Sedikit tentang Logika Profetik

Published Oktober 22, 2014 by pembawacerita

Suatu ketika saya diskusi dengan kawan saya, seorang biarawati yang saya hormat padanya, membahas rancangan seminar proposal tesis. Pada mulanya kawan saya itu ingin mengangkat topik kepemimpinan religius pada lembaga pendidikan, bahkan tiga lembaga pendidikan sekaligus, Katolik, Islam, dan Budha. Namun setelah berdiskusi dengan dosen pembingbing, ada saran tema dari dosen pembimbing, yaitu kepemimpinan profetik atau kepemimpinan kenabian. Profetik, berasal dari kata ‘prophet’ yang artinya nabi.

Teringat dengan diskusi itu, semalam saya teringat bahwa nabi saya itu cerdas, karenanya tidak salah menjadi pemimpin yang paling berpengaruh. Saya sedikit cerita tentang kecerdasannya, cerita dengan versi dan bahasa saya yang tidak letterlijk secara tekstual. Suatu ketika Sang Nabi diprotes oleh seseorang, bahwa dia seorang yang miskin sehingga tidak bisa bersedekah sebagaimana orang kaya. Kemudian Sang Nabi menjelaskan bahwa dimensi sedekah itu luas, berbuat kebaikan juga sedekah, mencegah kejahatan juga sedekah, bahkan sampai berhubungan suami istri juga mendapat pahala sedekah. Orang itu mungkin tidak sampai pemahamannya, bagaimana bisa melampiaskan nafsu kepada istri (atau suami) mendapat pahala sedekah.

Berangkat dari ketidakpahamannya, orang itu bertanya bagaimana bisa mendapatkan pahala sedekah dengan cara seperti itu. Sang Nabi kemudian balik bertanya, apakah jika seseorang melakukan melampiaskan syahwatnya kepada orang lain yang bukan pasangan sahnya itu berdosa. Saya membayangkan mungkin ketika ditanya seperti itu tidak lama berpikir untuk menjawabnya. Spontan mengangguk dan menyetujui bahwa perilaku itu adalah perilaku dosa. Kemudian Sang Nabi melanjutkan pertanyaan, bagaimana jika penyaluran syahwatnya kepada pasangan yang sah. Pertanyaan itu memang retoris, karena secara logis sudah terjawab tidak langsung melalui pertanyaan sebelumnya. Dan untuk menekankan jawaban, Sang Nabi menjelaskan bahwa aktivitas terhadap pasangan sahnya sendiri akan mendapat pahala.

Inilah logika yang dibangun Sang Nabi. Sang Nabi bisa menjelaskan dan membawakan pemahaman yang mencerahkan dengan membangun premis yang bisa dijawab audience-nya. Kemudian dari premis itu dijelaskan simpulan atas permasalahan utamanya. Persis sama dengan kisah Sang Nabi di atas yang membangun premis dan mengambil kesimpulan secara a contrario, membangun premis yang bertentangan dengan premis lain dalam mengambil kesimpulan. Inilah salah satu logika,saya menyebutnya, logika profetik.

Manusia dianugerahi kesempurnaan oleh Tuhan berupa akal, ini yang membedakan dengan hewan atau makhluk lain. Maka sudah selayaknya manusia mengoptimalkan akal dengan cara berlogika, sebagaimana Sang Nabi menyusun logika. Keterlibatan logika ini sangat diperlukan dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, ada hingar bingar kegiatan yang menarik perhatian sehingga menimbulkan keinginan untuk menghadirinya. Secara sederhanya, ketika muncul hasrat itu, akan ada pilihan turut menghadiri atau tidak menghadiri. Lantas bagaimana memutuskannya? Disinilah sangat diperlukan logika.

Logika akan menuntun pada analisis pertimbangan kebaikan dan keburukan, keuntungan dan kerugian. Walaupun memang substansi pertimbangan itu akan sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak pengalaman, pengetahuan, keyakinan, dan kepercayaan seseorang. Tapi yang pasti umum diterima adalah, setiap manusia tidak menyukai keburukan den menghindari kerugian. Maka membangun logika a contrario, dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan. Misalnya, jika kita menghadiri kegiatan yang penuh dengan kebaikan, apakah akan mendapat kebaikan, keuntungan dan manfaat. Bisa juga diperinci premis itu dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam kegiatan. Setelah itu dibangun premis yang bertentangan (a contrario) dan jika perlu mendaftar keburukannya. Dengan pertimbangan itu, tentu akan lebih mudah mengambil keputusan.

Lantas bagaimana dengan cinta? Katanya cinta itu tak ada logika. Nah menurut saya, pada cinta selalu ada logika. Cinta tanpa logika adalah buta. Ahahaa…

 

 

Malang, 22 Oktober 2014, menjelang pulang menemui cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: