Refleksi Tersingkirnya Inggris dan Harapan Pilpres

Published Juni 20, 2014 by pembawacerita

Uruguay-vs-England-Wallpaper-2014Big match Piala Dunia 2014 pagi ini adalah pertandingan Inggris versus Uruguay yang dimenangkan oleh Uruguay 2-1. Satu gol Inggris dicetak oleh Wayne Rooney, striker Manchester United, sedangkan dua gol Uruguay diborong Luiz Suarez, striker Liverpool. Dua klub sepakbola tersebut merupakan klub yang sangat fenomenal. Bukan hanya di Inggris, tapi popularitasnya merambah dunia. Penggemar bola mana yang tidak tahu Manchester United, klub tiga kali juara Liga Champion Eropa yang salah satunya berhasil menjuarai treeble winner 1999, pernah dilatih oleh manager yang mendapatkan gelar kehormatan dari Ratu Elizabeth sehingga menyandang nama Sir Alex Ferguson. Dari klub itu pula mentereng para selebritis lapangan hijau seperti, Eric Cantona, David Beckham, Ryan Gigs, Cristiano Ronaldo, dan sebagainya. Demikian pula Lliverpool, klub juara Liga Champion lima kali dengan suporter fanatik yang setia menyanyikan lagu kebesaran “You’ll Never Walk Alone”. Dari Liverpool juga terlahir bintang-bintang lapangan bola seperti Robie Fowler, Michael Owen, sampai sang kapten Steven Gerard.

 

Inggris memang tempatnya klub sepakbola terkenal di dunia. Bahkan banyak investor non-Inggris yang menaruh kekayaannya di klub peserta Premier Leaguge. Lihat saja Roman Abramovich dari Rusia dengan klub Chelsea-nya. Syekh Mansour, sang Raja Minyak dari Abu Dhabi, memiliki klub Manchester City. Malcolm Glazer pengusaha Amerika Serikat yang memiliki Manchester United. Dengan dana investor asing yang melimpah ruah tersebut, klub-klub sepakbola Inggris dapat dengan mudah membeli pelatih dan pemain top papan atas. Chelsea pernah belanja besar-besaran dengan membeli Frank Lampard, Joe Cole, Arjen Robben, Andriy Shevcenko, Fernando Torres, sampai Eden Hazard. Demikian pula Manchester City menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk mendatangkan David Silva, Edin Dzeko, Kun Aguero, Yaya Toure, dan sebagainya. Tak kalah pula Manchester United yang mendatangkan bintang-bintang seperti Rio Ferdinand, Cristiano Ronaldo, Juan Mata, Chicarito, dan lain-lain. Tak kalah pula Liverpool yang pernah mendatangkan bintang Xabi Alonso, Fernando Torres, Luis Suarez, Pepe Reina, dan lain sebagainya.

 

Akan tetapi keberlimpahan uang dan kekayaan klub sepakbola Inggris ternya ta tidak sebanding dengan prestasinya di Piala Dunia 2014. Dini hari tadi dikalahkan Uruguay dan pertandingan pertama dipermalukan Italia dengan skor yang sama. Inggris harus angkat koper lebih awal karena dipastikan tidak lolos dalam fase grup. Menurut saya ada faktor kegagalan Inggris untuk mencetak pemain bintang melalui kompetisi liga domestik walau disana berkumpul para investor sepakbola. Liga Inggris lebih banyak mencetak pemain bintang dari luar Inggris.

 

Para penggemar kesebelasan Inggris boleh menyangkal pendapat saya. Tetapi coba kita lihat dari skuad Inggris di Piaa Dunia 2014. Satu contoh saja pada posisi kiper, Inggris bisa dikatakan selalu mengalami kesulitan mendapatkan kiper yang berkualitas dari dulu. Pasca pensiunnya David Seaman, Inggris hanya memiliki sedikit pilihan kiper. Bahkan pada Piala Dunia 2010 lalu, Inggris masih menggunakan David James yang berumur 39 tahun. Memang saat ini ada Joe Hart, kiper Utama Manchester City. Tapi jika dilihat kiper cadangannya Ben Foster (West Ham United) dan Fraser Forster (Celtic), cukup memberikan bukti bahwa gegap gempita liga Inggris tidak mampu melahirkan kiper timnas yang mumpuni. Lebih lanjut lagi, kekayaan melimpah klub sepakbola Inggris justru melahirkan dan mempertahankan eksistensi bintang-bintang dari luar Inggris. Nama-nama pemain sepak bola yang disebutkan di atas sebagian besar bukan berkebangsaan Inggris.

 

Dari kegagalan Inggris ini, kita tentu bisa mengambil banyak pelajaran. Kekayaan melimpah di suatu negara tidak selalu mencerminkan prestasi negara tersebut. Kekayaan klub sepakbola Inggris tidak berbanding lurus dengan prestasi timnas Inggris di berbagai kejuaraan internasional, baik itu Piala Dunia, Piala Eropa, maupun Olimpiade. Bukan hanya itu, kesenjangan regenerasi pemain sepakbola juga menjadi permasalahan karena memperkecil peluang pemilihan pemain berkualitas. Lihat saja Timnas Inggris yang masih memanggil Frank Lampard yang sudah jarang dimainkan Chelsea dan kabarnya akan hijrah ke MLS. Demikian pula Jermain Defoe dari klub Toronto yang kelas liganya masih dibawah premier league.

 

Kita bisa mengambil dua pelajaran utama dari kegagalan Inggris, yaitu: kekayaan investasi bukan jaminan prestasi; dan urgensi kaderisasi. Dua hal ini menurut saya sangat penting dipertimbangkan oleh presiden Indonesia ke depan. Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Akan tetapi seringkali para pemimpin masih membanggakan dan sangat mengharapkan investasi asing untuk mengelola kekayaan Indonesia. Berkaca dari liga Inggris, investasi asing dewasa ini tidak banyak memberikan kontribusi positif bagi negara. Demikian pula di Indonesia, investasi asing banyak mengeruk kekayaan alam Indonesia dan menyisakan sedikit saja untuk negara. Lihat saja pertambangan emas dan migas sebagai contohnya.

 

Hikmah kedua yang tak kalah penting adalah keberlanjutan visi demi kelangsungan dan kesinambungan kaderisasi. Kita harus berani mengakui bahwa para pemimpin kita, mungkin hampir disetiap level, tidak banyak yang mempertimbangkan kelanjutan visi dari pemimpin sebelumnya. Pemimpin saat ini mengubah total visi pemimpin sebelumnya. Sejarah masa kini adalah lawan sejarah masa lalu. Orde baru adalah lawan orde lama, dan orde reformasi adalah lawan orde baru. Kita hampir tidak pernah memandang suksesi kepemimpinan dan perubahan gelombang sejarah sebagai satu kesatuan peradaban besar suatu bangsa.

 

Pada pilpres mendatang, maka tidak salah jika saya mengharapkan akan terpilih pemimpin yang mampu meyakinkan rakyatnya untuk bersama-sama membangun kemandirian ekonomi dan berdaulat di negeri sendiri. Tentu tidak salah jika saya mengharapkan pemimpin yangkuat dan tidah mudah didikte kepentingan asing demi menyejahterakan rakyat Indonesia. Demikian pula dengan sustainabilitas visi dan pembangunan. Saya mengharapkan akan terpilih pemimpin yang melanjutkan keberhasilan dan memaafkan kekurangan kepemimpinan sebelumnya. Tidak salah juga jika saya mengharapkan para pendukung pasangan capres tidak saling memusuhi. Karena kita semua satu Indonesia.

 

Maka pada pagi yang indah ini, saya mengajak saudara sebangsa, yang sama-sama mencintai Indonesia, apapun latar belakangnya, apapun agama, suku dan budayanya, untuk meminta kebaikan dan petunjuk dari Tuhan. Melalui ketenangan dan kedamaian hati. Menembus dinding batas kebencian dengan mata tajam kasih sayang. Seolah jiwa mengudara melebihi angkasa yang kemudian membisikkan suara penuh pinta kepada Tuhan.

 

“Tuhan, terima kasih Kau lahirkan kami di negeri damai Indonesia. Tuhan, terima kasih Kau satukan kami dalam kecintaan untuk Indonesia betapapun keberagaman yang kami punya. Tuhan, Engkau tahu betapa kami mencintai negeri ini. Karena itu Tuhan Sang Maha Pemilik Kebesaran, anugerahkan kepada kami pemimpin yang berwibawa. Tunjukkanlah kami kepada pemimpin yang mampu menegakkan kemandirian ekonomi untuk kesejahteraan negeri ini. Tunjukkan pula kepada kami, pemimpin yang mengutamakan pendidikan demi keberlangsungan kaderisasi antar generasi bangsa. Tuhan, berikanlah keberkahan pada tiap-tiap waktu dan kehidupan guru-guru yang mendidik kami dan pemimpin-pemimpin yang telah membawa kebaikan untuk masyarakat. Ya Tuhan Sang Maha Pengampun, ampunilah dosa kami, orang tua kami, guru kami, dan pemimpin kami, sembunyikan keburukan kami semua serta hindarkan dari kekejian fitnah serta makar orang-orang yang tidak ingin melihat negeri ini sejahtera dalam Rahmat-Mu”

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: