The Urban Farming After Beginning

Published September 16, 2012 by pembawacerita

Setelah sekian bulan menikmati cabe rawit hasil investasi ibu mertua, tiba lah saatnya waktu yang menyedihkan bagi kami. Si cabe rawit sudah begitu banyak memberikan pedasnya. Batang pohonnya semakin tua. Dedaunannya semakin keriting. Sudah habis kemampuannya untuk memproduksi cabe.  Akhirnya dengan mengucap innalillahi wa inna ilaihi roji’uun, hanya kepada Alloh lah si cabe rawit kembali. Dia mati meninggalkan kami setelah dia menyelamatkan kami dari gejolak inflasi kepedasan.

Semenjak ditinggalkan si cabe rawit, istri saya berusaha nampak biji cabe (ni bukan nampak yang artinya kelihatan loh). Akan tetapi usahanya tak begitu berhasil. Cabe-cabe yang tumbuh tak sedigdaya sebelumnya. Tumbuh tak sempurna. Daunnya keriting ketika masih kecil. Batang pohonnya tak rimbun bercabang. Namun bukan berarti semua cabe yang tumbuh tak berbuah. Ada beberapa pohon saja yang berbuah. Walau tak sampai berproduksi 5 kg. Ya sudah…ini gagal panen.

Tak lama kemudian datang kakak ipar saya, Pakdhe Bambang, begitu Si Pintar Zein memanggilnya. Dia bawa sejumput benih bayam. Saya memprediksi bayam itu akan tumbuh subur dan dalam sekali masa panen tuntas lah hidupnya. Maklum dalam urusan persayuran bayam, saya seperti Popeye, rakus. Tapi kakak ipar saya bilang itu bayam raja yang bisa dipetik berkali-kali. Istri saya begitu bersemangat menanam benih-benih bayam yang tak lebih panjang dari jari kelingking. Baik, kita lihat saja nanti hasilnya.

Romadhon pun tiba. Alhamdulillah aktivitas di masjid At Taubah Gardenia luar biasa mempesona. Selalu ada peningkatan dari tahun sebelumnya. Jama’ah bertambah banyak seiring dengan lantai dua yang sudah bisa digunakan. Agendanya padat bermakna. Dari buka bersama sampai sahur bersama tersedia. Tentu berkan amunisi konsumsi yang disediakan Ibu-ibu jama’ah Masjid At Taubah gardenia. Hingga tiba pada kesempatan sahur bersama yang kebetulan jatah istri saya untuk menyediakan. Menu utamanya urap-urap. Laksana kompetisi Hell Kitchen, saya dan bapak-bapak peserta sahur bersama menganalisis komposisi urap. Bumbu kelapa muda parut. Sudah ditanak bersama campuran garam secukupnya, cabai, sepasang bawang merah dan bawang putih, ada bau-baunya kencur, sempat juga salah kira daging ternyata saat dikunyah daging tanah alias lengkuas, dan tak ketinggalan daun yang agak alot waktu digigit. Oh rupanya daun salam, hmmm. Pantas. Sayur utamnanya ada tauge rebus, kemangi mentah, dan yang dominan adalah bayam. Percis, bayam depan rumah. Bayam yang ditanam istri saya. Yang lebih mempesona lagi, satu pohon bayam itu mampu menjadi komposisi mayoritas urap sebaskom yang dapat dimakan 10 orang peserta sahur.

Romadhon usai, kami pun mudik. Dua pekan menikmati alam kampung adalah kesempatan untuk mengenalkan kepada Jagoan Zein pada kambing, ayam, ikan, angsa, burung, kucing dan luasnya area bermain. Hingga kami harus kembali ke Depok. Setelah semalam perjalanan bersama Gajayana, saya dan istri kelelahan. Namun, kami tak boleh diam saja karena perut kami lapar dan  Si Sholih Zein juga harus makan. Sebenarnya bisa saja kami telepon delivery order, tapi kami tidak memilih itu. Kami lebih memilih bernostalgia nasi pecel Mbah Suti di Lerang Gunung Ja’as, Trenggalek.

Berbekal sambal pecel yang kami beli langsung dari Mbah Suti, kami tinggal mencari sayurnya. Yup, cerdas. Bayam. Masih tentang bayam depan rumah yang tumbuh rimbun setelah ditinggal mudik dua pekan. Wuih…nyuss, tinggal petik. Rebus sebentar dengan air panas. Siap disajikan pecel Mbah Suti di Depok. Yang mempesona lagi, selama dua hari semenjak tiba di rumah, dipicu dengan keengganan belanja keluar, akhirnya survive lah keluarga kami dengan satu pohon bayam dan pernak-perniknya. Terima kasih juga buat Bu Diana, tetangga saya, yang mengijinkan memetik cabe di depan rumahnya. Bayam Raja memang luar biasa.

 

*nampak = menyemai biji tanaman

6 comments on “The Urban Farming After Beginning

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: