Kubah Indah dari Juanda

Published April 10, 2012 by pembawacerita

image

Pemandangan itu yang membuat saya suka pulang malam ketika kerjaan meminta ditongkrongi di Lapangan Banteng. Saya tidak tahu banyak bagaimana sejarah pembangunannya. Tapi tiap kali melihat kemegahannya, saya terkadang merinding takjub. Para penggagas pendiriannya pasti memikirkan bangsa besar yang mayoritas muslim ini butuh kebanggaan. Butuh tempat yang luas untuk menyatukan hati dalam kenikmatan ibadah bersama. Oleh karena bangsa ini memang bangsa besar, tentulah butuh tempat yang luas untuk mengumpulkan umatnya.
Maka sangat tepat jika dibangun “tempat bersujud” di tengah kota. Adalah kecerdasan para pendahulu negeri ini yang memutuskan lokasinya ditengah kota. Hingga sekarang kita merasakan betapa penting keberadaan, terutama menyediakan kebutuhan “sujud” untuk eskalasi massa yang besar. Lihat saja ketika Jumat memanggil. Para pegawai kantor-kantor disekitarnya berbondong-bondong menyambanginya. Juga para demonstran, tak peduli untuk kemaslahatan atau lebih banyak mudharatnya, ketika mereka lelah (atau hampir putus asa) justru kepasrahan ilahiyah yang menenangkannya. Dan itu butuh tempat yang luas, lega dan nyaman. Tempat itu yang paling tepat adalah masjid. Masjid Istiqlal persisnya.
Sejurus kemudian saya teringat dengan Masjid At Taubah. Masjid tempat hati saya tertambat. Betapa indahnya jika masjid ini mengabsorbsi ghirah Masjid Istiqlal. Disinilah warga Gardenia memadukan geraknya. Selama saya tinggal di komplek ini, belum pernah saya melihat akumulasi semangat untuk berkorban bersama, kecuali melalui Masjid At Taubah. Mungkin kegiatan Agustusan yang bisa mengumpulkan warga secara massal. Hanya saja itu hanya sekali setahun. Lain halnya dengan Masjid At Taubah yang punya “inheren moment”. Sebut saja Idul Adha. Moment yang bisa memanggil warga baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak secara suka rela menuju masjid di pagi hari. Padahal pagi seperti itu biasanya sibuk siap-siap ke kantor, membuat sarapan, atau bersiap ke sekolah. Bahkan lebih dari itu, dalam hitungan menit setelah ditunaikan sholat Id, warga kembali mendatangi masjid setelah pulang hanya untuk berganti kostum. Mereka paham benar bahwa hewan kurban telah menunggu.
Belum lagi momentum Ramadhan. Itu sebulan penuh warga beribadah tiap malam bersama-sama. Saling berbagi makanan buka. Tilawah sampai mengkhantamkan Al Qur-an. Hingga i’tikaf meninggalkan kenyamanan rumah, hangatnya selimut dan empuknya tempat tidur menuju kenikmatan serba “wah” untuk menggapai malam seribu bulan.
Memang seperti itulah kodrat masjid. Tempat peradaban dibangun. Tempat mencari dan menyediakan kebutuhan umat. Maka wajar jika Alloh menjanjikan naungan pada hari kiamat untuk orang-orang yang hatinya tertambat di masjid. Semoga kita semua termasuk golongan itu. Amien.

#ditulis untuk menenangkan rasa galau sepanjang rel Juanda-Depok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: