Khutbah 060412, Kewajiban Dakwah

Published April 10, 2012 by pembawacerita

Khutbah Pertama

Sidang Jumat yang dirahmati Allah

Harus kita ketahui bahwa setinggi apapun pangkat manusia, sehebat apapun jabatan manusia, sekaya apapun manusia, dan berbagai kelebihan luar biasa manusia, dihadapan Alloh jabatan paling mulia disandang manusia adalah sebagai seorang “hamba”. Siapa yang meragukan kehebatan Muhammad SAW yang orang kafir pun menempatkannya sebagai orang paling berpengaruh di dunia jauh melebihi pemimpin-pemimpin dunia lainnya. Namun manusia sehebat Muhammad SAW pun Alloh tetap memberikan  jabatan tertinggi manusia yaitu sebagai “hamba”. Hal ini tercermin dalam Surat Al Isra’ ayat 1:

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha

Jelas tercermin dalam ayat ini bahwa seorang manusia luar biasa bernama Muhammad SAW yang diberi anugerah Alloh berupa mu’jizat perjalanan antar daerah, antar waktu dan antar dimensi dalam satu malam, tetap saja jabatan tertingginya adalah “hamba”.

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk “hamba” Alloh yang paling mulia, paling baik budi pekertinya, pembawa kabar gembira dan peringatan bagi kita semua, dan acuan bagi kita bagaimana cara bertakwa kepada Alloh SWT, dialah Nabi Agung Muhammad SAW. Beliaulah seorang “hamba” Alloh yang telah dijamin masuk surga namun selalu menjaga konsistensi ibadah dengan ketakwaan yang kian bertambah.  Oleh karena bagi kita sebagai seorang “hamba”, yang tidak bisa ditandingkan dengan kemuliaan Muhammad SAW, maka tak layak bagi kita untuk tidak mengabdi, beribadah dan meningkatkan ketakwaan kepada Alloh. Melihat pelajaran berharga ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan sebagaimana yang telah Allah perintahkan dan diajarkan melalui Muhammad SAW dalam Surat Ali Imran ayat 102:

102.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Semoga dengan semangat takwa ini kita berniat dan bersungguh-sungguh untuk menyimak dan menahan rasa kantuk kita pada kesempatan khutbah Jumat kali ini dan akan selalu memperbaiki diri untuk datang lebih awal sebelum khotib naik ke atas mimbar. Amiin.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Alloh memerintahkan kita untuk bertakwa ini bukan untuk satu orang semata. Tapi Alloh menghendaki kita untuk menyebarkan nilai takwa secara bersama-sama. Oleh karena itu, dua ayat setelah perintah takwa diatas Alloh memerintahkan kita untuk berdakwah menyebarkan ketakwaan sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 104:

104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Berdasarkan perintah tersebut, kita memahami bahwa berdakwah yaitu amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban kita. Para ulama tafsir bersepakat atas kewajiban dakwah, kendatipun mereka berbeda pendapat mengenai jenis kewajibannya. Sebagian ulama menafsirkan waltakum minkum (yang terjemahannya dan hendaklah ada di antara kamu”) merupakan wajib ‘ain dalam berdakwah bagi setiap mukmin. Mereka memahami bahwa “min” dalam kalimat tersebut berfungsi menerangkan atau tabyin, sebagaimana “min” dalam Surat Al Haj ayat 30, yang menyatakan:

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu

“Min” dalam ayat ini yaitu minal autsan menyatakan penjelasan (tabyin) yang berarti seluruh berhala. Dan ini sangat logis karena tidak mungkin Alloh memerintahkan kita untuk menjauhi HANYA sebagian berhala saja. Ini lah dasar ulama menyatakan kewajiban dakwah merupakan fardhu ‘ain.

Pendapat ulama yang kedua adalah kewajiban dakwah merupakan fardhu kifayah. Hal ini karena secara tekstual ayat tersebut memang ditujukan untuk segolongan umat yang selanjutnya ditafsirkan sebagai golongan ulama karena mereka lebih mengetahui yang baik.

Walaupun terjadi perbedaan jenis kewajibannya, tapi terdapat titik temu dalam dua pandangan kewajiban dakwah tersebut. Muhammad Abul Fathi Al Bayanuni dalam kitabnya Al-Madkhol ila Ilmid Dakwah menyebutkan empat titik temu tersebut.

Pertama, kedua kelompok ulama bersepakat atas kewajiban dakwah. Kita tidak perlu berpanjang lebar disini, karena telah jelas bahwa dakwah adalah kewajiban, dakwah adalah kemestian.

Kedua, ulama yang berpendapat dakwah sebagai fardhu ‘ain membatasi kewajiban kepada mereka yang memiliki ilmu dan kemampuan. Oleh karena itu bagi kaum muslimin yang tidak memiliki ilmu maka mereka tidak dianggap mampu sehingga terlepas dari kewajiban ‘ain berdakwah. Secara faktual dapat kita contohkan sebagai berikut:

Seseorang yang tidak tahu keutamaan memakmurkan masjid, maka dia TIDAK MEMILIKI kewajiban mengajak untuk memakmurkan masjid. Tapi jika seseorang sudah mengetahui bahwa dalam Al Qur-an Surat At Taubah ayat 18 menyatakan:

18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Maka orang-orang yang sudah mengetahui keberadaan ayat ini WAJIB mengajak untuk memakmurkan masjid. Dia akan berdosa jika tidak mengajak untuk memakmurkan masjid. Jika tidak mengajak memakmurkan masjid saja kita berdosa, apalagi jika kita meninggalkan atau menjauhkan diri dari masjid. Naudzubillah min dzalik.

Titik temu yang ketiga, yakni ulama yang berpendapat bahwa dakwah merupakan fardhu kifayah memahami bahwa kewajiban itu tertunaikan apabila tersedia jumlah yang cukup untuk menyelesaikan beban-beban dakwah. Jika belum tersedia jumlah yang mencukupi (kifa’iyah), maka beban kewajiban dakwah masih terpikulkan kepada semua kaum muslimin laki-laki maupun perempuan. Secara faktual dapat kita ambil contoh sebagai berikut:

Syarat utama untuk memakmurkan masjid Allah adalah adanya masjid untuk dimakmurkan. Kita tidak akan mungkin memakmurkan masjid jika masjidnya tidak ada atau tidak aman atau tidak nyaman untuk dimakmurkan. Oleh karena itu masjid harus diadakan, diamankan dan dibuat nyaman sebagaimana kita melihat masjid kita, Masjid At Taubah, ini sedang dibangun. Apabila sumberdaya untuk membangun Masjid At Taubah, baik sumberdaya manusia, sumberdaya finansial, maupun sumberdaya material telah mencukupi untuk menyelesaikan pembangunan masjid, maka tak perlu semua orang melaksanakan pembangunan masjid. Cukup beberapa orang saja yang melaksanakan pembangunan masjid ini sebagai fardhu kifayah sehingga orang lain gugur kewajibannya. Namun apabila sumberdaya manusia, sumberdaya finansial, maupun sumberdaya material belum mencukupi untuk menyelesaikan pembangunan Masjid At Taubah, maka semua kaum muslimin dan muslimat, terutama umat Islam Gardenia WAJIB setiap individunya untuk turut serta berpartisipasi menyelesaikan pekerjaan dakwah berupa membangun Masjid At Taubah ini.

Sidang Jumat yang dicintai Alloh

Titik temu yang keempat adalah seandainya sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban dakwah ini telah tercukupi, nilai dakwah sebagai sebaik-baik perkataan tetap berlaku. Bukankah Alloh telah menyebutkannya dalam Surat Fushshilat ayat 33:

33. siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Sidang Jumat yang dimuliakan Alloh

Sungguh merupakan ancaman besar bagi kita baik secara pribadi maupun secara jama’i jika kita meninggalkan kewajiban dakwah ini.

Sekelompok orang yang memiliki kewajiban berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran ibarat para penumpang kapal. Sebagian penumpang ada di bagian atas, dan sebagian lainnya ada di bagian bawah. Penumpang yang ada dibawah harus naik terlebih dahulu jika hendak mengambil air. Hingga akhirnya mereka berpikir pragmatis untuk melubagi kapal agar mendapatkan air. Jika tindakan ini dilakukan maka tenggelamlah seluruh kapal dan penumpangnya. Itupun tidak pandang bulu, baik yang berbuat jahat melubangi kapal maupun yang bukan. Lantas siapa yang bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal? Pertama, yang pasti adalah penumpang yang melubangi kapal. Dan kedua, penumpang yang tidak mencegah perbuatan melubangi kapal itu serta penumpang yang tidak peduli akan kebutuhan air penumpang lainnya. Inilah perumpamaan dari Rasulullah Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya. Ini merupakan ancaman dan konsekuensi jama’i jika kita meninggalkan dakwah.

Dalam hadits yang lain, dari Hudzaifah r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Demi Dzat Yang menguasai jiwaku, kalian harus memerintahkan dengan kebaikan dan melarang dari kemunkaran. Atau kalau tidak, maka hampir-hampir saja Alloh menurunkan siksa kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak akan dikabulkan.” (HR Imam At-Tirmidzi). Jelas sekali dalam hadits ini bahwa kita terancam tidak dikabulkan doa kita oleh Alloh. Apa yang terjadi jika kita minta surga, tapi Alloh tidak mengabulkan? Apa jadinya jika dalam masa kemarau kita membutuhkan minum, doa kita tidak iijabah Alloh dan kita tetap dalam kekeringan? Betapa mengerikan jika dalam musim penghujan kita meminta agar air yang turun membawa berkah dan bukan bencana banjir tapi Alloh mengabaikan doa kita? Naudzubillah. Semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang berada di jalan dakwah. Amiin.

Khutbah kedua

Pada kesempatan khutbah kedua ini, khotib kembali mengajak para hadirin sidang jumat yang dimuliakan Alloh untuk bersama-sama meniti jalan dakwah ini. Dan jalan dakwah yang terdekat dengan lingkungan kita adalah memakmurkan Masjid kita, Masjid At Taubah. Oleh karena itu, marilah kita semua rajin-rajin dalam beribadah di masjid At Taubah. Marilah kita sholat berjama’ah di masjid ini, marilah kita mengkaji ilmu di masjid ini dengan menghadiri ta’lim-ta’lim yang ada, marilah kita bersama-sama membangun masjid kita ini berapapun dan apapun yang kita punya. Bukankah ini merupakan jihad yang dijanjikan Alloh akan dibebaskan dari siksa yang pedih bahkan lebih dari itu, kita akan diberikan Surga ‘Adn dan ditolong Alloh dalam segala hal kebutuhan kita sebagaimana tersurat dalam surat Ash Shoff ayat 10-13

10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

13. dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

Pada akhir khutbah ini, marilah kita berdoa kepada Alloh

Ya Alloh Ya Wasi’, Ya ‘Alim, Ya Aziz…kuatkanlah kami dalam mengemban amanah dakwah untuk menjalankan perintah-Mu demi ketakwaan kami kepada-Mu Yaa Robb. Berikanlah kesejahteraan kepada seluruh warga Gardenia sehingga tak ada alasan lagi bagi kami untuk tidak terjun dalam jalan dakwah ini Ya Ghoffar. Penuhilah segala kebutuhan kami, anak-anak dan istri kami agar kami bisa memenuhi kebutuhan dakwah terutama dalam membangun masjid At Taubah ini. Engkau lah yang Maha Kaya Ya Ghoniy, Engkau pula yang Maha Mengkayakan ya Mughni, maka jauhkanlah kami dari hutang dan kesewenang-wenangan. Engkaulah yang menjalankan Muhammad SAW dari masjidil haram, ke masjidil Aqsa, ke sidratul muntaha, maka sangat mudah bagi Engkau untuk memanggil kami dan memperjalankan kami untuk menjalankan ibadah haji. Ya Kholiq, jadikanlah anak-anak kami penyejuk pandangan bagi kami, jadikan mereka anak yang sholih, sholihah, cerdas, dan banyak hafalan Al Qur-annya melebihi kami. Ya Rozaq, berikanlah putra bagi sebagian kami yang belum Engkau peri kesempatan sebagaimana Engkau Memberi Ismail kepada Nabi Ibrahim as atau Yahya kepada Nabi Zakariya as. Kabulkanlah doa-doa dan keinginan-keinginan kami Ya Rabbal ‘alamin

Referensi: Menyongsong Mihwar Daulah-Pak Tjah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: