Ketika Mbak Gagang Tak Datang

Published Mei 17, 2012 by pembawacerita

Pada suatu hari [kata mbah-mbah dulu kalo mau cerita tapi ga diawali dengan klausul sakti “ing salah sawijining dino”, bahasa jawanya “once upon a time”, ceritanya bakal ga seru. Masa iya sih mbah? Ah namanya juga embah, pinter mencari perspektif di luar nalar manusia muda], saya membaca sebuah cerita seru. Awalnya cerita begitu menggemaskan karena tokoh yang diceritakan itu seolah terbayang di depan mata saya cantik dan menyenangkan. Si tokoh ini begitu manja kepada seorang pemuda ganteng bernama Gagah. Mas Gagah, begitu si cewek memanggil. Sampai saya terbayang, enak juga ya jadi Mas Gagah ini. Ada cewek cantik manja padanya. Padahal saat itu belum release lagunya Ada Band. Ah mungkin begitu tabiat perempuan. Manja. Sayangnya cerita itu berakhir menyedihkan, karena Mas Gagah harus meninggalkan si cewek manja karena kematian di gerbang kecelakaan {halah lebay}.

Setelah menyelesaikan membaca cerita itu, ada dua hal yang saya bertanya-tanya. Pertama, ternyata Mas Gagah itu abang kandungnya si cewek, nah mengapa Mas Gagah itu harus abangnya? Ini merusak imajinasi saya. Sampai dengan saat ini saya juga belum mendapat jawaban dari penulis ceritanya, Mbak Helvy Tiana Rosa, mengapa Mas Gagah itu harus menjadi abangnya si cewek manja. Saya sebenarnya pengen protes kepada penulisnya itu. Tapi dia sekarang sudah  jadi Anggota DPR. Sepertinya ga lucu kalo saya protes menggelar demo di depan DPR MPR sambil membawa spanduk, “Mbak Helvy Harus Klarifikasi Kepada Rakyat mengapa Mas Gagah itu Abangnya si Cewek Manja!”. Kedua, sepeninggalnya Mas Gagah, mungkin kah ada tokoh lain yang datang? Nah sampai saat ini Mak Helvy juga belum SMS saya, tokoh siapa yang akan datang menggantikan Gagah. Bahkan menjelang isu-isu kedatangan Mbak Gagang, tokoh pengganti Gagah ini tak datang jua. Hingga saya mengira, oh mungkin Mbak Gagang ini yang akan meneruskan cerita Mas Gagah.

Benar, ontran-ontran {apa coba bahasa Indonesianya ontran-ontran} kedatangan Mbak Gagang ini saya dengar di kereta komplen. Ada anak g4oL yang diskusi seru dengan anak kuper tentang Mbak Gagang ini. Begini ceritanya [deng doooong]…

“Gue tuh sebel banget sama Polisi. Gue kan udah beli tiket konsernya”, kata anak g4oL. “Apa hubungannya tiket konser dengan Polisi?” tanya anak kuper yang persis sama dengan pertanyaan di batin saya. “Ihh…lo tu ye ga gaol getoh. Itu konsernya Lady Gagang. Gue tu suka banget sama dia. Makanya gue bela-belain beli tiket konsernya padahal belum ada kepastian dia konsernya kapan. Eh..tau tau sekarang konsernya dibatalin sama Polisi. Sebel banget gue”. “Heh..mengapa juga kamu beli tiketnya kalau sudah tahu belum ada kepastian?”. “Adyuuuhh…lo tu gimana sich. Namanya juga nge-fans, ya kudu beli tiketnya lah. Ini kan bukti nge-fans gue”.

Sampai pada fragmen ini, saya mendapatkan hikmah, ternyata bukan hanya cinta buta yang bisa mengubah feces kucing jadi rasa coklat, rupanya nge-fans juga bisa menyulap srinthil kambing rasa permen. “Gue tu suka’ banget sama lagunya yang Telepon itu. Beat-nya itu ngena banget gityu deh”. “Itu lagu yang mana ya?”. “Ih..gue tuh bingung deh sama lo. Masak lo ga tau lagunya artis se femos Lady Gagang sih”. “Mengapa juga saya pikirkan. Saya tidak kenal dia”. “Ih bener…bener..itu liriknya telepon. I don’t wanna think anymore, stop calling, stop calling”. “Iya…iya…cukup. Saya merasa beruntung tidak kenal dia, lagunya membuat saya pusing”.

“Iya deh…sorry…gue tau lo ga suka suara gue. Tapi gue yakin lo sependapat sama gue masalah pelarangan konsernya Lady Gagang oleh Polisi”. “Wah apa urusannya dengan saya, saya tidak tahu menahu dengan pelarangan itu?”. “ Aduuh…lo tu udah kuper, apatis lagi. Lo tu kudu denger aspirasi anak g4oL kaya gue. Kita ini hidup di jaman demokrasi. Gue berhak dong nyenengin diri gue. Termasuk gue pengen ada konser Lady Gagang ini. Nah sekarang giliran mau ada konsernya, malah ga dibolehin sama Polisi. Gimana ga sebel gue”. “Ya itu kewenangan Polisi untuk memberi ijin atau tidak”. “Coba lo pikir deh, pertimbangan apa yang dipake Polisi buat ngelarang konser”. “Keamanan mungkin”. “Ih…rusuh di konsernya Lady Gagang? Ga mungkin banget deh. Kami yang bakalan dateng tu tingkat pendidikannnya tinggi. Dan pastinya punya duit. Lo tau kan harga tiketnya tu minimal setengah jutak tauk”.

“Kalau menurut saya, sangat mungkin terjadi kerusuhan. Kamu seharusnya tahu bahwa tidak semua orang seperti kamu yang suka dengan Lady Gagang. Mungkin banyak juga yang tidak suka dengan Lady Gagang”. “Ih itu kan orang-orang kuno yang jadul dan fundamentalis. Mereka aja yang ga ngerti hiburan”. “Apakah menurut kamu mereka tidak punya hak untuk menenangkan dan menyamankan diri sebagaimana kamu menyenangkan diri kamu?”. “Ya mereka punya lah. Tapi kan konsernya tidak disamping rumah dia. Ga mengganggu dia lah”. “Benar, tapi beritanya sampai rumah mereka juga melalui media televisi dan internet. Mereka juga butuh menyamankan keluarganya yang tidak suka dengan Lady Gagang”. “Kalo urusan itu gampang lah. Mereka tinggal ngebatasi akses internet dan berita gosip kan. Simpel banget gitu”. “Kira-kira kamu tahu apa tidak, apa yang mereka rasakan ketika ada larangan seperti yang kamu sampaikan?”. “Ya enggak lah. Gue bukan mereka kalee!”. “Saya beri tahu ya, rasanya persis sama dengan apa yang kamu rasakan ketika mengetahui konser dilarang Polisi”.

Saya melihat anak g4oL terdiam kali ini. “Jadi ini bukan masalah rasa karena sebenarnya rasanya sama jika dilihat dari dua sudut pandang. Sama-sama menyebalkan sebagaimana sudah kamu rasakan”. “Lo gimana sih, tadi karena keamanan, sekarang masalah rasa. Lo ga konsisten nih”. “Keamanan itu hanya dampak. Ada yang lebih penting dibandingkan dampak itu, yaitu penyebabnya”. Saya terpaku mendengar anak kuper itu mulai serius dalam pembicaraannya.

“Menurut lo penyebabnya apa?”. “Ya Mbak Gagang itu sendiri”. “Kok dia yang lo salahin sih. Dia artis terkenal, punya fans banyak, salah satu orang berpengaruh di dunia versi Majalah Time, selebriti kaya dan berkuasa versi majalah Forbes, sudah lima kali dapet Grammy Awards dan dua kali tercatat di Guinnes World Record, dan banyak penghargaan lainnya. Jauh lah dibanding lo yang Cuma bisa nyalahin dia. Seharusnya lo tu dukung dia seperti gue ngefans sama dia”. “Yang jelas saya tidak mau mendukung kaum homoseksual”. “Nah kok lo malah ngejelekin dia lesbong sih!”. Nada kesal anak g4oL itu menghentikan diskusinya dengan anak kuper sesaat. Sementara saling diam, anak kuper mengambil ponsel pintarnya. Dia gerakan jarinya mengetuk layar ponsel pintarnya lalu menunggu respon ponselnya. Tak lama kemudian dia gerakkan ibu jari dan telunjuknya yang menempel di layar ponsel dengan gerakan saling menjauh.

“Sekarang coba kamu baca ini”. Dia menyerahkan ponsel pintarnya kepada anak g4oL. “Kamu boleh cek  di situs itu. Mbak Gagang pernah berorasi di negaranya mendukung kaum gay. Dia bilang Tuhan memberkati dan memberkati para gay? Nah, apakah kamu pernah tahu Tuhan berkata seperti itu?”. Anak g4oL tidak bergeming. Dia sibuk menggeser-geser jarinya ke atas dan ke bawah layar ponsel pintar.  “Bahkan gerakan dia sudah sampai Eropa akhir-akhir ini. Dia melancarkan kritik keras dalam pidato dua puluh menitnya terhadap negara yang tidak toleran terhadap hak-hak gay di Eropa. Dia juga menggambarkan bahwa homoseksual adalah revolusioner cinta. Apakah seperti itu cinta yang revolusioner?”. Saya masih melihat anak g4oL terpaku pada layar ponsel pintar. “Eh…maaf sudah sampai Depok Baru, saya harus turun”. Kemudian anak g4oL menyerahkan ponsel pintar anak kuper. “Kamu baca lagi di situs wipypedia itu ya. Dadaag…”. Anak kuper melambaikan tangannya kepada anak g4oL. “D..d…daaag..”, sambil melambaikan tangannya seolah si anak g4oL enggan membalas.

Setelah anak kuper turun di Stasiun Depok Baru, anak g4oL itu banyak terdiam. Pandangannya kosong. Dia melihat keluar jendela kereta seolah ada pemandangan indah. Padahal semoa orang tahu, malam gelap telah menyembunyikan dedaunan pohon sepanjang rel kereta dari pandangan mata. Ketika kereta sudah memasuki Stasiun Depok Lama, dia masih saja melihat ke arah kaca jendela. Kali ini saya harus turun dan meninggalkan dia bersama kereta yang berhenti di Bogor itu.

Sebelum saya keluar gerbong, saya sempat berpikir, siapa sebenarnya dari kedua orang itu yang gaul dan siapa yang kuper?

 

*ontran-ontran = kabar tidak jelas yang membuat onar

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: