Toleransi Pluralisme pada Anak

Published Oktober 2, 2014 by pembawacerita

Abi & Zein

Saya mendapatkan kejutan saat pulang ke rumah kali ini. Kejutan yang menunjukkan betapa anak saya sudah banyak belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya. Saya mendapatkan pertanyaan dari Zein, anak saya yang pertama. “Abi, orang Kristen itu nanti masuk neraka ya?”. Pertanyaan seorang anak kecil yang secara letterlijk hanya sebatas “Yes or No Question”. Tetapi dibalik pertanyaan polos itu terkandung konsekuensi yang sangat besar dalam kehidupannya.

Tugas saya sebagai orang tua adalah menjawabnya. Tapi akan sangat fatal jika saya menjawabnya secara letterlijk pula dengan jawaban “Yes or No Answer”. Seorang anak seperti Zein, dia akan mengambil fatwa dari apa yang dilakukan dan dijawab oleh orang tuanya. Jika orangb tua seperti saya menjawab dengan “Yes or No Answer”, maka dia akan menceritakan jawaban orang tuanya itu kepada kawan-kawannya tanpa mempedulikan apa agama kawannya. Jawaban sederhana itu akan membawanya dalam keterkungkungan sosial. Kompleksitas daya nalar dan emosi anak sangat tidak sebanding jika hanya dijawab dengan kesederhanaan “Yes or No Answer”.

Saya ingin mengajarkan kepada anak saya bahwa kita hidup dalam keberagaman kepercayaan dan agama. Saya ingin kelak anak saya mengetahui sekokoh apapun agama orang tuanya, pada kenyataannya saya, abinya Zein sendiri, dalam pernah bekerja sama dan saling memberikan kepercayaan dengan seorang biarawati. Saya ingin kelak anak saya tahu, bagaimana umminya percaya kepada biarawati itu dan percaya kepada suaminya dalam bekerja sama serta bertoleransi. Saya ingin kelak anak saya tahu bahwa abinya memiliki kawan seorang biarawati yang begitu toleran ketika saya ingin menjalankan ibadah, baik itu shalat maupun mengaji misalnya.

Saya memiliki banyak cerita dan pelajaran toleransi dengan kawan saya yang biara wati itu. Salah satunya pernah suatu ketika saya menuntaskan  target One Day One Juz (ODOJ) saya sambil menunggu seorang dosen bersama kawan biarawati saya itu. “Wira, kamu rajin sekali membaca kitab suci”. “Hehe…bagi kami yang muslim, membaca kitab suci itu sama seperti mengingat Tuhan, Suster”. Hingga kami pun berdiskusi tentang kitab suci kami masing-masing. Saya menanyakan apa makna ayat dalam Kitab Perjanjian Baru, Timotius 2 Bab 3 ayat ke-16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Bagi agama Katolik, ayat itu menjadi landasan pendidikan seumur hidup. Dan sayapun menjelaskan bahwa pada Al Qur-an juga ada dasar pendidikan seumur hidup, dalam Surat Al Mujadillah ayat 11 yang artinya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Saya ingin kelak anak saya tahu dan istri saya menceritakan bentuk toleransi seperti ini.

Kembali pada pertanyaan anak saya di atas. Rupanya istri saya cerita bahwa dia juga kaget dengan perkembangan anak kami yang begitu cepat itu. Istri saya belum mampu menjawabnya karena dia begitu paham dengan konsekuensi jawaban itu bagi anak kami kedepan. Tetapi istri saya begitu cerdas (kalau tidak cerdas, tidak saya pilih jadi istri, hehehe). Dia duduk bersama dengan Zein dan menanyakan, “Mas Zein dapat pertanyaan itu dari siapa?”. Zein menjawab bahwa itu dari temannya. Kemudian istri saya menanyakan tadi bermain apa saja dengan kawannya itu. Hingga akhirnya Zein bercerita tentang permainannya dengan kawannya itu tadi. Dia untuk sementara terlupa dengan pertanyaannya.

Saya memandang strategi mengalihkan topik pembicaraan adalah strategi yang tepat bagi orang tua yang masih mencari jawaban yang tepat dan paling baik untuk anaknya. Istri saya sangat paham bahwa pertanyaan sederhana “Yes or No Question” sangat mungkin tidak tepat dijawab hanya dengan kesederhanaan “Yes or No Answer”. Dia perlu mencari jawaban yang paling tepat, cara penyampaian yang paling benar, dan mencari momentum yang paling sesuai.

Istri saya belum menceritakan kejadian itu kepada saya. Tetapi Zein, anak saya, sudah terlanjur bertanya kepada saya, dengan pertanyaan yang sama persis. Begitulah anak-anak. Dia akan terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Maka saya pun membawa Zein pada, saya menyebutnya, kronologi spiritualis. Berikut percakapan kami, percakapan spiritual seorang ayah dengan anaknya yang masih usia dini.

“Mas Zein tahu tidak, surga itu milik siapa?”

“Milik Allah laah”

“Untuk masuk ke surga, Mas Zein tahu bagaimana caranya?”

“Ya shalat, puasa, mengaji, yaa gitu abii” (begitulah anak-anak, dia ingin menyebutkan banyak, tetapi sulit baginya mengutarakan semuanya)

“Mas Zein betul, Mas Zein melakukan apa yang Allah suka. Mas Zein tahu kan apa saja yang Allah suka?”

(Zein menatap wajah saya. Dan memang saya tidak memberinya waktu banyak untuk berada dalam kondisi ‘trance’ seperti itu. Saat seperti itu adalah saat yang tepat mempraktekkan filosofi belajar behaviorisme. Hehehe…maklum, abinya Zein ini semasa mahasiswa adalah aktivis HMI yang begitu terkenal dengan proses ketuhanan melalui Nilai Dasar Perjuangan HMI)

“Allah suka dengan orang yang rajin belajar. Maka Mas Zein juga harus rajin belajar”

“Mas Zein suka belajar sama ummi kalo malam”

“Iya betul. Mas Zein juga pintar mengaji”

“Iya abi, mas Zein hari ini lulus” (lulus lembaran mengaji dan bisa melanjutkan pada lembar berikutnya di TPQ Raudhatul Ulum, Masjid At Taubah Gardenia)

“Pinter. Mas Zein juga harus rajin shalat biar Allah suka”

“Iya abi. Mas Zein juga pintar puasa ya”

“Betul. Mas Zein kemarin pintar puasa Ramadhan sebulan penuh ya”

“He-eh.” (kemudian dia mengakhiri perbincangan spiritual kami dengan wajah penuh kegembiraan)

Konon sehari kemudian, Zein berbincang dengan istri saya bahwa dia ingin ikut puasa Arafah besok. Subhanallah, Maha Suci Allah, saya sangat bersyukur ternyata dialog spiritual kami berdampak pada encouragement pada Zein. Selain itu, ini menjadi pertanda bagi saya yang artinya saya harus menyiapkan jawaban yang tepat lagi jika Zein nanti akan bertanya tentang hal-hal yang ‘khilafiyah’ (perbedaan), mengingat tahun ini terdapat perbedaan penetapan Idul Adha antara Kementerian Agama dengan PP Muhammadiyah. Sedangkan kenyataannya kami adalah kader Muhammadiyah yang berada dalam lingkungan Masjid At Taubah yang mengikuti ketetapan Kementerian Agama. Hmmm…biar saja waktu bergulir dan mengajarkan anak saya tentang toleransi atas perbedaan sehingga menjadi ‘asbabun nuzul’-sebab turunnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang kritis.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi bahwa pendidikan anak adalah sesuatu hal yang kompleks. Tidak sederhana seperti pertanyaan anak. Sangat penting menjawab pertanyaan anak melalui dialog dan diskusi spiritual. Tentu jika kita melihat cara diskusi dan dialog ini, bagi kita yang beragama Islam tentu ingat dengan diskusi-diskusi spiritual yang dilakukan oleh ayah dan anak seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Nabi Ya’qub dengan Nabi Yusuf, serta Luqman dengan anak-anaknya.

Semoga bermanfaat. Selamat berbahagia mendidik anak-anak Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: