Nongkrong dengan Prof Degeng

Published Januari 21, 2014 by pembawacerita

Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd.Sesampainya di rumah, saya merasa pengalaman ini harus segera saya tulis. Ini sangat berharga karena baru pertama kali saya ‘nongkrong’ dengan Direktur tempat saya kuliah. Ketika di STAN, saya tidak pernah ‘nongkrong’ dengan Direktur STAN, padahal 5,5 tahun saya kuliah di STAN. Pun di UMB saya belum pernah ‘nongkrong’ dengan Dekan Fakultas Ekonomi. Apalagi di UNJ melihat Direktur Pascasarjananya saja tidak pernah. Ketika di UB pernah bertemu, tapi dalam situasi formal, jadi bukan ‘nongkrong’ namanya. Pertemuan dengan pimpinan kampus pada umumnya selalu dalam suasana formal dan kaku. Namun, hari ini adalah sangat spesial karena saya ‘nongkrong’ dengan Direktur Pascasarjana UM, Prof I Nyoman Sudana Degeng, selama kurang lebih dua jam.

Peristiwa dimulai ketika saya menyebar SMS konfirmasi kuliah kepada para dosen. Tempat duduk di lobby Gedung H1 Pascasarjana UM sudah penuh diduduki para mahasiswa. Saya pun dengan santainya lesehan bersandar tiang sambil mengirim SMS. Tiba-tiba ada sosok berdiri di depan saya. Awalnya saya acuh karena hanya terlihat kakinya saja, hingga suaranya membangkitkan saya, “Nyaman sekali kamu ‘nglesot’ di situ?”. “Eh Prof Degeng, iya, ini konfirmasi kepada para dosen Prof”. “Yo wis, lanjutkan”. Prof Degeng pun mengambil tempat duduk sebelah barat lobby dan ngobrol ringan dengan para mahasiswa. Dengan canda ria hingga Prof Degeng tersedak kemudian kembali ke ruangan mengambil segelas air mineral, membawa kembali ke tempat duduk di lobby, meminumnya dan kembali ngobrol santai saja.

Melihat  suasana santai seperti itu, saya tergelitik untuk bergabung. Dan duduklah saya di samping kiri beliau. Saya tidak mengikuti obrolan dari awal, tapi saatnya untuk mendengar apa yang diobrolkan. “Lihat, orang-orang itu pada serius sekali. Hilir mudik berjalan cepat seolah terburu-buru. Hidup ini hanya sekali, santai”. Ehm…ini tidak biasa seorang akademisi pakar pendidikan bilang hidup dibawa santai begitu. “Ini lagi kamu, bawa tas dipunggung besar seperti mau naik gunung. Ini tas isinya apa kok besar banget?”. “Hehehe…ada laptop dan koreksian pekerjaan ujian mahasiswa, Prof”. “Hidup itu santai saja, ga usah bawa yang berat-berat. Saya ini lho kemana-mana ga bawa apa-apa”. Hmm…iya ditaruh di mobil dan diruangan, begitu batin saya. “Santai duduk begini ngobrol sama kalian, rejeki datang sendiri”. Wuuts…tiba-tiba masuk ke substansi rejeki ini. Obrolan terhenti, Prof Degeng menerima telepon.

“Kamu tahu ini telepon ke berapa yang saya terima sejak kita duduk di sini?”. “Ga ngitung Prof”, respon mahasiswi di samping kanan beliau. “Ini telepon ketiga yang minta saya mengisi seminar. Nah, bener kan kata saya. Rejeki itu mencari kita. Bukan kita yang mencari rejeki”. Spontan saya komentar,”Kalau tiga puluh tahun yang lalu apakah juga seperti ini Prof?”. “Lah, saya seumuran kalian sudah sering mengisi acara dan seminar. Kalau ga percaya kamu tanya Mujito”. (Pak Mujito AK, Direktur Pendidikan Khusus. Sabelum ngobrol santai ini saya memang menghadap Prof Degeng menyampaikan salam Pak Mujito kepada beliau). “Wah, kalau memang sejarahnya seperti itu, saya mengakui Prof, kami kalah start apalagi pengalaman”.

“Nah, saya suka melihat anak-anak sekarang itu. Kalian itu seperti makhluk asing bagi kami. Ini contohnya kamu. Kuliah seperti ke mall, tasmu ini isinya apa?”. Tanya beliau ke mahasiswi di sebelahnya. “Ya buku Prof”. “Tuh, yang satu seperti mau ke mall, yang satunya lagi seperti mau naik gunung (maksudnya saya itu.red)”. “Jarang diantara kalian yang kelihatan seperti mau kuliah”. “Lho kalo kuliah memangnya bagaimana Prof?”, tanya saya. “Kalau saya dulu, kuliah itu tasnya ditenteng, koper. Kemudian tangan satunya masih membawa buku-buku lagi yang banyak”. Dalam hati saya, “Heh…ini yang dibilang hidup santai?”.

“Lihat, mana ada mahasiswa yang seperti jaman saya dulu. Nah itu (mahasiswa didepan kami.red) seperti tukang kredit, tasnya kecil dicangklong disamping. Satunya lagi, bawa map seperti melamar kerja. Ga ada tampilan mahasiswanya”. Kami terkekeh. “Prof, sekarang tukang kredit itu dandanannya tidak seperti itu Prof. Tapi pakai dasi. Necis”. Lagi-lagi kami terkekeh. “Prof, saya jadi ingat bapak. Bapak itu kalau mau cerita, dapat satu dua kalimat sudah dipotong adik saya. ‘Bapak itu nanti mau bilang ‘kalo bapak dulu’ gitu lho’. Begitu, Prof”. “Hehehe…”, Prof Degeng terkekeh dan tersenyum lebar. “Memang jamannya sudah berganti. Dan kami ini suka jika menceritakan pengalaman kami dulu. Tapi benar memang, jaman saya kuliah itu bukunya banyak yang dibawa”. Eh…kembali ke topik buku ini bapak. Saya mencoba membela diri,”Di laptop saya ini juga banyak text book kok Prof. Lebih banyak bahkan, karena bentuknya softcopy”. “Ah, kalian ini sama saja. Membawa buku itu ditunjukkan, lha ini kalian malah dimasukkan ke dalam tas, dalam laptop lagi”. “Apakah dulu membawa buku itu suatu dignity begitu Prof?”, tanya saya. Manggut-manggut, “Iya. Mungkin”. Tiba-tiba menerima telepon. “Tuh kan benar saya bilang. Rejeki itu tak usah dicari, apalagi dikejar. Capek kita nanti. Ga bisa santai begini. Rejeki itu yang cari kita”. Beeeuuh…lagi-lagi ini bapak.

Namun kemudian Prof Degeng mengakui, “Tapi memang jaman kita berbeda. Saya dulu membuat tugas kuliah itu ya membuat skrip dulu. Setelah itu diketik”. “Thesisnya dulu diketik pakai mesin ketik juga Prof?”, tanya mahasiswa disamping Prof Degeng. “Disertasi saya juga masih pakai mesin ketik. Bayangkan, kalau ada revisi, itu kami harus ketik ulang. Itulah makanya kami ingat betul isi disertasi kami. Bukan hanya ingat, hafal kata-katanya bahkan”. Ooh…itu mungkin Prof Degeng mengajak kami mengamati para mahasiswa hilir mudik untuk dibandingkan dengan mahasiswa jaman beliau, batin saya begitu. “Sekarang ini, anak-anak saya contohnya, membuat tugas kuliah itu langsung diketik di komputer. Tidak memakai skrip dulu. Kalau ditanya kok ga pakai skrip. Jawabnya, ah papa jadul banget. Diketik langsung itu lebih cepet Pap”. Hahaha…kami tertawa. Bener…bener itu Prof. Kalau revisi pun tak perlu ketik ulang.

“Saya ingat betul tahun 1986, pertama kali saya ke Amerika. Disana saya belajar komputer. Setelah kembali ke Indonesia, ya ga berguna. Wong komputernya tidak ada”. Lagi-lagi kami tertawa. “Prof, kita memang beda generasi. Persis seperti IT itu, Prof. Prof Degeng sekarang memahami komputer karena Prof Degeng mengalami perubahan jaman. Dulu tidak ada komputer, sekarang ada komputer sehingga Prof Degeng mempelajari komputer. Generasi Prof Degeng itu kami sebut IT imigrant, memahami IT karena dituntut perubahan jaman. Tapi kami Prof,anak Prof Degeng, saya, para mahasiswa, itu adalah native IT. Kami memahami komputer karena sekarang memang sudah jamannya”, saya berbicara agak panjang kali ini. Prof Degeng tersenyum. “Walaupun kalian suka membaca softcopy di komputer, tapi kalau saya tetap lebih nyaman jika di-print”. “Kalau boleh tahu, mengoreksi tugas mahasiswa begitu juga kan Prof?”. “Iya”. “Kalau saya, dan mungkin kami generasi muda ini, termasuk anak Prof Degeng mungkin, lebih suka mengoreksi langsung di komputer”. Mahasiswi di sebelah Prof Degeng mengiyakan. “Iya. Anak saya juga begitu”, sahut Prof Degeng.

Tiba-tiba datang seorang dosen dengan tas tergantung di pundak kiri dan tangan kanannya memeluk setumpuk tugas mahasiswa. “Naa…begini seharusnya mahasiswa itu. Ya kan Pak Haris. Ini saya bilang ke anak-anak ini lho. Seharusnya mahasiswa itu bukunya banyak kayak kita dulu ya. Itu kan artinya generasi kami lebih joz daripada generasi kalian”, sambil mengacungkan jempol. Ehh….ini profesor provokatif sekali. Yah, tetapi secara pribadi saya mengakui, buku yang saya baca kurang banyak jika dibanding dengan gambaran yang diceritakan Prof Degeng.

Setelah dosen itu meninggalkan kami saya membuka pertanyaan,”Prof, tugas-tugas yang dibawa Pak Haris tadi tugas mahasiswa kan?”. “Iya”. “Itu artinya tugasnya dikerjakan di komputer kemudian di-print”. Prof Degeng mengangguk. “Itulah ciri IT imigrant, Prof. Benar memang tugas dikerjakan dengan memanfaatkan teknologi. Tetapi hasilnya tetap di cetak kertas. Manual”. Prof Degeng terdiam, serius sepertinya. “Kalau saya memilih Prof, tugas tadi file-nya dikirim lewat email. Saya bisa bukan kapan saja, dimana saja, dengan tab atau laptop. Nah, inilah kami, Prof. Native IT”. Prof Degeng manggut-manggut.

“Terus kenapa ini model tas kalian begini. Kamu pake ransel seperti naik gunung. Kalau saya dulu pakai koper dan dijinjing”. “Hehehe…Ransel ini sudah seimbang di punggung, Prof. Saya baru sadar Prof, kenapa Prof Degeng suka membawa buku-buku berat diluar tas. Karena tasnya dijinjing sebelah kiri, itu kan tidak seimbang, jadi perlu pemberat di sebelah kanan. Naah…buku-buku itu gunanya untuk menyeimbangkan”, saya berdiri dan mempraktekkan setiap gerakan. Prof Degeng pun tertawa.

“Hahaha…yayaya. Sekarang generasi kalian memang sudah berbeda. Itulah makanya saya suka mengamati kalian. Karena kalian itu menarik. Seperti makhluk asing yang bukan dari jaman kami”. Adzan Asar berkumandang, dan saya pun pamitan mengakhiri ‘tongkrongan’.

One comment on “Nongkrong dengan Prof Degeng

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: