Jilbab, Kemerdekaan (Wanita) dan Anugerah (Lelaki)

Published Desember 27, 2014 by pembawacerita

Baru-baru ini, terjadi perdebatan seru mengenai jilbab syar’i dan tidak syar’i karena ada fenomena kabar di salah satu badan usaha ada penjaringan pegawai yang membatasi pengenaan jilbab. Dalam kabar itu ditambahkan justifikasi bahwa kriteria jilbab yang dimasukkan ke dalam kerah leher adalah bentuk larangan berjilbab secara syar’i. Kemudian berbondong-bondong orang berpro dan kontra dengan kabar itu. Pihak pro mengecam bahwa itu bentuk diskriminasi dan membagikan kabar itu di media sosial, sedangkan pihak yang kontra mengungkapkan pendapat di berbagai media dan membagikan pendapat kontra lainnya. Salah satu pendapat kontra adalah tulisan yang membandingkan seorang perempuan yang memakai jilbab panjang tetapi di foto yang lain jilbabnya dimasukkan ke dalam jas.

Apakah memang memasukkan jilbab ke dalam pakaian terluar adalah tidak syar’i? Sayangnya baik pihak pro dan kontra sangat jarang, bahkan tidak ada, yang care dengan kriteria yang ditetapkan AlQur-an. Saya mencoba berbaik sangka kepada pihak yang pro jilbab syar’i mengenai pendapat mereka bahwa jilbab syar’i adalah jilbab yang menjulur menutupi dada. Pendapat ini dibangun atas ketakwaan terhadap ayat yang sudah dikatahuinya, yaitu Surat An Nuur ayat 31 “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”. Akan tetapi perlu dipahami juga cara menyampaikan pendapat atas substansi itu sehingga tidak langsung mendapatkan pertentangan atas justifikasi ‘menutup dada’. Saya pun mencoba berbaik sangka bahwa pihak yang kontra sedang dalam proses mempelajari substansi jilbab. Sehingga dalam kondisi seperti itu, pernyataan bahwa syar’i adalah menutup dada (bukan dimasukkan ke dalam pakaian terluar) menjadi sensitif.

Ada satu substansi dasar yang menurut saya penting dalam jilbab, yaitu: “tidak memperlihatkan lekuk tubuh”. Dasarnya adalah Surat Al Ahzab ayat 59 “…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…”. Kok berbeda dengan An Nuur ayat 31 yang hanya menutup dada? Saya memahami, begitulah Al Qur-an diturunkan dengan melihat kondisi umat dan intepretasi keseluruhan atasnya akan membangun peradaban yang baik sampai kiamat kelak. Jaman dahulu, perempuan arab (yang merdeka) telah memiliki pakaian yang panjang, sebut saja gamis. Secara natural, gamis itu begitu longgar di bagian bawah. Hal inilah yang menurut saya bijak untuk memahami konteks ‘menutup dada’. Sehingga pemahaman atas konteks itu menjadi tidak bertentangan dengan ‘mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh’.

Lantas bagaimana dengan foto perempuan yang memasukkan jilbabnya ke dalam jas atau blazer? Jika melihat dari dua dasar dalam Al Qur-an itu, saya kembali pada konteks “tidak memperlihatkan lekuk tubuh”. Benar memang dimasukkan dalam jas, tetapi dapat dipastikan bahwa lekuk leher perempuan tidak terlihat, bagian dada tidak terlihat, lekuk tubuhnya tidak terlihat. Maka kondisi seperti itu dapat diibaratkan seperti ‘mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh’, bahkan bukan hanya ‘menutup dada’.

Substansi dasar menurut saya itu tadi sudah cukup untuk menggambarkan jilbab perempuan. Klausul “tidak memperlihatkan lekuk tubuh” sudah cukup untuk meniadakan makna ‘pakaian ketat’ dan ‘transparan’. Hal ini perlu menjadi pemahaman bahwa terdapat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa yang penting aurat itu tertutup, tetapi tidak memberikan batasan yang jelas akan makna tertutup. Hal itu kemudian menjadi ada yang menafsirkan yang penting tertutup walaupun pakaiannya ketat, atau asal tertutup walau dengan kain transparan.

Begitulah Tuhan memuliakan perempuan agar dia bebas merdeka, tidak terkungkung dalam incaran lelaki yang terdistorsi hati dan pikirannya. Begitulah Tuhan memuliakan perempuan agar dia terjaga dan tetap menjadi anugerah terindah bagi lelaki yang beruntung mendapatkannya. Tuhan melindungi sekaligus membebaskan perempuan dari perbudakan.

Persepsi peradaban mencatat bahwa perempuan yang tidak mengenakan jilbab diibaratkan sebagai budak. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur-an mengutip pendapat As Suddi bahwa pada malam hari beberapa orang arab (yang terdistorsi hati dan pikirannya.red) keluar untuk mencari sasaran wanita yang dapat diganggu. Ketika mereka melihat wanita yang mengenakan jilbab, mereka berkata “perempuan ini adalah perempuan yang merdeka”, sehingga mereka tidak akan mengganggunya. Akan tetapi ketika melintas perempuan yang tidak mengenakan jilbab, mereka berpendapat bahwa perempuan itu adalah budak sehingga pantas untuk diganggu atau dilecehkan.

Kemudian datang aturan Tuhan mengenai jilbab untuk merevolusi persepsi, melindungi dan membebaskan perempuan dari berbagai gangguan. Mungkin akan ada pendapat yang menyanggah pendapat yang dikutib Sayyid Quthb tersebut dengan mengatakan “ah itu kan di Arab, jaman dahulu pula”. Saya prihatin dengan pendapat ini karena tidak lahir dalam pemahaman akan universalitas akan suatu nilai kebaikan. Dari latar belakang dan usaha untuk memahami ‘pikiran Tuhan’ akan kebaikan bagi manusia, tentulah seharusnya makna kebaikan yang menyeluruh dan dapat berlaku bagi semua itu dipahami (dan diamalkan). Jadi bukan dengan mengingkarinya baik dengan pengingkaran secara lansung berupa penolakan maupun pengingkaran yang lebih halus dengan mengambil pendapat orang lain (yang mungkin dianggap ahli) atau bahkan sekedar terbersit niatan dalam hati.

Mungkin ada juga pendapat yang mengatakan bahwa yang penting dijlilbabi adalah hatinya, buat apa berjilbab jika hatinya tidak baik terhadap sesama manusia. Terkait dengan pendapat ini, saya perlu menyampaikan bahwa memakai jilbab dengan kebaikan terhadap sesama itu adalah dua lokus yang berbeda. Konteks memakai jilbab adalah bentuk kesadaran akan ketaatan terhadap aturan Tuhan sekaligus pemahaman akan kemerdekaan yang diberikan Tuhan untuk perempuan. Sifatnya sangat transenden.

Akan tetapi kebaikan terhadap manusia itu merupakan proses yang banyak sekali faktor yang mempengaruhi. Jika saya boleh berbaik sangka, mungkin orang yang dianggap tidak baik tersebut sebenarnya memiliki tujuan baik, tetapi memiliki keterbatasan untuk mengungkapkannya. Jangan kan kita sebagai manusia biasa mengalami kesulitan akan keterbatasan tersebut, Musa sebagai seorang nabi juga pernah mengalami kesulitan dan berpresepsi buruk terhadap Nabi Khidir yang melakukan beberapa kejahatan menurut Musa. Mungkin lain waktu akan saya ceritakan kisah ini. Akan tetapi saya berharap, pembaca tulisan ini akan memahami bahwa keterbatasan manusia akan mempengaruhi persepsi terhadap manusia lain.

Jikalau memang benar seseorang itu tidak baik terhadap sesama, menurut saya kurang tepat membandingkannya dengan jilbab yang dipakainya. Kebaikan itu seharusnya bertambah, bukan justru direduksi. Jika mengenakan jilbab adalah kebaikan, maka jangan direduksi kebaikan itu dengan membandingkan dengan perilakunya yang buruk. Bukan jilbabnya yang perlu diperbaiki, tetapi perilakunya yang harus diperbaiki. Dengan seperti itu, kebaikan akan bertambah. Jadi bukan kemudian berbuat baik kepada sesama, tetapi kemudian melepaskan jilbabnya. Hal itu adalah contoh kebaikan dan keburukan yang saling trade off, atau tidak ada nilai tambahnya.

Inilah saya memandang jilbab dan urgensinya. Semoga uamt Islam ini semakin kokoh dalam persatuan. Semoga Indonesia berada dalam kesejahteraan yang dianugerahkan Tuhan.

 

 

*Terjemah lengkap

Surat Al Ahzab ayat 59 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Surat AnNuur ayat 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: