Catatan Kependudukan dan Perlindungan Terhadap Perempuan

Published Oktober 14, 2013 by pembawacerita

Saya belum pernah menjumpai manajemen sekompleks jaman Umar bin Khaththab. Jika manajemen diterjemahkan sebagai proses planning, organizing, actuating dan controlling untuk mencapai tujuan, maka aktivitas yang melibatkan seluruh unsur kemanusiaan ada pada jaman Umar bin Khaththab.
Salah satu yang menarik adalah manajemen kependudukan. Khalifah Umar bin Khaththab mewajibkan kepada setiap laki-laki tanpa uzur untuk berjihad, berperang demi kejayaan Islam. Dampak ketika laki-laki berperang, maka keluarga yang ditinggalkan butuh nafkah yang harus dicukupi. Maka kewajiban memberi nafkah itu yang kemudian diambil alih Pemerintah. Sepanjang sejarah yang saya tahu, tidak ada satu perempuan atau anggota keluarga yang protes karena jatah nafkah terlambat atau tidak disampaikan.
Perlu dipahami juga, Umar bin Khaththab tidak mungkin membatasi poligami. Jadi satu laki-laki yang turut berperang bisa meninggalkan lebih dari satu istri. Namun kesemua istri-istri itu dicukupi nafkahnya oleh Pemerintah. Hal ini menunjukkan betapa Pemerintah memiliki catatan detil mengenai keluarga penduduknya. Pada jaman Khalifah Umar tidak ada istilah nikah siri, nikah yang menurut agama sah tapi tidak dicatat dalam dokumen kependudukan. Karena itulah perlindungan terhadap perempuan tegak diatas hukum negara dan hukum agama. Khalifah Umar bukan hanya menginfiltrasikan substansi moral-hubungan kemanusiaan dalam manajemen pemerintahannya, lebih dari itu, substansi transenden-keilahiyahan tidak luput dari setiap segi kehidupan.
Beda sekali dengan cara Pemerintah Indonesia mencatat dokumen kependudukannya. Ada pelarangan poligami sehingga memunculkan terminologi nikah siri. Padahal negeri ini berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun aturannya mereduksi makna transendensi. Maka wajar jika ada rakyat yang tak takut dengan Pemerintahnya. Rakyat lebih takut kepada Tuhan. Dan ketika aturan Pemerintah tidak sesuai dengan aturan Tuhan, maka berdampak pada cara mengakali aturan itu.
Wal hasil, muncullah praktek nikah siri. Lebih lanjut, karena catatan nikah siri tidak ada di Pemerintah, maka tidak ada perlindungan kepada keluarga nikah siri, yaitu istri siri dan anaknya.
Islam itu rahmatal lil ‘alamin. Hanya saja manusia (termasuk yang mengaku Islam) banyak yang tidak memahaminya. Tidak mau mengambil pelajaran dari sejarah yang ada.

*Ditulis ditengah sawah Brebes-Cirebon @Kereta Api Matarmaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: