Upaya Penegakan Hukum Riba

Published April 17, 2013 by pembawacerita

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi kritis dengan seorang insan cendikia jebolan kampus STAN, Andi Kuncoro. Kolega saya tersebut memberikan pembukaan yang indah dalam sebuah diskusi inspiratif. Menurutnya, Einstein pernah bilang kalau compound interest adalah keajaiban dunia kedelapan. Ternyata orang-orang Sumeria sudah mengenal compound interest sejak 4000 tahun lalu. Selanjutnya, apakah kitab agama-agama Ibrahimi (Judaism, Kristen, dan Islam) menegasi riba dalam hal ingin menghapus sistem compound interest itu atau hanya memprotes rate-nya yg keterlaluan tingginya dan menyekik leher.

Saya memilih untuk membahasnya dari sudut pandang qur-ani. Dengan kata lain saya membahasnya dengan dasar-dasar Islam saja, tidak berikut hukum riba menurut taurat atau pun injil. Bagi saya, Islam telah sempurna dan menyempurnakan agama samawi sebelumnya. Berikut ini adalah fase-fase penegakan hukum riba yang saya sarikan dengan pendekatan qur-ani.

1. Fase penyadaran awal

Ar Ruum ayat 39 menyatakan:

“dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”

Ayat ini diturunkan di Mekah sebagai permulaan penyadaran terhadap bahaya riba. Namun demikian secara redaksional pendekatan yang digunakan adalah dengan bahasa psikologis agar tidak tertipu dengan tambahan riba. Penyadaran ini menjadi tahapan penting dalam sejarah pelarangan riba. Hal ini karena proses menegakkan hukum riba dimulai dari upaya memberi kesadaran kepada masyarakatnya. Proses ini memberikan pelajaran bahwa penegakan hukum harus didasarkan pada proses bagaimana memberi kesadaran kepada masyarakat.

Proses ini mengingatkan pada konstruksi hukum modern yang tidak begitu mengindahkan kesadaran publik untuk mematuhinya. Peraturan yang lahir pada era modern seperti saat ini lebih bersifat represif dan memaksa. Hal ini tercermin dari klausul akhir pada setiap peraturan perundang-undangan yang berbunyi “Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia”. Karena sifatnya yang represif terhadap kesadaran publik tersebut, maka jangan kaget jika ada adagium sarkastis bahwa hukum dibuat untuk dilanggar.

Kembali pada pembahasan riba, proses penyadaran awal ini meruipakan bentuk menegasikan logika manusia. Secara empiris memang praktik riba, yaitu dengan memberikan tambahan, pasti akan menambah harta pemakan riba. Akan tetapi seiring dengan perkembangan permulaan dakwah Islam di mekah yang notabene lebih menegakkan tauhid, masyarakat Islam tidak dijelaskan secara detil, pragmatis dan empiris mengapa dan bagaimana hukum riba itu. Di sisi lain, Alloh belum mengharamkan riba secara tegas. Tahapan yang ada adalah menghembuskan keraguan terhadap sistem riba seiring dengan pendidikan tauhid.

Dalam bahasa gaulnya, “eh kamu percaya Alloh kan? Kamu tahu ga, kata Alloh sistem riba itu ternyata tidak menambah harta. Ternyata yang menambah harta itu justru zakat karena ridho Alloh lhoo”.

2. Fase pendidikan sejarah

An Nisaa ayat 160-161 menyatakan:

“160. Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

161. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Ayat ini diturunkan di Madinah dan sependek literatur yang saya miliki, ayat-ayat terkait hukum riba selanjutnya diturunkan di Madinah. Hal ini tidak lepas dari perkembangan objek dakwah Islam yang bertambah kompleks karena meliputi masyarakat yang lebih beragam mata pencahariannya. Jikalau di Mekah sebagian besar adalah pedagang dan penggembala, maka di Madinah mata pencaharian penduduk bertambah beragam diantaranya petani. Bertambahnya jenis mata ragam pencaharian tersebut artinya telah melengkapi rantai utama perekonomian yaitu produksi, distribusi, dan konsumsi. Tentu bisa dibandingkan dengan perekonomian di Mekah kala itu yang minim petani sehingga faktor produksi tidak sedominan distribusi dan konsumsi.

Dalam kondisi yang berkembang dengan bertambah heterogenitas publik, Alloh menurunkan ayat edukasi sejarah. Hal ini menjadi penting karena ditengah heterogenitas tersebut diperlukan bridging yang dapat membawa kesamaan pandang. Pada fase ini, publik diedukasi bahwa pada jaman sebelum mereka pernah ada praktik riba. Oleh karena riba itu membawa bencana, tapi masyarakat Yahudi  tetap ngeyel memberlakukannya, maka Alloh menghukum mereka dengan mengharamkan makanan yang tadinya halal.

Selain hukuman tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa haramnya makanan tidak hanya dilihat dari substansi makanan tersebut. Misalnya haramnya khamr, memang secara sebstansi zat khamr itu merugikan. Karena fitrah Islam juga menghormati keberadaan akal manusia (hifzhul ‘aql), maka Islam melindungi kerusakan akal dengan mengharamkan konsumsi khamr. Lebih dari itu, haramnya makanan juga dilihat dari prosesnya. Jika prosesnya batil maka makanan tersebut haram. Hal ini karena Islam juga menghormati jiwa manusia (hifzhun nafs). Sebagai contoh adalah makanan hasil mencuri. Mencuri merupakan perbuatan yang batil dan perbuatan itu bertentangan dengan fitrah jiwa manusia. Oleh karena itu makanan hasil curian haram hukumnya untuk dikonsumsi.

3. Fase partial warning

Ali Imran ayat 130

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Setelah masyarakat diberi pendidikan sejarah dan seiring dengan kapasitas perekonomian yang semakin meningkat, turunlah ayat ini yang mengharamkan riba yang bersifat berlipat ganda. Makna “adh’afan mudho’afah” (berlipat ganda) ini memang terdapat perbedaan pendapat. Pendapat pertama, berlipat ganda tersebut menjadi syarat diharamkannya riba. Artinya kalau sedikit tidak apa-apa. Hal ini sangat wajar dalam perkembangan hukum yang terjadi seiring dengan perkembangan peradaban masyarakatnya. Mengharamkan hanya untuk level yang berlipat ganda ini merupakan satu tahapan dalam perkembangan hukum Islam.

Pendapat kedua, “adh’afan mudho’afah” (berlipat ganda) tersebut bukanlah syarat, tetapi merupakan keterangan bahwa riba memiliki karakteristik terus berlipat ganda seiring bertambahnya waktu. Pendapat ini berarti tidak mempedulikan besar kecilnya riba. Selama itu riba, mau besar atau kecil tetap haram hukumnya.

Secara pribadi saya memahami kedua pendapat tersebut. Saya ini memahami karakteristik riba memang berlipat ganda dan tahapan perkembangan hukum yang selaras dengan perkembangan peradaban juga perlu dipertimbangkan. Perbedaan kedua pendapat tersebut justru semakin menambah keyakinan saya bahwa Islam itu secara substansi maupun prosesnya benar-benar manusiawi.

4. Fase pelarangan total dan law enforcement

Pelarangan riba Al Baqarah ayat 278

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Sebagai bentuk finalisasi hukum, ayat ini turun untuk menyempurnakan aturan sebelumnya dan menjadi dasar pamungkas atas pengharaman riba. Setelah melalui penyadaran, pendidikan, dan pengharaman sebagian, diturunkanlah ayat yang mengharamkan riba secara menyeluruh. Dengan kata lain, peraturan final tersebut telah melalui proses sosialisasi, edukasi, dan latihan. Setelah melalui proses tersebut, maka telah siap sebuah peradaban untuk menerima aturan yang lebih tegas.

Itulah makanya perintah meninggalkan riba tersebut ditujukan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana melanjutkan tahapan sebelumnya untuk meninggalkan riba yang berlipat ganda. Kesesuaian objek perintah tersebut menunjukkan orang yang beriman dianggap telah melalui proses sosialisasi, edukasi dan latihan. Oleh karena itu pada redaksi terakhir ayat ini, dan ini yang menelisik pikiran saya, ada penekanan terhadap orang yang beriman, “jika kamu orang-orang yang beriman”. Redaksi tersebut jika di-a contrario-kan, “jika kamu bukan orang-orang yang beriman silakan saja tidak meninggalkan riba”.

Selanjutnya setelah ada pelarangan secara total, ada ancaman dan law enforcement sesuai Al Baqarah ayat 279

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Sebenarnya tidak perlu penjelasan lebih detil dari ayat ini. Jika tetep ngeyel berbuat riba, maka ancaman tertinggi, setelah dosa syirik, yaitu diperangi Alloh dan Rasul-Nya. Sebagai bentuk law enforcement, saya ingin mengingatkan peristiwa pada masa Amirul Mukminin Umar bin Khoththob. Suatu ketika ada rakyat yang mengaku kepada Umar bahwa dia didholimi seorang penjual dengan memberlakukan riba padanya. Umar lantas mendatangi pedagang tersebut dan menegurnya agar tidak berbuat riba. Rupanya si pedagang tidak mengetahui bahwa yang dia lakukan adalah riba. Mendengar penjelasan si Pedagang, Umar justru memarahinya karena melakukan dua kesalahan. Kesalahan pertama berbuat riba dan kesalahan kedua adalah tidak mengetahui bahwa itu riba. Hingga akhirnya ada kebijakan fenomenal dari Amirul Mukminin, “Yang tidak memahami riba, dilarang masuk pasar”. Masuk saja tidak boleh, apalagi bertransaksi.

5. Fase Futuristik

Menghina pelaku Riba Al Baqarah ayat 275

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Fase ini sebenarnya tidak lepas dari fase pelarangan total. Namun saya ingin membuat bahasan khusus dengan menjadikannya fase tersendiri. Pada fase ini, Alloh seolah-olah ingin memisahkan dengan tegas mana pasukan-Nya yang turut memerangi riba dan mana musuh-Nya yaitu praktisi riba. Cara pemisahannya pun dengan menitik beratkan bahasan praktisi riba yang tetap ngeyel berbuat riba walaupun telah diharamkan. Alloh menghinadinakan praktisi riba secara terang-terangan. Gila. Walaupun demikian, Dialah Alloh Yang Maha Pengampun memberi ampunan kepada orang-orang yang tidak ngeyel lagi kemudian meninggalkan riba.

Selanjutnya Alloh memberikan garansi, jaminan, dan janji bahwa riba itu pasti akan musnah. Jikalau seluruh isi langit dan bumi ini melakukan riba, Alloh tetap akan memusnahkan riba. Tinggal terserah kepada kita, menjadi bagian dari pasukan Alloh yang memerangi riba, ataukah tetap bergumul dengan bencana riba yang sudah pasti akan dimusnahkan itu. Pemusnahan ini dijamin dalam Al Baqarah ayat 276

Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

Wallahu’alam.

3 comments on “Upaya Penegakan Hukum Riba

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: