QURBAN, CINTA DAN PERJUANGAN

Published Oktober 22, 2012 by pembawacerita

kurban di Masjid At Taubah 1431HMomentum Idul Adha tidak lepas dari ibadah qurban dan sejarah Nabi Ibrahim as. Qurban memiliki akar kata qa-ra-ba yang artinya dekat. Hal ini sesuai dengan tujuan qurban itu sendiri yaitu mendekatkan diri kepada Alloh. Istilah tersebut selanjutnya secara hermeneutika diadopsi dalam Bahasa Indonesia yang sering kita ketahui yaitu karib yang artinya juga dekat atau erat. Demikian pula dengan qurban dalam Bahasa Indonesia diadopsi menjadi kurban atau korban sebagai bentuk pernyataan bakti dan setia. Hal ini sangat logis karena memang pernyataan bakti, setia hingga mendekatkan diri kepada Alloh membutuhkan perjuangan dan pengorbanan (sacrifice). Istilah qurban termaktub dalam Surat Al Maidah ayat 27. Adapun istilah udhiyah berarti hewan ternak. Dalam Surat Ash Shoffat ayat 102 digunakan istilah adzbahuka (menyembelihmu). Lebih lanjut kita akan membahas kesejatian qurban yang merupakan kombinasi antara sejarah para nabi, cinta dan bukti keimanan.

Qurban adalah sunnah para nabi (sunnatul anbiya)

Semenjak diciptakan manusia pertama kali yaitu Nabi Adam as, Alloh telah mengajarkan ibadah qurban. Ibadah qurban pada jaman Nabi Adam dilakukan oleh anak-anaknya yaitu Habil dan Qobil. Dalam konteks kontemporer, Habil dan Qobil merupakan representasi dua produsen utama yang menggerakkan perekonomian jaman Nabi Adam as. Habil bergerak dalam produksi daging, susu dan sumber daya hewani (peternakan). Adapun Qobil bergerak dalam produksi karbohidrat, vitamin dan sumber daya nabati (pertanian).

Walaupun kedua anak Nabi Adam as ini sama-sama menguasai sektor bisnis masing-masing pada jamannya, akan tetapi terdapat perbedaan tabiat dalam melaksanakan qurban. Habil mengurbankan ternak-ternaknya yang paling bagus, gemuk dan sehat serta dengan tulus ikhlas. Namun, Qobil mengurbankan buah-buahan dan hasil tanamnya yang buruk-buruk dan merupakan sisa-sisa penyortiran. Walhasil Alloh hanya menerima qurban Habil yang notabene qurban terbaiknya.

Sejarah ini diabadikan dalam Al Qur-an Surat Al Maidah ayat 27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.

Sejarah tersebut menyiratkan hikmah kepada kita agar kita memberikan qurban terbaik yang kita miliki. Apalagi pada jaman sekarang yang sangat mudah membandingkan tingkat keterbaikan qurban yang dapat kita lakukan. Misalnya kita dengan gampang mengeluarkan uang untuk membeli gadget terbaru, telepon selular pintar dengan berbagai fitur unggulan, baju mewah yang unik, sepatu impor kelas atas, dan contoh lainnya. Namun apakah kita dengan mudah pula mengeluarkan sumber daya terbaik untuk mempersembahkan qurban istimewa sebagaimana telah dilakukan Habil? Hal ini akan berat apabila kita tidak memiliki keyakinan tinggi bahwa jika kita berikan yang terbaik bagi Alloh, maka Alloh akan memberikan yang lebih baik lagi dan terbaik bagi kita.

Sejarah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pun tidak lepas dari sejarah qurban. Kedua sosok nabi tersebut merupakan sejarah bapak dan anak paling mulia di muka bumi. Ditengah tantangan tugas Nabi Ibrahim as untuk melakukan jihadul ‘ilmi wa iqomatul hujjah ({berdakwah melalui} jihad ilmu dan menegakkan hujjah) pada masa kejahiliyahan penguasa Namrud, Nabi Ibrahim as dihadapkan pada haru biru penantian keturunan. Beliau tidak henti-hentinya berdoa meminta keturunan yang sholeh. Hingga akhirnya Alloh menganugerahkan Nabi Ismail as melalui rahim Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim as.

Belum lama kebahagiaan atas anugerah anak tersebut, Nabi Ibrahim diperintah Alloh untuk meninggalkan mereka berdua di gurun tandus Bakkah. Jika bukan karena ketaatan kepada Alloh, tentulah seorang bapak tidak akan melakukan hal ini kepada anak dan istrinya. Sejarah ketaatan Nabi Ibrahim as tidak berhenti sampai disini. Beliau masih diuji Alloh dengan perintah menyembelih anaknya, Ismail. Perintah ini memang tidak masuk akal manusia. Akan tetapi relung-relung ketaatan telah membiaskan problematika akal itu.

Sebelum menyembelih Ismail, terjadi dialog bapak-anak penuh cinta. Nabi Ibrahim as memanggil anaknya yaa bunayya dan Ismail pun memanggil bapaknya dengan yaa abati. Dalam sastra arab, kedua panggilan tersebut merupakan panggilan untuk memuliakan dan tanda cinta, lebih dari sekedar panggilan ibni dan abi. Dialog yang meharukan ini diabadikan dalam Al Qur-an Surat Ash Shoffat ayat 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Seringkali para imam besar Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan masjid-masjid lain tak kuasa menahan tangis haru ketika melafalkan ayat ini dalam bacaan sholat.

Melalui sejarah ini, kta dapat mengambil pelajaran bahwa qurban yang akan kita lakukan nanti hendaklah karena ketaatan dan keteguhan tekad menjalankan perintah Alloh. Hikmah lainnya adalah bagaimana Nabi Ibrahim as membina rumah tangga robbani sehingga hidup dalam kesholihan. Lebih dari itu, dua anak Nabi Ibrahim as diangkat Alloh menjadi nabi dan rosul yang kemudian melanjutkan dakwahnya berikut keturunan-keturunan dibawahnya yang juga nabi dan rosul. Oleh karena itu Nabi Ibrahim as dijuluki abul anbiya’, bapak para nabi, termasuk dalam darah Nabi Muhammad SAW mengalir darah Nabi Ibrahim as.

Pada jaman Nabi Musa as, ibadah qurban menjadi sarana untuk mencari solusi atas kiminalitas sosial. Dalam Al Qur-an kisah ini diceritakan cukup panjang yakni pada Surat Al Baqarah ayat 67-73. Peristiwa kala itu dipicu dengan adanya korban pembunuhan yang tidak diketahui siapa oknum pelakunya. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya saling tuduh menuduh diantara Bani Israil. Maka dengan kesholihan Nabi Musa as, Alloh memberikan petunjuk agar mayat dipukul dengan bagian tubuh sapi betina yang telah disembelih. Akhirnya Bani Israil memulai pencarian sapi betina.

Dalam proses pencarian tersebut, terjadi dialog yang alot antara Bani Israil dan Nabi Musa as. Hal ini karena tabiat Bani Israil yang suka membuat rigid suatu permasalahan. Dialog tersebut membahas spesifikasi sapi betina yang akan dikurbankan. Setelah berkali-kali memohon petunjuk kepada Alloh, akhirnya Nabi Musa as menyampaikan akumulasi spesifikasi sapi betina yaitu berumur tidak muda dan tidak tua, warna kuning tua, belum pernah dipakai membajak, tidak digunakan untuk mengairi tanaman, tidak cacat, dan tidak ada belangnya.

Jumudnya pencarian tersebut akhirnya justru mempersulit Bani Israil menemukan sapi betina sesuai spesifikasi. Hingga suatu saat Bani Israil menemukan hanya seekor sapi betina yang sesuai. Namun konsekuensi kejumudan pikiran dan kerigidan persyaratan, Bani Israil harus membayar mahal sapi betina tersebut. Konon kisahnya sapi betina yang akan dikurbankan tersebut dihargai setara emas seberat sapi itu.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita agar menyelesaikan persalahan secara sederhana. Hal ini karena memandang masalah secara jumud dan rigid seringkali memperumit solusi yang justru menjadi permasalahan baru. Karena memang Islam adalah pemberi solusi yang sederhana namun bisa menyelesaikan permasalahan. Konsep Islam memang sudah sederhana dan mudah. Contohnya adalah konsep Illah. Alloh itu Tuhan yang satu. Satu-satunya sesembahan, jadi tidak ada sesembahan selain Alloh. Namun demikian kita tetap harus melaksanakan kemudahan Islam ini, tanpa mempersulit atau memudah-mudahkan. Sudah cukup lengkap dan sempurna apa yang ada tanpa perlu tambahan lagi ataupun memaksakan perlakuan kondisi sekarang seperti masa lalu yang jauh berbeda.

Qurban adalah konsekuensi logis atas cinta

Setelah Alloh menurunkan perintah berkurban, Nabi Muhammad SAW dengan izin Alloh mengelaborasi hikmah dan keutamaan berkurban.  “Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan darah itu di sisi Allah  Subhanahu Wa Ta’ala segera menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah.” (HR. Tirmizy dan Ibnu Majah). Hadits ini menggambarkan seolah-olah ada interaksi timbal balik antara kita sebagai makhuk dengan Alloh sebagai kholik.  Kita berkurban karena cinta kepada Alloh dan secara simultan, tunai, tanpa jeda, Alloh mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Adapun konsekuensi interaksi indah ini adalah balasan kebaikan luar biasa pada hari kiamat.

Qurban adalah perjuangan pembuktian keimanan

Iman merupakan penegakan tauhid atau keesaan Alloh. Oleh karena tujuan itu maka iman adalah pembatas antara kehinaan dan kemuliaan. Sejarah menunjukkan kehinaan Bani Israil yang melakukan pengingkaran pada ayat-ayat Alloh. Bukankah ingkar artinya tidak beriman? Inilah yang disampaikan Alloh dalam Surat Al Baqarah ayat 61 tentang kehinaan Bani Israil “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”.

Dalam prakteknya, iman dapat mengalami kenaikan dan penurunan. Oleh karena itu dalam tahapan lebih lanjut Alloh menstratifikasi keimanan manusia untuk memperoleh derajat kemuliaan. Adapun kemuliaan dimata Alloh didasarkan takwa, yaitu menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Bukankah Alloh telah menyatakan bahwa orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa  (Al Hujurat :13).

Stratifikasi kemuliaan menurut Islam ini merupakan hal yang revolusioner dalam sejarah manusia. Sejarah telah memuliakan budak Bilal diatas bangsawan Abu Sufyan pada masanya karena faktor ketakwaan. Kemuliaan tidak diukur dengan ukuran manusia pada umumnya. Kemuliaan tidak ditentukan oleh kekayaan harta. Alloh menghinakan pemuka-pemuka kaum kafir Quraisy yang kaya raya. Alloh pula yang membinasakan Qarun dan harta kekayaannya. Kehinaan mereka dan kekayaannya merupakan dampak kesombongan dan tidak beriman. Berbeda dengan Abdurrahman bin Auf, miliyuner zaman Nabi Muhammad SAW yang telah dijamin Alloh masuk surga karena kemanfaatan kekayaannya dalam koridor keimanan. Demikian pula Nabi Sulaiman as, seorang Nabi yang dimuliakan Alloh karena keimanannya dengan kerajaan multi nasional bahkan mencakup kalangan jin dan hewan.

Kemuliaan tidak ditentukan oleh pangkat dan jabatan. Sudah berapa Raja dalam sejarah manusia yang dimusnahkan Alloh. Fir’aun ditenggelamkan di laut merah.  Alloh bahkan cukup mengutus seekor nyamuk yang berdiam di kepala Raja Namrud sehingga ia merasakan pusing yang amat sangat sampai dia memukuli kepalanya sampai ia mati. Lain halnya dengan Nabi Yusuf as yang dimuliakan Alloh dengan jabatan Menteri Keuangan karena keteguhan imannya.

Kemuliaan tidak pula ditentukan oleh faktor keturunan. Dalam Islam tidak ada istilah darah biru yang memuliakan manusia karena keturunan ningrat bahkan keturunan nabi sekalipun. Sejarah mencatat masyarakat yang cerdas dan mampu membangun gedung-gedung pencakar langit dimusnahkan Alloh dengan hembusan badai dingin. Mereka adalah Kaum ‘Ad yang mengingkari dakwah Nabi Hud as. Demikian pula Kaum Tsamud yang cerdas dan mampu membangun istana pada tebing-tebing batu dimusnahkan karena mengingkari dakwah Nabi Sholeh as. Kita juga mengenal sejarah Kan’an bin Nuh dimusnahkan diterjang banjir bandang. Kehinaan dan kemuliaan saling bertolak belakang seperti Kan’an dan Nabi Nuh as, seorang nabi yang dimuliakan Alloh sebagai ulul azmi. Sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa kemuliaan bukan timbul karena keturunan (keturunan nabi sekalipun), melainkan karena ketakwaan sebagai manifestasi keimanan. Lain halnya dengan Nabi Ismail as, Nabi Ishaq as, Nabi Yahya as, Nabi Sulaiman as, Nabi Yusuf as, mereka adalah anak-anak nabi yang dimuliakan Alloh karena keimanannya.

Konsekuensi iman adalah adanya amanah. Bagi setiap muslim tergantung amanah dilehernya. Amanah tersebut adalah menegakkan kalimat tauhid yang menjadi representasi keimanan itu sendiri. Penunaian amanah tersebut menuntut pengorbanan baik jiwa, darah, dan hartanya. Oleh karena itu penunaian amanah hanyalah semata-mata untuk mencari ridho Alloh, membahagiakan alam semesta dengan agama yang diridhoi-Nya, dan meninggikan kalimat-Nya. Alloh menyandingkan keimanan, pengorbanan dalam perjuangan dan jalan Alloh sebagaimana termaktub dalam Al Hujurat ayat 15 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. Oleh karena itu, sangat tidak benar dan tidak pula dibenarkan dalam pandangan Islam berkurban dan menjalankan amanah merupakan wujud penumbalan dari segelintir orang ataupun usaha mencari pujian dari manusia lain. Pikiran remeh temeh seperti itu tidak sebanding dengan harapan dan janji akan ridho Alloh.

Wallohu’alam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: