Saya dan Direktorat Jenderal Pajak (kala itu)

Published Maret 23, 2015 by pembawacerita

Saya termasuk orang yang tidak jadi masuk di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bersama 6 orang kawan saya yg lain. Kami bertujuh lulus dari spesialisasi perpajakan D3 STAN 2004 setelah senam jantung 7 kali dalam 3 tahun, tiap semester dan sidang komprehensif harus lolos dari DO. Pada umumnya lulusan spesialisasi perpajakan saat itu akan ditempatkan di DJP.
Bekerja di DJP bagi saya yang mahasiswa D3 STAN saat itu adalah impian. Pada tahun 2001 dan 2003 pernah dilakukan Lomba Pajak Naaional di STAN. Saya tergabung sebagai panitianya, bukan sebagai peserta. Saya tidak memiliki kapasitas perpajakan yang layak diadu di LPN. Tapi justru sebagai panitia, saya bisa mewawancarai beberapa pejabat, bahkan sampai Dirjen Pajak saat itu. Pengalaman itu lah yang kemudian menjadikan bekerja di DJP adalah impian saya.
Tapi pada tahun 2004, BPK meminta lulusan STAN termasuk dari spesialisasi perpajakan setelah selama 5 tahun tidak mendapatkan supply lulusan STAN. Latar belakang ini yang membuat saya berpikir waktu itu. Berpikir menemukan rasionalisasi apakah BPK menarik bagi saya. Hingga saya menemukan satu alasan idealis, yang insyaAllah masih saya pegang sampai saat ini. Saya pun memutuskan untuk bergabung di BPK dan meninggalkan mimpi bekerja di DJP.
Ketika masa-masa awal di BPK, saya di cemooh dengan berbagai pandangan. Bodoh sekali sudah akan ditempatkan di DJP kemudian memilih meninggalkannya. Apalagi DJP saat itu sedang dalam proses modernisasi. Bagi beberapa kalangan, modernisasi DJP artinya take home pay yang naik, lebih tinggi dibandingkan PNS lainnya.Orang-orang disekeliling saya, kakak kelas, famili jauh, famili deketan dikit ( :p ) dan sebagainya mencemooh saya bahkan ada yang menghujat keputusan bodoh saya. Hanya sedikit orang yang percaya dengan keputusan saya, mereka hanyalah bapak, ibu, nenek, dan mbah sumi (adik nenek) yang secara terang-terangan mendukung.
Waktu berjalan pasti, modernisasi pajak bergulir semakin masif. Kawan-kawan seangkatan saya mendapatkan rapelan take home pay yang besar. Mereka menjadi pemuda kaya mendadak saat itu. Sedangkan saya, masih tetap numpang kos di kamar adik kelas. Hingga saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S1. Keputusan yang nekad lagi. Karena saya miskin, tak punya uang, dan saya gengsi untuk menyampaikan ini kepada orang tua. Beruntung saya saat itu menjadi bendahara angkatan. Masih memegang uang Rp1,5 juta milik kawan-kawan saya yang di DJP. Saya meminjam uang itu untuk daftar kuliah. Sampai saat saya mau mengembalikan, kawan-kawan saya yang di Pajak sudah kaya dan ringan sekali mengatakan, “Aahhh Wiiip…ga usah dikembalikan, toh pengurusan pemberkasan seangkatan sudah selesai. Kawan-kawan juga sudah lupa dengan dana angkatan itu. Buat kamu saja lah itu”. “Ga lah pak, cukup pinjaman ini saya ingat seumur hidup”, nadanya seperti penuh haru, tapi kawan saya yang lain membuat kondi berbeda, “aah…gayamu Wip”, spontan kami pun tertawa.
Saya mulai menikmati ritme orang lain yang membanding-bandingkan saya yang masih miskin dengan kawan-kawan saya di pajak yang sudah kaya.  Penyesalan dan kesedihan mulai hilang, saya mulai kebal dengan cemoohan orang. Selisih take home pay saya dengan kawan-kawan di pajak saat itu memang sangat tinggi. DJP memang instansi yang take home pay-nya tertinggi saat itu. Namun demikian tidak seperti saat ini, walaupun pendapatan pegawai DJP paling tinggi saat itu, tidak lantas diberitakan hiperbolis di media, pegawai pajak kaya raya, seperti yang saya lihat akhir-akhir ini. Jaman menjadi berubah, sensitivitas orang-orang gampang meluap atas dasar kedengkian. Nyaris saya tidak menemukan pandangan media yang melihat optimisme dan kepercayaan. Disitu saya terkadang merasa sedih :p .
Sekarang ini, take home pay saya masih tetap di bawah kawan-kawan DJP saya. Tapi toh saya masih tetap enjoy, tenang, santai, menikmati, bahkan penyesalan tidak memilih DJP sudah hilang sama sekali. Saya sudah mendapatkan buah dari keputusan idealis 11 tahun silam. Saya yang saat itu mimpi menjadi pegawai DJP (bahkan pernah menuliskan “Dirjen Pajak 2024” pada salah satu foto berjas almamater) terngiang terus jargon DJP “Mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli pajak”.
Hingga muncul pertanyaan, jika semua orang yang paham pajak ada di DJP, bagaimana masyarakat bisa sadar dan peduli pajak. Dengan pertanyaan itu, saya memutuskan untuk tidak memilih DJP. Saya ingin turut mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli pajak, tetapi tidak melalui DJP.
Penugasan demi penugasan saya terima di BPK. Saya merasakan keputusan saya semakin berbuah. Temuan pemeriksaan saya tentang pajak. Bahkan kawan-kawan saya yang sama-sama memilih BPK nyaris temuan pertamanya tentang pajak. Saya tidak tahu apa yang mereka rasakan, tetapi saya sebagai lulusan D3 Perpajakan STAN 2001-2004 merasa puas.
Dari sini, saya ingin berbagi bahwa seringkali kepuasan tidak sebanding dengan jumlah uang yang kita terima. Kepuasan bagi saya adalah memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan, negara, orang lain, atau lebih kecil lagi, yaitu keluarga kita.

*catatan di tengah sawah dalam perjalanan Jakarta-Malang dengan Kereta Ekonomi Matarmaja

20 comments on “Saya dan Direktorat Jenderal Pajak (kala itu)

  • Sama banget Pak, meskipun sy di BPK-Perjuangan (baca BPKP) :p
    Waktu dapat temuan pajak dan bisa ngasih masukan ke bendahara ttg pajak itu rasanya gimana gitu. . . .

  • saya juga nggak nyesel mas, penempatan sama seperti mas…
    entah kenapa dulu waktu kuliah saya malah berpikiran sebaliknya, jangan sampai masuk pajak,,, aaah entahlah…
    yang pasti saya bersyukur dengan hidup saya sekarang…😉

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: