Menyerahkan semuanya pada Alloh

Published Januari 27, 2013 by pembawacerita

Tak biasanya begitu berat hati ini meninggalkan rumah untuk melaksanakan amanah. Bagaimana tidak, dua harta tak terhargaku sedang membutuhkan perhatian. Hari ini adalah hari keenam Zein demam. Tiga hari pertama demam tinggi tapi masih ceria. Aku masih mengingat bagaimana cakap-cakap lucu via telepon. Aku di Surabaya dan Zein di rumah. Seperti tak sakit saja cara ngobrolnya, ketawanya, nada bicaranya. “Abi, zein gambar dinonauyus sama ummi. Dinonauyusnya jadi buyung. Teybang kaak kaaak kaaak gitu”. Hari ketiga yg tak kunjung turun panasnya, hingga akhirnya si ummi membawanya ke dokter keluarga. Hanya radang biasa, begitu hasil diagnosanya.
Mengingat perkembangan panasnya yg tak segera reda dan kebetulan jadualnya si ummi USG untuk kehamilan kedua, akhirnya aku memutuskan kembali ke Depok. Sengaja aku memilih kereta api agar perjalanan malamku nyenyak sehingga ketika sudah sampai aku dapat langsung bermain dg zein & mengantar si ummi ke dokter.
Sesampainya di rumah, sebentar bercakap-cakap dengan zein. Matanya sayu. Badannya lemas. Yah mungkin obatnya belum banyak bereaksi. Selanjutnya tinggal memastikan si ummi kuat melawan rasa mual dan tetap memasukkan asupan gizi yang baik bagi diri dan kandungannya. Aku tahu itu berat baginya. Tapi aku selalu berpesan, menjadi cerewet, selalu mengingatkannya, “biar saja mual, kalau mau muntah ya muntahkan saja. Yang penting setelah muntah terus makan lagi.” Nasehatseperti itu memang basi bagi ibu-ibu hamil. Tapi aku yakin, psikologi yang mengingatkan dia bahwa ada yang care…very very care with her pregnancy…itu bisa menguatkannya.
Kadang malah jadi banyolan konyol. Ketika bidadariku itu mual, lantas aku bilang,”ambil nafasdalam-dalam, ditahan sebentaaar…trus hembuskan.” Lhaa malah tertawa dia. “Bi..bi…apa abi kira mualnya orang hamil itu seperti mualnya orang mabuk di perjalanan?”
. Dengan polosnya aku menganggukkan kepala. Yang kemudian disusul dengan derai tawanya. Dalam hati aku bergumam, biarkan saja aku terlihat bodoh, yang penting dia tertawa. Karena ketika dia tertawa, aku tidak melihat raut mual di wajahnya.
Ah..sudah waktunya ikut antri USG. Bertemu dengan seorang kawan yg ikut mendampingi cek kandungan istrinya. Lantas…yaa biasa, bercerita mengenai pembagian tugas antara suami dan istri menjelang dan setelah kelahiran buah hati. Hingga lelah kami berbincang, sampai lapar pun mengusik saraf perutku. Dan kebetulan si ummi belum makan nasi. Rupanya antrian dokter kandungan masih memungkinkan bagi kami mencari makan yg enak. Tentu enak bagi istriku. Karena semua makanan yang bisa dia makan adalah enak bagiku. Pilihan pun jatuh pada sotomie bogor.
Cukup kenyang dan kembali ke klinik menanti panggilan. Setelah waktunya bertemu bu dokter, aku lihat dengan seksama layar USG. Batang USG bergerak-gerak memperlihatkan isi rahim si ummi. Jujur, aku tak bisa membedakan mana janin (alaqoh) dan mana air ketuban. Aku hanya memandang saja monitor USG itu sambil seksama mendengarkan bu dokter bicara. “Hasilnya sesuai dengan siklus menstruasi. 8 pekan. Dan tidak kembar”. Yaaa…eh segera aku ganti dengan ungkapan alhamdulilah. Ketika USG pertama memang ada indikasi kembar. Tapi kurang jelas sehingga harus USG ulang. Yup pesannya tetap hidup sehat, tentu memperhatikan asupan gizi bagi ibu hamil. Benar dok. Saya nanti yang mengawal hidup sehat dan asupan gizi tetap terjaga. Ini namanya komitmen.
Cukup seharian diklinik, malam menjelang ketika mentari beranjak ke peraduan. Zein masih lemas. Tak ada senyum ceria dibibirnya. Tapi cukup senang melihatnya excited nonton kartun ‘Diva belajar membaca’. Hingga tiba lelap tidur menyapanya. Awalnya Zein kubujuk agar mau tidur diatas tubuhku. Biasanya kalau dia demam, berbagi panas cukup efektif untuk menurunkan suhu tubuhnya. Tapi kali ini dia tak mau. Hanya mau dengan umminya. Ya sudah tidak apa-apa.
Senyap rumahku. Tak ada suara Zein atau umminya. Lantas kunyalakan televisi sebagai teman. Sambil kubuka notebook barang milik negara. Berharap bisa menyelesaikan beberapa langkah tugas. Tak lama setelah loading, terbuka file-file yang ku butuhkan, terdengar suara Zein. Dia mengigau. “ga apa apa, zein bobok saja, sudah malam”. “lampunya dimatiin abi”. “iya, abi matiin”. Rupanya lampu dari ruang tamu menelusup melalui celah pintu. Sejenak setelah kuelus kepalanya, dia kembali terlelap.
Entah pukul berapa, tiap kali keluar kamar tidur, zein hampirselalu terbangun. “zein minta mimik, ummi bangun, zein mimik ummi”. “iya, ini mimik hijau zein”. Aku bukakan botol minuman kesayangannya. Ku elus lagi kepalanya yang lunglai diatas perut umminya. Hingga dia terlelap lagi. Tak lama aku keluar kamar, zein terbangun lagi. “abi, zein takut. Rumahnya mau roboh”. “enggak. Enggak apa-apa. Ada ummi dan abi sama zein. Zein bobok saja”. “abi, ummi, bobok sama zein”. Ya sudah, akhirnya aku pun menemaninya.
Pagi ini zein masih lemas. Tapi tetap semangat belajar bersama kartun yang aku unduh sebelum pulang kemarin. “Zein, ummi dan abi ke masjid dulu ya. Nanti kembali lagi”. “ummi aja, abi jangan ke masjid”. Dia memegang erat jariku dengan tangan lemasnya. “abi jangan ke masjid. Abi sama zein”. Semakin aku mencari alasan, semakin erat dia memegang. Hingga hatinya luluhsetelah dibujuk nanti liat truk pemadam, liat ekskavator, liat kuda, liat kereta.
Tak lama aku dan istriku di masjid. Setelah cuap-cuap sebentar, kami kembali pulang. Menunaikan janji untuk zein. Bukan zein yang biasanya. Yang biasa aktif mendeskripsikan bagaimana tangan ekskavator mengeruk tanah, atau ekskavator yang diam karena lagi bobok. Yang biasanya berlari enerjik mengelilingi truk merah pemadam kebakaran. Yang biasanya ceria melihat hewan-hewan. Kali ini lesu. “gendong ummi”. Sambil menyentuh, iya hanya menyentuh, truk pemadam.
Zein bangun ketika aku hendak berangkat. Dia sudah mulai ikut bercerita saat melihat shaun the seep.  “si sheep lari ummi”. Sedikit lega rasanya melihat dia mulai ceria kembali. “Zein, abi berangkat kerja ya”. Ia mengangguk. “Zein makan yang banyak ya, biar cepat sembuh”. “iya abi”. Sun pipi kanan, kiri dan dahi. Iya, waktunya berangkat.

#ditulis disepanjang rel depok-gondang dia dan masa-masa menunggu kedatangan ‘KudA’ Sembrani gambir-pasar turi.
Allohumma anta robbi laa illaha illa anta kholaqtani, wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika mastatho’tu, a’udzubika min syarri maa shona’tu, abu ulaka bini’matika, alayya abu u bidzanbifaghfirlii fainnahu la yaghfiru dzunubailla anta.
Alloh, aku serahkan semua padaMu. Di perjalanan ini aku mohon berikan kesehatan untuk anakku, istriku dan alaqoh yang dikandungnya. Jadikan anak-anakku mujahid yang hafizh Qur-an dan akan membawa kebaikan bagi umat manusia.
Ya Alloh, anugerahilah tetangga-tetanggaku, saudara-saudaraku seiman, para pengemban dakwah di masjid AtTaubah dan masjid-masjid lain tempat mereka menambatkan hati, anak-anak yang sholih, baik perangainya, cerdas akal pikirnya, kuat dan sehat jasmaninya.
Robbana hablana minash shoolihiin
Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yuna waj’alna lil muttaqiina imaama.
Bismillahi majreeha wamursaha inna robbi laa ghofurur rohiim
Subhanalladzi sakhkhorolana hadza wama kunna lahu muqriniin, wainna lila robbina lamun qolibuun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: