The Beginning of Urban Farming

Published September 16, 2012 by pembawacerita

Judulnya memang biar kelihatan keren begitu. Tapi memang ada latar belakang historis yang memicu saya untuk membuat judul yang keren itu. Hehehe… Adalah ibu mertua saya yang sibuk thukir-thukir tanah di depan rumah (apa coba bahasa indonesianya thukir-thukir?). Saya tanya buat apa. Katanya mau menanam cabe. Ah…cabe dua ribu juga dapet ini, begitu batin saya saat itu. Tapi saya sangat memaklumi, itulah ibu mertua saya yang terus terang ndeso. Yaa namanya saja wong ndeso, gatal tangannya kalau tidak berkebun, tidak matun, tidak unduh, tidak berhubungan dengan tanaman.

Singkat kata singkat cerita, saya harus mengantar ibu mertua saya kembali ke ndeso-nya naik pesawat. Mungkin ibu mertua saya itu protes dalam hatinya, mengapa harus naik pesawat. Karena kalau naik pesawat itu harus melalui eskalator di Bandara. Ahahaa… orang-orang sebandara matanya membelalak melihat sebuah pasangan anak muda ganteng, gagah berani, necis, pokoknya eksekutif muda (ceritanya narsis inih..ahahaiiy) menggandeng ibu yang sudah sepuh menuntunnya naik eskalator. Ah biarin, toh ini ibu mertua saya.

Tak disangka tak dinyana, setelah ibu mertua pulang kampung, Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi pada bulan itu menyentuh dua digit. Indeks Harga Konsumen agak terganggu karena ada beberapa komoditi yang hilang dari pasaran. Begitu menurut cerita surveyor dan statistisi BPS yang notabene adalah belahan hati saya (cieeee). Dan ndilalah kersaning Alloh, komoditi yang (nyaris) hilang dari peredaran itu adalah cabe rawit. Wal hasil harga cabe meroket Apollo XXII. Saking tingginya harga cabe, sampai saya jumpai tukang sayur itu jual cabe di-‘sachet’-in. Satu sachet seribu perak, isinya hanya 5 butir cabe. Sumpe deh baru kali itu saya tahu harga satu butir cabe lebih mahal dibandingkan harga selembar saham Bakrie and Brother (BNBR). Langkanya komoditas cabe rawit merupakan salah satu economic shocking bagi keluarga saya. Bagaimana tidak, bagi istri saya, makanan yang enak itu kalo bisa membuat dia berdesis alias pedas.

Namun, alhamdulilah investasi ibu mertua saya sudah waktunya memberikan return. Cabe yang ditanam (ketika saya menyepelekannya) berbuah. Rimbun dan banyak. Beberapa tetangga saya juga merasakan return on investment ibu mertua saya itu. Jika dihitung-hitung bisa sampai 5kg produksi satu pohon cabe. Padahal saat itu harga cabe lagi bullish ga mau bearish dan hanya berfluktuasi ditataran 100.000-140.000.

Dari kisah itu saya akan memulai cerita tentang Urban Farming…

 

*thukir-thukir = menggali tanah tapi tidak dalam

**matun = menyiangi

***unduh = memetik (bukan download loh)

****ndilalah kersaning Alloh = berasal dari kalimat Alhamdulillah kersaning (karena kehendak) Alloh.

2 comments on “The Beginning of Urban Farming

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: