Bergabung Dalam Barisan Dakwah

Published Agustus 13, 2013 by pembawacerita

Negeri ini sedang mengalami masa-masa sulit. Hampir lini-lini sumber daya manusianya tidak berdiri berkesinambungan. Para tetuanya merasa memiliki pengalaman dan modal harta yang berlimpah. Disisi lain para pemudanya menganggap mereka lemah, lambat dan tak berdaya. Para pemudanya merasa memiliki idealisme tinggi, merasa paling benar, dan gemar mengevaluasi dalam kritik yang berlebihan. Disisi lain para tetua menganggap pemudanya banyak bicara tanpa tindakan nyata, banyak konsepsi tanpa aksi, dan geraknya pragmatis- idealisme semu dengan misi mencari untung.

Jurang pemisah antara kaum punya dan kaum papa begitu dalam. Para hartawan tidak mengasihi kaum marginal. Para fakir hilang kesabaran dan kepedulian. Pemimpin tidak amanah. Pun pemberi amanah asal-asalan memilih pemimpin. Ada pula yang pasrah, menutup mata terserah apa yang ada. Inilah episode krisis kepercayaan.

Begitulah jika dunia terpisah dengan akhirat. Semuanya berpikir egois. Terserah masing-masing dengan dalih itu masalah pribadi. Padahal pasti semua merasakan bahwa dunia bukan miliknya semata, pun surga tidak dihuni sendirian saja. Sejatinya kita bersama hidup di dunia dan bersama ingin menikmati surga.

Bagaimana merubahnya? Satu-dan bukan satu-satunya-adalah bergabung dalam barisan dakwah. Bukan dakwah yang mengemis menghiba kehadiran kita. Tapi kita butuh barisan dakwah.

Barisan dari mana? Dari pusat dakwah yang paling dekat dengan kita. Pendek cerita, masjid. Disitulah tempat menyelesaikan masalah umat. Karena ditempat itu begitu dekat antara langit dan bumi. Permasalahan dibumi bisa diselesaikan dengan cara langitan. Oleh karena itu, sangat tidak bijak jika hanya memandang masjid sebagai “tempat sujud”, tempat beribadah semata. Padahal di masjid pula muammalah dirajut penuh berkah.

Saya ingin menyampaikan betapa hidup saya begitu bergantung dengan masjid. Bukan untuk riya’ apalagi sombong. Jika tidak ada ayat dakwah dan ayat fastabiqul khoyrot tentu saya tidak akan cerita. Tentu saya akan egois menikmatinya sendiri. Tapi bukan begitu kenyataannya. Ada ayat dakwah dan ada ayat berlomba dalam kebaikan. Jika tiap cerita dianggap riya’ tentulah tak ada hikmah dalam kehidupan ini.

Awal setelah menikah, saya dan istri mencari kontrakan rumah. Alhamdulillah solusinya ketemu bukan melalui rencana matang yang sudah dipikirkan. Solusi langitan justru turun di Masjid AtTaubah, Gardenia. Pun ketika sedang goyah terancam tak punya tempat tinggal, karena perjanjian jual beli rumah dibatalkan, bulir-bulir air mata di Masjid AtTaubah kembali membawa solusi langitan. Sebuah rumah yang indah dan nyaman lengkap dengan tetangga yang sangat baik.

Awal ketika bekerja, tak ada pekerjaan yang butuh perhatian tinggi. Setara dengan honor yang tak seberapa. Semua tugas tuntas dalam waktu tak lama. Selebihnya hening, dalam tidur dan dalam kesejukan menghamba melalui Masjid Baitul Hasib. Melalui masjid ini, tugas penting datang menghampiri. Pun melalui masjid ini, terhindar dari kepemimpinan yang keji.

Pun ketika pekerjaan tak ada habisnya, waktu berlalu begitu cepat seperti tak ada jeda, datang pagi tak sadar malam telah tiba, hampir semua konsentrasi tersita. Ternyata itu semua ada jalan pintasnya. Jalan pintas yang tak diduga, datang begitu saja, bak turun dari langit dengan tiba-tiba. Masjid Baitul Ihsan, Masjid Al Amin, Masjid Al Amanah, Masjid Salahuddin menjadi saksinya.

Apa yang dilakukan disana? Idealnya beribadah dan bermuammalah. Tapi memang menjalankan keduanya secara simultan itu tidak mudah. Jika memang sulit, pilih saja salah satunya.

Jika lebih suka ibadah, ya ibadah saja. Nanti segenap sel dalam tubuh akan sepakat, “kami lelah”. Tak apa, nanti akan muncul hasrat ibadah dalam bentuk dakwah. Misalnya sibuk sholat sunnah, tilawah, dzikrullah sampai terdengar “kami lelah”, maka akan menjelang waktu adzan dan iqomah. Jika sudah seperti itu, jangan ditahan hasrat untuk menjadi muadzin dadakan. Hasrat itu bukan semata ibadah pribadi, tapi juga dakwah mengajak orang lain untuk sholat dan beribadah.

Jika lebih suka bermuammalah, ya bermuammalah saja. Nanti akan muncul rasa “saya bosan”. Tak apa, nanti akan lahir hasrat ibadah. Segenap muammalah dengan pecinta masjid itu akan menunjukkan jalan ibadah itu. Misalnya ngobrol dengan sesama pecinta masjid sampai bosan, membersihkan lingkungan masjid sampai bosan, nanti akan tiba amanah untuk memimpin ibadah. Jangan kaget jika tiba-tiba diminta jadi imam sholat atau ketua panitia zakat. Nah, itulah namanya bertemu ibadah.

Begitulah barisan dakwah dibangun melalui masjid. Barisan dakwah yang dimulai dari masjid akan memberikan hasil lompatan-lompatan keberhasilan yang nyata dan berlipat ganda. Lain waktu kita bahas sejarah lompatan keberhasilan dakwah yang bermula dari masjid. Yang jelas, saya sedang bahagia mengawali hidup di Kota Malang ini dari Masjid Nurul Islam, Bukit Cemara Tujuh.

Sekarang waktunya menimba ilmu…selamat bertemu kembali.

@Kamar terdepan Rumah Bapak, Kav. 85, Blok 03, BCT. Hari Pramuka 2013.

2 comments on “Bergabung Dalam Barisan Dakwah

  • Wipi, bagus tulisannya. Semoga banyak yg memakmurkan masjid. Ibu jg sangat setuju. In sha Allah, ibu akan lbh sering melakukan kajian di masjid (mana saja). Tetap semangat utk belajar, smg ilmunya bisa sgr diamalin, keep fight utk masjid.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: