkan, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah Makkah.” Kemudian lelaki itu bertanya lagi:” Apakah ihsan itu, ya Rasulallah?” Jawab Rasulullah: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah swt seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak dapat melihat Allah, maka hendaklah sadar bahwa setiap gerak langkahmu berada dalam pengawasan Allah.” (HR. Bukhari).

Dalam rangka pembahasan ilmu yang memudahkan untuk kajian, substansi “iman” dalam hadits tersebut kemudian diletakkan sebagai kajian aqidah, selanjutnya “islam” sebagai kajian syariat, dan “ihsan” sebagai kajian akhlaq. Tetapi sekali lagi, ketiganya satu kesatuan. Dalam konteks intepretif, inilah hikmahnya Malaikat Jibril (yang didatangkan Allah berwujud lelaki itu) menanyakan ketiga substansi itu dalam satu peristiwa. Hikmah yang dapat diambil adalah para Nabi dan para sahabat yang hadir saat itu adalah mendapatkan pemahaman ketiganya secara menyeluruh satu kesatuan tanpa ada distorsi penyampaian informasi. Bayangkan jika ketiga substansi itu dijelaskan pada tiga kejadian yang berbeda. Mungkin ada sahabat yang tahu hanya satu saja, dua saja, atau tidak dalam satu kesatuan iman, islam dan ihsan. Akibatnya sangat mungkin sahabat yang tahu masalah aqidah saja dia akan mengejar mati-matian aqidah kemudian meninggalkan syariat dan akhlak karena informasi yang terputus atau berbeda kejadian. Momentum yang satu kesatuan akan terdistorsi apabila tidak disajikan dalam satu kesatuan. Itulah kebesaran Allah jika kita mau berpikir.

Konteks satu kesatuan dalam keyakinan, pemahaman, dan perbuatan menurut islam yang didasarkan dalam keterpaduan iman, islam dan ihsan ini menjadi penting agar kita tidak terjebak dalam “sekularisasi substansi”. Saat ini pembahasan mengenai masing-masing substansi memang berkembang. Bahkan ada guru atau ustadz yang spesialis pada aqidah, spesialis pada syariat, dan spesialis pada akhlaq. Proses penyampaiannya pun juga secara parsial karena contoh dan sejarah yang semakin rigid serta keterbatasan waktu penyampaian.

Dengan kondisi tersebut, proses pendidikan akan dihadapkan pada permasalahan kesenjangan bahasa dan kemampuan mencerna (atau lebih tepatnya men-sintesis-kan substansi). Kesenjangan bahasa ini akan muncul biasanya ketika seorang yang sudah mendapatkan pengalaman spiritual ingin mengungkapkan kepada audience. Ini seperti menceritakan bagaimana minum air. Sebuah dialog sederhana ini mungkin bisa menjembatani.

Murid bertanya kepada Guru, “Pak Guru sedang minum apa?”. Guru menjawab, “Air putih”. Murid melanjutkan bertanya, “air putih itu apa Pak Guru?”. Guru,” saya harus menjelaskan dengan cara seperti apa agar kamu mengetahui pengertian air?”. Murid,”coba pakai ilmu kimia saja Pak Guru”. Guru, “baik, kalo dari ilmu kimia, air itu adalah zat yang terdiri dari dua unsur, yaitu partikel hidrogen yang bersatu dengan oksigen. Paham?”. Murid,”air putih yang bapak minum rasanya bagaimana pak Guru?”. Guru,”segar”. Murid,”apakah saya boleh mendefinisikan bahwa air itu adalah zat yang ketika diminum rasanya segar, pak guru?”. Guru,”boleh. Tetapi ingat, setiap kamu membuat definisi, maka definisi itu akan berbeda dengan hakikat aslinya. Itulah mengapa tadi saya tanya kamu, dengan cara seperti apa saya harus menjelaskan”. Murid, “kok definisinya akan berbeda Pak Guru?”. Guru,”iya, karena definisimu itu nanti akan diuji, dan apabila tidak sesuai dengan kenyataannya, maka definisimu akan disalahkan.  Contohnya definisimu tentang air tadi. Jika kamu saya suguhkan jus semangka, kamu minum, lantas kamu bilang rasanya segar, apakah lantas jus semangka tadi bisa disebut air?”. Murid,”Tidak Pak Guru. Tetap jus semangka”. Guru,” Satu lagi. Kamu berikan air putih kepada temanmu. Dia meminumnya dan mengatakan rasanya hambar. Apakah definisimu  tentang air menjadi benar?”. Murid,”Tidak Pak Guru. Lantas bagaimana saya bisa memahami apa arti air itu sendiri, Pak Guru?”. Guru,”Kamu kesini coba. Ini ada air. Sentuh air itu. Cium baunya. Rasakan dengan kulitmu. Coba kamu minum. Rasakan apa yang ada dalam pikiranmu dan apa yang terlintas di hatimu”. Murid kemudian melakukan perintah Gurunya. Guru kemudian bertanya,”Jadi apa itu air?”. Murid,”Saya memiliki definisi sendiri yang sulit untuk saya ungkapkan”. Diakhir dialog, Murid masih bertanya,”Pak Guru, apakah definisi menurut bapak tadi ada kelemahannya?”. Guru,”iya ada. Coba kamu satukan hidrogen dan oksigen. Nanti yang ada adalah ledakan.”

Kira-kira seperti itulah gambaran menceritakan pengalaman. Hakikat pengalaman itu sendiri sulit untuk diterima secara langsung oleh orang yang tidak mengalaminya. Karena hanya sebatas cerita, bukan realita jadi akan sangat sulit penerima cerita akan memahami seperti orang yang telah memiliki pemahaman lebih atau yang berpengalaman.

Permasalahan proses pendidikan selanjutnya adalah kemampuan mensintesiskan atau bahasa ringannya adalah mencerna potongan-potongan ilmu dan menggabungkannya dalam satu pemahaman. Hal ini memang sangat susah. Dan hal yang paling berperan penting adalah pribadi si pembelajar, bukan gurunya.

Pada kesempatan kali ini, saya mengajak membayangkan saja, seorang yang miskin dan kekurangan harta. Bahkan untuk makan sehari tiga kali mungkin tidak mampu. Tetapi dalam kondisi seperti itu masih disuruh melihat orang yang lebih miskin lagi, mendekati orang-orang yang miskin, dan tidak boleh meminta-minta. Bagaimana jika kita seorang yang miskin itu? Apakah bisa bertahan dalam perintah dan larangan itu? Ataukah justru menyalahkan orang yang memberikan perintah dan larangan? Hal inilah butuh kecerdasan luar biasa dari si pembelajar. Karena itu pula yang dialami seorang sahabat yang miskin nan papa, Abu Dzar Al Ghifari. Inilah wasiat yang mengkombinasikan aqidah, syariat, dan akhlaq dalam satu kesatuan. Membaca kisahnya saja berat, apalagi menjalaninya sebagaimana Abu Dzar Al Ghifari meniti hidupnya.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”. (HR. Ahmad, Ath Thabarani, Baihaqi)

Jadi, saya kembali mengulang, bahwa aqidah, syariat, dan akhlaq itu satu kesatuan dalam agama Islam. Hanya pembahasan saat ta’lim, saat menuntut ilmu, atau saat membaca buku saja yang bahasannya lebih fokus pada satu hal. Jika ketiganya dipahami (apalagi dilakukan) secara parsial, justru tidak benar atau bahkan membahayakan. Sebagai contoh, ada orang yang memahami bahwa penciptaan dirinya hanya untuk beribadah sesuai dengan pemahamannya pada Surat Adz Dzariyat ayat 56 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Kemudian seseorang itu beribadah sholat, puasa, zakat, haji, saja demi mengabdi kepada Allah. Selama sudah melakukan ibadah itu sudah cukup, tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya, berhubungan baik dengan tetangganya, merasa benar dengan apa yang diyakininya dan menganggap orang lain salah, dan urusan akhlaq lain sebagainya. Atau sebaliknya, ada orang yang berbuat baik saja terhadap sesama, aktivis lingkungan, aktivis sosial, tetapi sholatnya ditinggalkan, puasa tak dilakukan, dan sebagainya dengan dalih yang penting akhlaq terhadap sesama adalah baik. Kedua contoh ini tidak sesuai dengan substansi satu kesatuan aqidah, syariat, dan akhlaq.

Contoh lain adalah memahami potongan ayat 45 Surat Al Ankabuut “… Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan- perbuatan keji dan mungkar…”. Memahaminya jangan hanya intinya adalah akhlaq yang tidak keji dan munkar. Ini akan mengarah pada pemahaman selama sudah tidak keji dan munkar tidak perlu sholat. Atau bukan pula jika ada seseorang yang sudah sholat tetapi masih melakukan perbuatan keji dan munkar maka orang itu dinilai percuma sholatnya.

Yang paling tepat adalah menempatkan sholat sebagai bentuk keyakinan akan Allah, menjalankan sesuai dengan syariat yang dicontohkan nabi, dan berdampak pada kebaikan akhlaqnya. Memang hal ini sangat berat. Tetapi jangan lantas ditinggalkan sholatnya ketika merasa tidak khusyuk. Semuanya butuh latihan, kekhusyukan butuh latihan, memperbaiki akhlaq pun butuh latihan, membenarkan tata cara sholat pun butuh latihan. Semua latihan itu dilakukan dalam satu bingkai ketauhidan Allah Yang Maha Esa.

Dalam konteks yang sangat ideal, kita bisa mencontoh Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sempurna yang berhasil memadukan aqidah, syariat, dan akhlaq. Al Qur-an mengabadikan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlaq yang agung (Al Qalam ayat 4). Demikian pula hadits yang diriwayatkan Aisyah bahwa Akhlaq Rasulullah adalah Al Qur-an.

Pertanyaan filosofis selanjutnya adalah, jika Muhammad  memiliki akhlaq Al Qur-an apakah lantas  Muhammad itu Al Qur-an? Tentu tidak. Maka jika dibilang Muhammad memiliki sifat ketuhanan, bukan lantas Muhammad itu Tuhan. Jika pun terlalu besar kuasa Allah sebagai Tuhan maka, sifat Allah yang ada dalam diri Nabi Muhammad SAW hanya sepercik saja. Selanjutnya apabila ditarik dalam konteks manusia biasa, sifat itu hanya sebuat titik. Karena itulah berkembang pembahasan mengenai God Spot atau partikel Tuhan. Kita sering menjumpainya dalam buku-buku kecerdasarn Spiritual, baik itu karangan Ari Ginanjar Agustian atau pun Zohar dan Marshal. Sederhananya, apabila kita manusia memiliki sifat pemaaf, bukan lantas manusia bisa mengklaim sebagai Tuhan. Tetapi sifat pemaaf itu hanya setitik dari sifat Tuhan Yang Maha Pemaaf.

Sepertinya cukup dulu bahasan kali ini…

Waktunya beribadah (dalam bentuk bekerja untuk menafkahi keluarga, menjalankan peran sosial di masyarakat dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar bagi negara)

 

*Inspirasi dari seorang guru pada Kajian Ahad Malam di Masjid At Taubah Gardenia

One comment on “Satu Kesatuan

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: