DJERIT-KEGEMPARAN

Published Juni 25, 2014 by pembawacerita

image

Terima kasih kepada mas Fakhrudi Dahariyanto yg mengingatkanku utk membuka kembali buku ini. Salah satu artikel Soekarno itu sangat menusuk kondisi para haters dan lovers pasangan copras capres.
Soekarno mengkritisi buku Professor Treub,sang ketua perkumpulan kaum modal Belanda, “Het gist in Indie”. Soekarno,dengan penuh keberanian mengatakan isi buku itu hanyalah “djerit-kegemparan”. Soekarno menilai “Treub hanjalah mendjerit; ia hanjalah memukul kentongan”.
Menurutku, para haters dan lovers sudah kerasukan ‘arwah’ Treub. Membenci dan mencinta membabi buta. Menjelekkan tiada batas, mencintai menutup diri. Padahal yang mereka usung manusia jua, penuh cacat dan dosa.
Ada juga para pengusung dengan segala teorinya menyerang calon lain dg masa lalunya. Soekarno menuliskan tentang Treub “Ia tak mau ingat, bahwa ia sendirilah jang dengan ia punja aksi dalam tahun 1923, ikut menambah pahit dan getirnya hidupnja rakjat jang pergerakanja kini Ia kantongi itu”. Ini seperti membekap mulut sang penyerang capres lain,”lo sendiri terlibat,lo dukung capres lain,kmd lo jatuhkan capres yg ini”. Sang penyerang itu benar-benar seperti kerasukan ‘arwah Treub’.
Ada juga pendukung yg mempertanyakan kebijakan ekstra expansive budget-nya. Ini mempertanyakan dengan mengesampingkan beban masa depan. Soekarno sekali lagi mengkritik keras Treub, “Ia tidak menjebut-njebutkan tambah beratnja belasting (pajak.red), pada saat jang pentjaharian rezeki ada segetir-getirnja”. Anggaran belanja yang besar melupakan sumber dananya. Sampai kemudian menerbitkan peraturan pajak seperti PP 46 tahun 2013 tentang Pajak atas UKM yang mencederai substansi keadilan perpajakan. Rakyat akan diperas tanpa memperhatikan ‘ability to pay’.
Andai Soekarno masih hidup saat ini, mungkin akan meminta penguasa yang ada saat ini untuk mendoktrin para haters dan lovers yang menutup mata membabi buta itu dengan substansi artikel “Kearah Persatuan!”. Soekarno menulis,”Semangat Persatuan Indonesia, ialah jang menjebabkan kini tiada lagi perselisihan antara fihak kanan dan fihak kiri, tiada lagi pertengkaran antara kaum ‘sabar’ dan kaum ‘keras’, tiada lagi pertjerai-beraian antara kita dengan kita”.

Terakhir, melihat kondisi saat ini yang menunjukkan symptom haters dan lover kerasukan ‘arwah Treub’, saya akan mendoakan dan meminta pada Tuhan, agar Tuhan segera memberikan kesadaran dan mengentaskan mereka dari ‘arwah Treub yang terkutuk’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: