The Urban Farming dan Filsafat Ekonomi (1)

Published September 18, 2012 by pembawacerita

Saya terngiang komentar pembaca pembawacerita. Komentarnya simpel sebenarnya, tapi cukup mengena jika direnungkan secara mendalam. Memang dalam perkembangan filsafat, fenomena besar dimulai dengan pertanyaan yang terkesan simpel dan aneh. Ingat saja Isaac Newton, seorang filosof yg diakui general truth-nya mengenai gaya grafitasi. Ia memikirkan secara mendalam mengapa apel bisa jatuh ke tanah. Pada mulanya ia dianggap tidak waras oleh orang-orang disekitarnya. Yang namanya apel jatuh ya pasti turun ke tanah. Siapa sangka teori gravitasinya itu sekarang dipelajari dari tingkat SMP sampai Doktoral, dari teori diatas coretan kertas sampai praktek pembangunan gedung pencakar langit dan pesawat penembus angkasa, bahkan menginspirasi Dan Brown untuk memunculkan solusi pada tokoh Robert Landon dalam The Da Vinci Code.

Sepanjang rel kereta ini saya mencoba memikirkan dampak urban farming terhadap kelangsungan usaha tukang sayur. Toh mereka juga hidup di sekitar kita. Kalau kita sudah ber-urban farming, lantas bagaimana nasib tukang sayur? Apakah mereka akan terancam karena omzetnya turun?

Pada hakikatnya manusia itu ingin mengonsumsi sesuatu. Seperti makan misalnya. Manusia ingin makan dengan apapun motivasinya, entah karena lapar, menghormati orang, gengsi dan prestis, atau pun sekedar ingin mencoba makanan. Seperti pakaian contohnya. Manusia ingin punya pakaian dengan apapun tujuannya. Mulai dari yang penting menutupi tubuhnya, melindungi dari gangguan dari luar seperti panas, dingin atau gigitan serangga, demi prestis, ataupun sebagai identitas (memakai batik misalnya agar terlihat Indonesia banget).

Akan tetapi hasrat konsumsi manusia tersebut tidak selalu, bahkan lebih sering tidak dapat dipenuhi. Hal ini dikarenakan adanya gap antara keinginan konsumsi dengan sumber daya untuk memenuhinya. Dalam ilmu ekonomi kesenjangan ini sering disebut scarcity (kelangkaan). Dengan kondisi seperti itu manusia butuh untuk memproduksi sumber daya untuk pemenuhan konsumsi. Misalnya orang ingin makan, tapi dia tidak memiliki beras. Maka ia memiliki pilihan untuk memproduksi beras sendiri dengan menanam padi atau menukar sumber daya yang ia miliki dengan beras dari orang lain.

Dengan demikian keinginan konsumsi manusia merupakan trigger untuk melakukan produksi. Akan tetapi perkembangan manusia tidak hanya berhenti sampai disini. Perbedaan kondisi lingkungan dan kemampuan antar manusia menjadikan aliran produksi-konsumsi tidak cukup ideal. Misalnya orang yang tinggal di daerah pegunungan. Ia ingin memasak sayur bayam untuk melengkapi nasinya. Ia butuh garam agar sayur bayamnya tidak hambar. Maka ia harus berjalan ke laut untuk mendapatkan garam. Apabila kondisi ini terus berlangsung, tentulah orang ini akan sibuk sekali. Oleh karena itu muncullah pedagang yang mengisi kesenjangan hubungan produksi-konsumsi dengan fungsi distribusi.

****to be continued…karena KRL sudah sampai stasiun Sudirman****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: