The Urban Farming dan Filsafat Ekonomi (2)

Published September 19, 2012 by pembawacerita

Alhamdulillah sudah di KRL Jakarta-Bogor. Waktunya melanjutkan urban farming campaign. Saya refresh kembali pembahasan sampai pada filosofi produksi, konsumsi, dan distribusi dalam ekonomi.

Dalam fungsi tersebut, tukang sayur ada dalam fungsi distribusi. Dia memenuhi kebutuhan sayuran orang-orang yang ada di komplek. Dia membeli sayuran dari pasar induk dan menjual kepada warga komplek. Lantas bagaimana jika warga suatu komplek melakukan gerakan urban farming semua?

Disini justru dibutuhkan kejelian tukang sayur. Dia perlu melakukan orientasi medan. Rumah mana saja yang produksi tanamannya banyak. Selanjutnya dia dapat membeli sayuran atau menukar dengan kebutuhan rumah tangga lain seperti kubis (yg sulit ditanam untuk urban farming karena kubis butuh cuaca dingin). Bahkan minta secara gratis karena kebanyakan pelaku urban farming menikmati karena hobby atau untuk memanfaatkan sumber daya yang idle dan bukan karena profesi utama. Hal ini tentu lebih efisien daripada dia harus beli ke pasar induk. Setidaknya dia hemat pada biaya transportasi. Selanjutnya dia menjual sayuran itu ke tempat yang membutuhkan (komplek yang tidak ber-urban farming misalnya).

Ilustrasi tersebut cukup lah untuk menggambarkan pemenuhan kebutuhan konsumsi dengan melakukan kegiatan produksi yang didesain dengan sumber daya sangat minim. Ketika sebuah keluarga tercukupi kebutuhan pokoknya melalui produksi sendiri yang notabene bukan produktivitas utama maka hasil dari produktivitas utama keluarga tersebut dapat dialokasikan untuk fungsi ekspansi lainnya. Hal ini menunjukkan adanya akselerasi keseimbangan produksi-konsumsi sehingga mempermudah kegiatan ekspansi. Demikian pula dengan tukan sayur yang mengemban fungsi distribusi. Efisiensi distribusi akan meningkatkan margin keuntungannya. Hal itu juga akan berdampak pada ekspansi.

Peningkatan produksi untuk memenuhi konsumsi walau produksi yang dilakukan bukan aktivitas utama akan menjadi trigger ekspansi kesejahteraan masyarakat.

Bahasannya kok mikro banget ya? Ya ga apa apa. Nanti bahasan makronya lain kali.

@stasiun depok lama. Semlengeren setelah sejam belajar jurus tendangan tanpa bayangan (kata pak Amin Yadi). Diposting di Tegalan Sapi Lanang (masih kata Pak Amin Yadi juga)

2 comments on “The Urban Farming dan Filsafat Ekonomi (2)

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: