Hidup Tak Takut Mati

Published Oktober 19, 2013 by pembawacerita

Begitu sepertinya hikmah AlQur-an menyatakan pembunuhan karakter itu lebih kejam daripada pembunuhan nyawa. Jika nyawa melayang, selesai penderitaan dunia. Namun jika karakter dihinakan, penderitaan dunia semakin menimpa. Apakah lantas takut dg keduanya?
Saya lebih memilih jargon Pondok Gontor “Hidup tak takut mati. Takut mati, jangan hidup. Takut hidup, mati saja”. Dan akan menanamkan keberanian ini pada keluarga saya.

Saya membuat status seperti itu di facebook. Ini karena kegelisahan yang menemani kesendirian saya di rumah ini. Gelisah karena begitu sulitnya menegakkan kepercayaan ditengah dunia penuh fitnah. Siapa yang sekuat Yusuf as saat ini? Yang dalam badai fitnah mampu bertahan sendirian kecuali hanya dengan Tuhan. Itu saja yang menenangkan hatinya.
Saya ingin sekali menyampaikan rasa percaya ini. Tapi tidak sekedar percaya begitu saja. Saya akan memberikannya sepenuhnya, dengan syarat ada bingkai transendental dalam kepercayaan itu. Karena dengan bingkai itu, akan menguatkan intuisi altruistik saya, walau bahkan saya adalah orang yang paling akhir mempertahankan kepercayaan ketika semua orang tidak percaya lagi.

*sebuah pesan, yang saya tak tahu bagaimana menyampaikan padanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: