EVOLUSI TIADA HENTI

Published September 23, 2012 by pembawacerita

Siapa yang mengira Al Jad’a akan menderum di tanah anak yatim itu. Si unta merah itu biasa juga dipanggil dengan Al Qoswa’ dan memiliki kemampuan berlari kencang hingga tak ada unta lain yang mampu mengejarnya. Namun, saat itu ia tidak menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ia hanya berjalan pelan dan tenang. Kemudian dengan ijin Penciptanya dia berhenti di sebuat tanah lapang dengan beberapa pohon kurma menghiasinya. Tanah itu milik sepasang anak yatim. Sahal dan Suhail, begitu orang-orang Yatsrib memanggilnya. Ketika peristiwa sejarah itu terjadi, Sahal dan Suhail telah ditinggalkan orang tuanya. Mereka diasuh As’ad bin Zuroroh.

Pemilik Al Jad’a lantas menyatakan keinginannya untuk membeli tanah itu. Namun apa kata anak-anak yatim itu? Sungguh pernyataan yang sulit untuk diterka manusia dewasa pada umumnya. Sahal dan Suhail yang yatim itu justru ingin mmenghibahkan tanahnya itu. Keinginan mereka tersebut menunjukkan betapa pikiran dan hati anak-anak yatim itu jauh lebih dewasa dibanding umur mereka. Mungkin dalam lubuk hatinya telah Alloh bisikkan bahwa di atas tanah itu akan dibangun pusat peradaban dunia.

Akan tetapi pemilik Al Jad’a bukanlah orang yang oportunis materialistis. Beliau memahami betapa Sahal dan Suhail yang yatim itu tetap perlu untuk dihargai tanahnya. Beliau tidak ingin menerima cuma-cuma dari kedua anak yatim itu. Bahkan beliau memaksa tidak menerimanya jika tidak melalui jual beli. Akhirnya disepakatilah tanah Sahal dan Suhail itu dibeli dengan harga yang sangat murah yaitu hanya sepuluh dinar. Betapa murahnya tanah seluas kurang lebih 1.000-an m2 itu dihargai dengan uang yang kini seharga Rp22jutaan. Namun Alloh lebih mengetahui harga wajar tanah itu. Alloh pula lah yang akan membalasnya sesuai dengan niat Sahal dan Suhail yang ingin menghibahkan tanah mereka.

Berbeda dengan Sahal dan Suhail. As’ad bin Zuroroh juga memiliki tanah tepat disamping milik Sahal dan Suhail. Menderumnya Al Qoswa’ di atas tanah Sahal dan Suhail rupanya juga memberikan berkah untuk As’ad bin Zuroroh. Dia menangkap misi besar penunggang Al Qoswa’ itu yang akan membangun pusat peradaban dunia. As’ad bin Zuroroh pun menghibahkan tanahnya. Namun untuk As’ad bin Zuroroh tidak ada penggantian uang atas tanahnya. Pemilik Al Jad’a bersedia menerima keinginan besar As’ad bin Zuroroh untuk menghibahkan tanahnya.

Tak lama berselang, diatas tanah Sahal, Suhail, As’ad bin Zuroroh dan beberapa petak kuburan musyrikin dilakukan landscaping. Kuburan-kuburan itu digali dan dipindahkan mayatnya. Reruntuhan bangunan diratakan. Akan tetapi warga masyarakat sadar benar bahwa mereka tidak memiliki modal untuk membangun pusat peradaban dunia. Kondisi itu berdampak pada proses perataan reruntuhan bangunan. Warga masyarakat memilah-milah bebatuan bekas bangunan itu agar dapat dimanfaaatkan kembali. Pohon-pohon kurma di atas tanah itu ditebang dan dimanfaatkan untuk tiang bangunan.

Bangunan itu didesain berbentuk persegi dengan luas kurang lebih 1.060 m2 dan memiliki tiga pintu. Pada pinggiran pintunya disusun batu-batu rapi dan berkesan kokoh. Dinding bangunan dibangun masih menggunakan batu bata yang terbuat dari tanah liat. Benar, hanya dari tanah liat. Ini sangat di pahami karena di Yatsrib saat itu pohon-pohon lebih berharga  untuk dijadikan tiang bangunan daripada dimanfaatklan untuk membakar tanah liat hingga menjadi bata merah. Atap bangunan disusun sangat eksotis terbuat dari daun dan pelepah kurma. Diatas lantainya terususun hamparan pasir dan kerikil khas padang pasir.

Bangunan tersebut menjelma menjadi bangunan yang multi fungsi. Pikiran-pikiran dan peradaban besar manusia lahir dari bangunan sederhana tapi eksotis ini. Di dalam bangunan itu lahir universitas yang meluluskan para pemimpin dunia. Bangunan itu berfungsi juga seperti gedung parlemen yang didalamnya dilakukan sidang paripurna untuk menghasilkan keputusan yang menyejahterakan rakyatnya. Bangunan itu berfungsi juga seperti istana negara tempat dilakukan sidang kabinet dan dijalankan roda pemerintahan. Di dalam bangunan itu difungsikan juga peran pengadilan dan kejaksaan untuk menyelesaikan perselisihan. Di atas bangunan itu pula fungsi hotel berbintang diterapkan. Setiap ibnu sabil boleh menginap dan beristirahat di bangunan itu dengan pelayanan prima dari jama’ahnya tanpa membayar sepeserpunn uang. Bangunan itu difungsikan pula sebagai panti sosial yang menampung orang-orang miskin yang datang ke Yatsrib tanpa membawa harta sampai mereka mampu mendirikan rumah sendiri. Di atas bangunan sederhana itu dilakukan latihan militer untuk mempertahankan kedaulatan negara.

Oleh karena fungsinya yang kaya manfaat itulah dakwah di kota itu berkembang pesat. Bahkan dalam jangka waktu tujuh tahun jama’ahnya penuh sesak. Bangunan itu tak mampu lagi menampungnya. Hingga akhirnya inisiator pendirinya memutuskan untuk dilakukan perluasan bangunan. Perkembangan yang luar biasa itu terlihat kasat mata dengan perluasan bangunan lebih dari dua kali lipatnya yaitu yang tadinya 1.060 m2 kemudian menjadi 2.475 m2. Perluasan ini merupakan perluasan  yang pertama kalinya. Kemudian seiring musik-musik alami berdendang, dakwah pun semakin berkembang. Perkembangan itu menuntut perluasa bangunan berkali-kali. Pada jaman Umar bin Khoththob bangunan ditambah lagi seluas 1.100 m2. Ketika Umar bin Khaththab digantikan Utsman bin Affan, bangunan diperluas lagi 470 m2. 161 tahun kemudian bangunan diperluas sampai menjadi 8.890 m2 pada jaman Khalifah Al Mahdi Al Abbasi. Perkembangan terus terjadi secara masif, hingga 1.405 tahun kemudian bangunan itu menjelma menjadi bangunan sakral dengan luas bangunan utama 98.327 m2 yang didukung dengan pelataran dan tempat wudhu yang luas sehingga total luas bangunan seluruhnya adalah 400.327 m2 dan mampu menampung kurang lebih satu juta jama’ah sholat.

Kisah luar biasa tersebut merupakan sejarah bagaimana sebuah peradaban manusia lahir dari sebuah bangunan sederhana. Namun karena tekad dan perjuangan yang kuat sejak perencanaan pendirian bangunan, Masjid Nabawi menjelma menjadi pusat peradaban dunia sampai dengan saat ini, illa yaumil qiyamah. Kisah ini nyata dan telah terjadi. Maka sesuatu yang nyata ini dapat diambil pelajaran, diikuti tahapan perkembangannya dan direalisasikan dalam kehidupan nyata agar perkembangan dakwah semakin masif.

Kisah perkembangan Masjid Nabawi ini mengajarkan bahwa kesholihan itu dapat dilihat parameternya melalui indikator pribadi dan manfaat sosial. Lihat saja bagaimana kesholihan Sahal dan Suhail yang masih anak-anak lagi yatim sudah berniat untuk menghibahkan tanah. Dapat kita ketahui juga bagaimana perkembangan jama’ah yang kian bertambah dalam memanfaatkan Masjid Nabawi merupakan indikator kemanfaatan sosial. Dalam tataran idealisme islami, kesholihan individu selalu simultan dengan kemanfaatan sosial. Tidak ada dikotomi diantara keduanya dan hal ini pula yang telah dilakukan oleh generasi terbaik umat manusia. Hal ini merupakan wujud aksi atas konsepsi luhur, bukan sekedar aksi tanpa konsepsi dan bukan pula haya konsepsi ideal tanpa aksi nyata.

Harapan ini pula yang sekarang dimiliki oleh warga Gardenia. Harapan memiliki tempat yang multi fungsi seperti Masjid Nabawi telah tersedia. Bahkan sampai dengan saat ini dan insyaAlloh seterusnya akan selalu ada komitmen untuk mengembangkan peranan Masjid At Taubah Gardenia sebagaimana Masjid Nabawi berevolusi.

Bukan tidak mungkin merealisasikan agenda-agenda sederhana lingkungan melalui Masjid At Taubah Gardenia. Misalnya musyawarah RW, RT, DKM, dan musyawarah lainnya dapat dilakukan di Masjid At Taubah Gardenia sebagaimana Masjid Nabawi difungsikan untuk bermusyawarah merencanakan perbaikan masyarakat, menjalankan roda pemerintahan, penyelesaian perselisihan bahkan pembahasan strategi perang. Dalam bidang pendidikan, Masjid Nabawi mampu  melahirkan pemimpin yang berhasil mengembangkan perekonomian negara seperti Umar bin Khoththob dan cicitnya Umar bin Abdul Aziz. Bahkan nama terakhir dengan izin Alloh mampu membebaskan rakyatnya dari kemiskinan sampai kesulitan untuk menyalurkan zakat karena semua rakyatnya kaya. Demikian pula Masjid At Taubah Gardenia insya Alloh sedang dirancang konsep pendidikan untuk anak-anak Gardenia. Semoga konsep ini dapat segera direalisasikan.

Dalam bidang sosial, Masjid Nabawi menjadi tempat pemberdayaan orang-orang miskin. Dalam hal ini Masjid At Taubah Gardenia berusaha untuk memerankan melalui penerimaan dan distribusi zakat. Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir penerimaan zakat  di Masjid At Taubah Gardenia selalu menjadi penerimaan terbesar dibandingkan dengan penerimaan zakat dari sektor-sektor lain se-GDC. Pada Romadhon 1433 H kemarin, alhamdulillah Panitia ZIF Masjid At Taubah Gardenia dipercaya untuk menyalurkan zakat, infak, dan fidyah dengan total nilai Rp31.070.000 dan 343 liter beras. Penerimaan tersebut meningkat 33% dibandingkan tahun lalu. Apabila kondisi ini terus dipertahankan dan dikembangkan, maka bukan tidak mungkin Masjid At Taubah Gardenia akan mengalami problematika umat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yaitu kesulitan menyalurkan zakat karena semua warganya kaya, setidaknya dalam lingkup se-Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya, Kota Depok. Amiin.

Perkembangan Masjid At Taubah Gardenia tentu sangat sulit terjadi, bahkan mungkin mustahil, apabila warga Gardenia tidak turut berperan serta memakmurkannya. Oleh karena itu sudah selayaknya kisah perkembangan Masjid Nabawi di atas dibumikan di atas tanah Gardenia. Hal ini agar perkembangan dakwah dan kesejahteraan warga dapat dicapai dengan katalis keberkahan masjid.

Dalam waktu dekat ini, Masjid At Taubah Gardenia memiliki beberapa agenda yang melibatkan warga Gardenia dalam jumlah banyak. Pertama, Shubuh Weekend. Agenda ini adalah sholat shubuh berjama’ah di Masjid At Taubah Gardenia setiap  akhir pekan yaitu Sabtu atau Ahad. Siapa pun yang melakukan sholat shubuh berjama’ah di Masjid At Taubah Gardenia pada hari itu selain mendapatkan keutamaan sholat shubuh berjama’ah dimasjid juga dapat sarapan bersama. Kita semua memahami bahwa mayoritas warga Gardenia memiliki kesibukan yang banyak pada hari kerja. Oleh karena itu program Shubuh Weekend ini diharapkan mampu menyatukan warga Gardenia dalam komunikasi yang santai, efektif dan rutin setiap pekan.

Kedua, Finishing Pembangunan Masjid At Taubah Gardenia. Dalam satu bulan kedepan target pembangunan Masjid At Taubah Gardenia adalah menyelesaikan pengecatan dinding dan kubah, mem-plafon ruangan dalam lantai dua, dan  membangun tangga masjid. Program ini tentu membutuhkan peranan aktif dari warga Gardenia dan semua pihak yang ingin mengharapkan keberkahan melalui Masjid At Taubah Gardenia. Manajemen DKM At Taubah menjamin setiap sumber daya baik finansial maupun material yang ditujukan untuk pembangunan Masjid At Taubah Gardenia benar-benar digunakan untuk pembangunan. Setiap pengurus di bidang pembangunan memiliki tugas dan fungsi yang unik dan tidak bisa mengambil keputusan secara sendirian. Semua kegiatan pembangunan dilakukan melalui musyawarah dan kerja sama. Sebagai contoh, Bendahara Pembangunan memiliki tugas untuk menerima, menyimpan, mengeluarkan dan melapurkan dana pembangunan. Dengan demikian, selain Bendahara Pembangunan tidak diperbolehkan melakukan fungsi itu. Bendahara Pembangunan pun hanya bisa mengeluarkan dana pembangunan apabila telah mendapatkan notifikasi dari Pengawas Pembangunan. Pengawas Pembangunan pun tidak dapat menggunakan dana pembangunan secara langsung tanpa disetujui oleh Bendahara Pembangunan.

Ketiga, Hari Raya Idul Adha. InsyaAlloh bulan depan di Masjid At Taubah Gardenia akan diselenggarakan Sholat Id dan penyembelihan hewan kurban. Oleh karena itu diharapkan warga Gardenia untuk berlomba-lomba dalam menjalankan kebaikan dengan turut serta melaksanakan Sholat Id berjama’ah, menyembelih hewan kurban, makan bersama di Masjid At Taubah Gardenia pada saat hari raya Idul Adha bulan depan.

Wallohu ‘alam bishshowab

 

 

Al Jad’a, Al Qoswa’ atau Al Adhba’ adalah nama unta Rosululloh SAW. Tiga nama tersebut merupakan satu unta yang sama. Unta tersebut merupakan kendaraan terbaik pada masa Rosululloh SAW yaitu unta merah seharga Bugatti Veyron.

Investasi Finansial Pembangunan dapat menghubungi Bpk. Suyono (08568598487) atau ditransfer melalui rekening BCA No.7650393761 an Wirawan Purwa Yuwana atau Bank Mandiri 126-000-438-5406 an Suyono.

Investasi Material dapat menghubungi Bpk Heru Taufik (021-91822959 atau 08888546569) dan Bpk. H. Ahmad Kasang (08129255373)

 

One comment on “EVOLUSI TIADA HENTI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: