Evaluasi Menuju Solusi

Published Mei 1, 2012 by pembawacerita

Syaikh Hasan Al Banna menyatakan bahwa penyakit ekonomi bangsa-bangsa Timur adalah riba dan konsorsium asing yang menguasai ekonomi dan mengeksploitasi sumber daya alam. Pada mulanya saya ga begitu paham dengan pembahasan yang disampaikan Imam Syahid Hasan Al Banna. Hingga akhirnya Alloh mempertemukan saya dengan penyakit bangsa itu. Hingga sampai sekarang saya masih berkutat di dalamnya.

Penyakit pertama, riba. Saya menjumpainya selama tahun 2010. Hampir sepanjang tahun itu saya berada dalam kubangan comberan yang namanya riba. Pernah di jalan saya menangis tersedu karena begitu takut. Takut yang luar biasa. Karena saat itu saya mengetahui ada penyakit riba yang merajalela dan semena-mena tapi saya tidak bisa berbuat sesuatu apa. Saya berkeluh kepada istri saya, memintanya untuk terus banyak berdoa, semoga saya bukan termasuk oknum yang diganjar dosa dan musibah riba. Orang yang memakan riba, memberi makan dengan riba, penulis riba, dan dua orang saksinya, kriteria oknum itu menancap kuat pada ingatan saya. Dan posisi saya saat itu adalah ‘orang yang melihat praktik riba’. Apakah saya yang ‘melihat’ ini sama dengan orang yang ‘menyaksikan’? Saya sangat takut dan berdoa semoga tidak pernah lagi bertemu dengan bencana itu.

Apakah saya menyerah untuk menantang jenis riba yang pernah saya hadapi itu? Ya. Secara usaha pribadi saya menyerah. apakah segampang itu? Iya benar. Karena riba yang saya hadapi begitu besar dan tidak bisa dicegah oleh orang sekapasitas saya. Tapi saya yakin, senjata saya yang paling tajam mempunyai andil untuk turut meruntuhkannya. Senjata doa. Semoga Alloh benar-benar menghancurkan riba dan menyelamatkan saya, keluarga saya, kawan-kawan saya, dan seluruh umat Islam dari dosa riba.Pipa pengalir energi

Penyakit kedua, perusahaan asing yang mengeruk sumber daya alam. Sejak 2011 sampai sekarang saya masih berkubang di dalamnya. Hanya saja kali ini saya tidak bisa bersuara banyak dan saya tidak sendirian. Pada tahun pertama saya bertemu dengan penyakit ini, saya sangat puas menyelesaikannya. Bukan lantas menyombongkan diri. Saya hanya ingin mengevaluasi dan membandingkan dengan apa yang bisa saya capai hari ini. Benar. Karena hari ini saya tidak bisa merubah lebih banyak lagi dibandingkan tahun lalu. Konsepsi yang menunjukkan kecongkakan perusahaan asing ketika mengeruk sumber daya alam negeri saya telah saya susun sedemikian rupa. Tapi sayang hari ini konsepsi itu gugur.

Saya masih mengevaluasinya. Ada apa gerangan dengan konsepsi itu? Mungkin konstruksi pemaparan saya kurang kokoh hingga tak kuat menahan hembusan kuat dari dampak permasalahan yang sudah bertahun-tahun  menggerogoti negeri ini. Mungkin juga ‘qiyamul lail’ saya kurang banyak dan kurang berkualitas sehingga Alloh tidak menurunkan ‘qaulan tsaqilan’ kepada saya. Mungkin saya kurang mensyukuri keberkahan apapun bentuknya yang telah saya terima. Mungkin…saya masih harus bermuhasabah sore ini.  ‘Alloh sore ku ini atas fitrah Islam, atas agama Nabi Muhammad. Dan atas millah Nabi Ibrahim yang hanif, Ya Alloh selamatkanlah akhirku’-Renungan Sore Suara Persaudaraan.

Kembali saya mengingat pesan Imam Syahid Hasan Al Banna, masih ada harapan untuk mencapai tujuan membebaskan umat ini dari penyakit ekonomi, terutama konsorsium asing. Saya ingat, saya mengevaluasinya, dan berharap semoga segera bersinar jalan terang menuju solusi kebenaran.

Manhaj yang benar. Saya memang yakin bahwa manhaj yang mendasari langkah saya adalah Al Qur-an dan Sunnah. Walau memang saya masih harus banyak belajar menginterpretasikan dalam langkah nyata dan setiap hembusan nafas. Saya tahu bahwa negeri ini sedang krisis energi. Dan saya tahu bahwa solusinya adalah mengadopsi strategi Nabi Yusuf. Ini solusi nyata yang ada dalam Al Qur-an. Tapi saya belum menemukan bagaimana cara merealisasikan nilai kepemimpinan seorang Menteri Keuangan seperti Nabi Yusuf. Semoga ada yang lebih bisa merealisasikan kegalauan hati saya.

Pendukung yang beriman. Saya yakin tidak ada kebenaran yang berdiri tanpa dukungan. Saya yakin bahwa kebenaran itu pasti akan menang. Hanya masalah waktu saja yang menundanya. Namun memang kebenaran akan selalu bertentangan dengan kebathilan. Semakin besar pendukung kebathilan makan akan semakin lama kebenaran menjelang. Kemenangan itu masih harus tertunda, kecuali pendukung kebenaran, yaitu orang-orang yang beriman mampu menandingi pendukung kebathilan. Saya berharap semoga pendukung kebenaran ini semakin bertambah. Orang-orang yang meniti manhaj Qur-an dan Sunnah semakin melimpah. Hingga harapan menjemput kedatangan kemenangan seperti menunggu fajar keemasan.

Pemimpin yang kuat dan terpercaya. Hanya satu harapan saya. Doa. Jikalau ada langkah untuk mendapatkan pemimpin yang lantang meneriakkan ‘Alloh ghoyatuna, Ar Rosul qudwatuna, Al Qur-an dusturuna, Al Jihad sabiluna, Al Mautu fi sabilillah asma amanina’ pastilah langkah yang saya lakukan ini tidak seberapa dibanding kekuatan doa, dan jauh lebih kecil lagi dibandingkan hasil terkabulnya doa. Semoga Alloh tidak pernah menganugerahi saya pemimpin yang lemah, tidak dapat dipercaya, dan jauh dari pencipta-Nya. Amiin.

*Ketika malam menjelang di Hotel Borobudur

One comment on “Evaluasi Menuju Solusi

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: