Reformasi yang Afdhol

Published April 26, 2012 by pembawacerita

Reformasi birokrasi adalah salah satu bentuk perubahan. Perubahan bukan sekedar perubahan. Tapi merupakan perubahan yang afdhol yaitu ke arah lebih baik. Tidak ada perubahan yang lebih baik dibandingkan perubahan yang didasarkan pada Al Qur-an dan Sunnah. Dua sumber perubahan tersebut paling utama dan dijamin keberhasilannya. Maka hendaknya pada Al Qur-an dan Sunnah peruabahan didasarkan. Bukan analisis pengamat. Karena pengamat tak punya dalil. Dia hanya mengamati lantas mengatakan ‘sekirannya’, ‘rasa-rasanya’, ‘jika tidak salah’, dan pembicaraan tanpa dasar yang jelas lainnya.

Ada beberapa syarat agar perubahan menjadi afdhol, yaitu:
1. Dimulai dari ilmu

Ilmu yang dimaksud sangatlah luas, yaitu setiap ilmu yg berguna bagi dunia dan akhirat. Islam tidak mengenal dikotomi ilmu. Ilmu dunia dan Ilmu akhirat adalah sama-saja karena untuk diamalkan, dimanfaatkan dan membawa kemaslahatan.

Untuk mendapatkan ilmu, maka yang harus dilakukan adalah membaca. Karena membaca adalah kunci ilmu pengetahuan. Nabi saja yang tdk bisa membaca diajari Jibril untuk membaca.

Ilmu menjadi dasar pertama menuju perubahan yang afdhol. Mengapa ttg ilmu? Kenapa bukan sholat, zakat, puasa, haji atau jihad? Karena Al Qur-an diturunkan pertama kali membahas mengenai  ilmu. Selain itu semua amal jika tidak didasari ilmu akan sia-sia. Rasulullah berdakwah yang pertama kali didasarkan pada ilmu. Bukan perintah sholat, zakat, puasa, haji. Bukan pula larangan-larangan. Doa dalam Al Qur-an yang menunjukkan permintaan ditambah (‘zidni’) hanya lah ilmu.

Oleh karena itu, perubahan yang afdhol dimulai dengan merubah sudut pandang untuk berilmu. Bukan politik atau ekonomi. Memang keduanya penting, tapi ilmu jauh lebih penting karena pengetahuan dan ilmu yang didasarkan pada Al Qur-an dan Sunnah akan menjadi solusi bagi permasalahan-permasalahan yang terjadi.

2. Amal

Kurang lebih 260 kali kata ‘amal’ disebutkan dalam Al Qur-an, seolah2 AlQuran adalah kitab amal yang mendorong pembacanya untuk bekerja dan bekerja. Contoh Surat Al Jumuah ayat 10, Alloh menyebutkan setelah sholat jumat yang harus dilakukan adalah ‘fantasyiru’ bertebaran, bergerak, beramal untuk mencari karunia Alloh. Bukan justru tidur atau ‘beristirahat’. Lebih dari itu, Alloh menekankan bertebarannya di muka bumi, ‘fil ardh’, bukan hanya ‘fil madinah’, dalam satu kota saja, walau ayat ini turun di Madinah.

Seringnya frekuensi kata ‘amal’ dalam Al Qur-an seolah menunjukkan bagwa ‘Al Qur-an kitabul amal’, Al Qur-an adalah kitab pergerakan, dan ‘Al Islamu diinul amal’, Islam adalah agama untuk diamalkan.

Kegiatan bekerja, beramal dan bergerak ini dilakukan oleh Nabi, walaupu semua orang tahu bahwa status beliau adalah Nabi. Alloh bisa saja dan sangat mudah untuk memberi kekayaan kepada Nabi. Akan tetapi Nabi bekerja sampai menjadi pemimpin. Beliau ke pasar agar tahu kondisi pasar, sesaknya pasar, sibuknya pedagang, dan kebutuhan yang diperlukan rakyatnya. Beliau juga menjadi penggembala sehingga tahu psikologi ‘gembalaan’ (yang dipimpin)-nya.

Bahkan ketika terjadi ‘azimatul iqtishodiyah’, krisis ekonomi, pada masa Rasulullah, beliau bisa menghadapinya tanpa pernah hutang kepada Yahudi, Persi, Romawi. Beliau terbiasa lapar sehingga ketika krisis lantas mengajak rakyatnya untuk lapar bersama, tidak terjadi kerusuhan maupun keributan. Tidak ada perusakan fasilitas umum. Tidak ada perobohan pagar yang perbaikannya membutuhkan dana bermilyar-milyar.

3. Mendayagunakan seluruh quwwah (kekuatan/potensi)

Rasululloh adalah manusia paling cerdas. Tidak ada ‘quwwah’/potensi yang tidak dimanfaatkan beliau dalam menjalankan dakwah. Baik itu quwwah qauliyah maupun quwwah qauniyah. Rasulullah menyatakan ketika ada sahabat selesai memakan kurma “jika besok kiamat maka tanamlah (biji kurmanya)”. Apa yang akan dinikmati oleh manusia ketika dia sudah tahu esok hari akan kiamat? Namun Rasululloh masih memerintahkan untuk memanfaatkan potensi yang menghidupi manusia.

Bahkan pemanfaatan potensi bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau pun hanya kepentingan manusia. Rasululloh pernah mengatakan bahwa “seorang muslim yang menanam kemudian buahnya dimakan oleh burung/binatang maka itu adalah sedekah.” Oleh karena itu pada masa Rasululloh tidak ada tanah yang kosong. Semuanya dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.
Pemanfaatan kekuatan bukan hanya dengan menciptakan potensi, tapi Rasululloh juga melakukan recycling yaitu ketika Nabi pernah melihat bangkai kambing, beliau menyuruh untuk memanfaatkan kulitnya untuk disamak walaupun dagingnya sudah tidak bisa dimakan.

Pemanfaatan kekuatan juga tidak hanya dari kalangan umat Islam. Orang musyrik juga dimanfaatkan untuk dakwah. Contohnya adalah Rasulullah memanfaatkan Abdullah bin Uraiqith, seorang musyrik, untuk menunjukkan jalan yang tidak biasa dilalui orang dari Mekah ke Madinah ketika hijrah.
Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh menjadi penonton (mutafarrijiin) dalam memanfaatkan segala potensi dan kekuatan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Penonton tidak pernah menang. Pemenang selalu pemain.

4. Berdakwah

Kondisi ideal seharusnya tidak ada kaum muslimin yg tidak berdakwah. Yang punya ilmu dg ilmunya, yang punya harta dengan hartanya, yang punya jabatan dengan jabatannya. Dakwah itu selalu menguntungkan, baik untuk dunia maupun akhirat. Jika masyarakat penuh dg aktivis dakwah maka langkah-langkah pergerakan dan amal akan selalu di ridhoi Alloh. Hal ini akan membatasi ruang gerak setan yang menyesatkan manusia. Dampaknya adalah cita-cita perubahan ke arah yang lebih baik akan mudah dicapai karena gangguan setan dapat diminimalisir dan didukung dengan keberkahan ridho Alloh.

5. Syukur

Syukur perlu didefinisikan secara luas yaitu mengakui nikmat dari Alloh dan menggunakan seluruh potensi nikmat dari Alloh untuk beribadah kepada-Nya. Alloh menganugerahkan ilmu oleh karena itu ilmu harus diamalkan agar berguna. Semakin besar nikmat yang kita terima seharusnya semakin banyak kuantitas dan semakin bagus kualitas ibadah kita.

 

* dikembangkan dari ceramah Dhuhur Ustadz Ahzami Samiun Jazuli di Masjid Al Amanah, Kemenkeu pada Kamis, 24 April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: