Manusia Seperti Katak

Published Oktober 19, 2014 by pembawacerita

KatakKuliah hari ini bersama Prof. Iwan Tri Yuwono membahas mengenai Metode Penelitian Non-Positif. Pada suatu sesi diskusi tentang paradigma kritisisme beliau membuat metafora kritis tentang ‘kita’. Beairgini ceritanya….(deng dooong)

Ada katak dimasukkan ke dalam bejana berisi air es. Si katak berenang girang. Ketika bejana dibiarkan saja dan air es perlahan menghangan mengikuti suhu ruangan, si katak masih tetap ‘enjoy’ berenang.  Kemudian bejana dipanaskan, ditaruh kompor dibawahnya, si katak masih tetap tenang-tenang saja. Hingga akhirnya air dalam bejana mendidih. Tak lama kemudian si katak mati. Mungkin arwah si katak ini heran dan bertanya-tanya. Kenapa gerangan dia tiba-tiba tidak bergerak dan kaku lantas mati?

“Kalian tahu mengapa?”, tanya Prof Iwan. Kami sekelas terdiam. “Apakah kaliankepikiran, misalnya bertanya pada arwah katak, kenapa saat air mulai panas dia tidak meloncat keluar dari bejana saja?”. Dan kami masih terdiam. Lantas Prof Iwan menjawab sendiri pertanyaannya, “Karena katak tidak memiliki saraf yang mendeteksi panas.”

“Nah saya khawatir, ‘kita’ ini seperti katak itu. Tidak sadar dengan ancaman dari lingkungan. Tidak bisa menyelamatkan diri dari ancama lingkungan. Tahu-tahu mati”. Kami sontak tertawa. Kami paham benar, metafora sarkastis itu ditujukan bukan hanya untuk para akuntan, tapi bermakna sangat luas. Dalam paradigma kritisis untuk dunia akuntansi, konvergensi IFRS misalnya, menunjukkan bahwa ‘kita’ para akuntan di Indonesia itu seperti katak. Belum tentu IFRS itu cocok dengan tradisi dan budaya lokal Indonesia atau bahkan sangat mungkin bertentangan karena ruh yang dibangun IFRS itu lahir dari eropa.

Metafora kritis itu dibahas juga dalam diskusi kelas yang mencerminkan bahwa ’kita’ bermakna masyarakat Indonesia. ‘Kita’ tidak sadar saat ditindas berbagai pihak. Mungkin juga kita tidak sadar ditindas instutusi asing yang mengeruk kekayaan alam Indonesia. Mungkin juga ‘kita’ tidak sadar dicuci otak oleh berbagai pihak, media misalnya. Hingga tahu-tahu kita mati. Baik mati dalam ekonomi,  mati dalam kemerdekaan, mati dalam pemikiran. Semoga ‘kita’ semua waspada, dan segera menyadari, agar ‘kita’ tidak menjadi manusia seperti katak.

 

 

*Keterangan: Katak termasuk binatang poikiloterm, yaitu binatang yang tidak bisa mempertahankan suhu tubuhnya. Suhu tubuh katak mengikuti suhu lingkungan

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: