The Urban Farming aint Just Beginning

Published September 17, 2012 by pembawacerita

Memang benar bukan sekedar mulai cerita saja, tapi benar-benar mulai. Semenjak merasakan nikmatnya ber-urban farming (saya masih terus berniat untuk melabelisasi menjadi lebih keren dengan istilah ini), keluarga saya benar-benar berniat untuk menanam tanaman produktif di rumah kami. Kami ingin kenyataan yang kami alami ini menjadi virus positif. Setidaknya di lingkungan kami RT 4,  kemudian meluas ke seluruh Sektor Gardenia, hingga ke pembaca pembawacerita ini. Saatnya memulai dari rumah kami sendiri. Lebih besar lagi kami berharap ini adalah langkah nyata dalam think globally act homely.

Dua hari ceria di akhir pekan kemarin. Sabtu pagi saya dan istri berbagi peran. Istri menyiapkan media tanam dan saya membuat display-nya. Saya  mulai dengan mengumpulkan kayu-kayu bekas pembangunan Masjid AtTaubah Gardenia. Memang sengaja saya mencari bahan bekas karena saya ingin menciptakan persepsi bahwa memulai urban farming tidak membutuhkan modal yang besar. Sehinga label reuse atau recycling itu tidak hanya jadi tulisan. Namun perlu dipahami juga bahwa ini merealisasikannya bukan gratis tis! Saya masih butuh paku, palu dan meteran. Yup exactly IDR52.000 untuk procurement tiga alat tersebut (kebetulan saya sudah punya gergaji). Positive, kayu-kayu bekas sudah tersedia berikut perlengkapan lainnya. Waktunya beraksi!

Saya menerawang sebuah bangun ruang dengan ukuran panjang dua meter. Menggergaji kayu rupanya menyedot tenaga yang banyak ternyata. Apalagi kalau kedapatan kayu yang masih keras. Tapi tak jarang pula kayu yang mulai saya potong tiba-tiba fragile. Saya sangat maklum karena memang kayu bekas. Kemungkinan besar karena si kayu sudah meriang karena kehujanan dan kepanasan. Saya sempat menceritakan kepada Pak Heru, field supervisor pembangunan Masjid At Taubah, mengenai kayu-kayu yang lapuk itu. Hingga saya menyimpulkan bahwa kemampuan saya untuk mengidentifikasi kayu masih lemah. Terbukti dengan memilih kayu bekas yang fragile itu tadi.

Ahad pagi saya dan istri melanjutkan aktivitas. Ketak ketuk palu sambil mengingat-ingat bu Adin dan Pak Ngapani, Guru Fisika SMA saya yang mengajarkan bahwa tekanan itu dipengaruhi positif oleh gaya dan berbanding terbalik dengan penampang luasnya. Ujung paku sudah lancip, tinggal gaya saja yang perlu saya tambahkan untuk mendapatkan tekanan yang meyakinkan agar paku itu tertancap pada kayu. Disinilah pengalaman fisikawi saya terpanggil kembali. Rupanya untuk mendapat tekanan yang sama pada kayu yang berbeda, saya merasakan energi yang berbeda yang saya keluarkan. Sepertinya gaya gesek pada masing-masing kayu berbeda sehingga gaya minimum untuk menancapkan paku juga berbeda. Tentunya para fisikawan ingat sekali bahwa gaya gesek dipengaruhi oleh koefisien gesekan. Inilah yang membedakan kayu satu dengan lainnya. Weee…kenapa saya jadi cerita fisika ini.

Kembali ke urban farming.  Rangka display sudah jadi. Tentu dengan keringat yang ­kotos-kotos segrontol-grontol (apa coba bahasa Indonesianya?). Saya pajang kerajinan tangan saya itu. Wee…dikomentari Pak Eddy, “Wah sepertinya gagal jadi tukang pak?”. Ya iya lah, kalo mahir nukang, saya sudah jadi tukang. “Ini masih ringkih rangkanya pak. Ditambah penyilang antar kaki-kakinya biar lebih kuat.atau ditambah pengganjal di sudut-sudut rangka”. Beeeuuh…saya terbengong-bengong. Ngebayangin harus menggergaji kayu lagi untuk membuat pengganjal sudut sudah terasa lelahnya. Ahahaiiy…tak apa, tetap semangkaaa!!!

Untuk alas atau permukaan display, saya masih menggunakan bahan bekas. Triplek bekas pengecoran Masjid. Paaaass banget ukuran lebarnya 40 cm. Potong satu, potong dua…siiip pas. Weit masih ada sisa triplek. Mmm…ini dia maksud Pak Eddy. Biar lebih kokoh, kaki kaki display saya hubungkan dengan triplek sisa itu. Ini dalam hukum ekonomi adalah fungsi substitusi. Yaitu menggantikan penyilang kaki atau pengganjal sudut yang secara ekonomis masih membutuhkan opportunity cost untuk membuatnya. Positive, display done!

Bagaimana dengan kegiatan istri saya? Yup, belahan hati saya itu telah sukses memindahkan benih pohon salam dari media awalnya. Dia sudah memindahkan pula bayam-bayam dari media awal ke polybag besar. Sukses pula dia memindahkan benih-benih tomat, kemangi dan cabe dari tempat penyemaian ke polibag-polybag kecil. Weit…jangan tanya tanahnya dari mana ya. Namanya juga urban farming, tanahnya dia minta dari tetangga samping rumah yang sedang merenovasi rumah. Kok sampai segitunya? Ya iya begitu. Tantangan urban farming adalah memperoleh media tanam dan tempat bercocok tanam. Akan tetapi sampai tahapan ini, istri saya sudah sukses.

Nah ini lah hasil kerjasama kami…The Urban Farming aint Just Beginning!

*kotos-kotos segrontol-grontol = menetes sebesar biji jagung rebus

5 comments on “The Urban Farming aint Just Beginning

  • udah brp hektar lahan urban farming nya masbro?
    klo tukang sayur aj boleh metik gratis, ane jg boleh donk gratisan, tp bibit nya, hehe…
    kpn2 aq maen k kebun nya yo, aq saiki warga Depok jg lho

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: