Semangat Haji…(barrier 2 Haji dulu apa Nikah dulu)

Published Juni 2, 2011 by pembawacerita

Seorang kawan bertanya kepada saya, “Wip, lebih baik mana, haji dulu apa nikah dulu?”. Saat itu saya menjawab, “Ente nikah dulu aja bro”. Sebenarnya sangat tidak pantas saya memberikan saran seperti itu. Karena permasalahan dari pertanyaan simpel itu mengenai fiqh. Sedangkan saya bukan ahli fiqh. Saya hanya bisa sedikit menggunakan akal untuk menyambung-nyambungkan beberapa kaidah. Pendapat saya itu memang saya tujuan secara khusus untuk kawan saya tadi. Jujur, secara pribadi saya khawatir, jika saran saya salah, bahkan tiak sesuai landasan syar’i. Maka sesampainya di rumah saya membuka kembali beberapa literatur.

Pada dasarnya setiap ibadah itu memiliki syarat wajibnya. Demikian pula haji atau nikah. Namun ketika kondisi-kondisi yang sama telah turun maka berlakulah fiqh prioritas. Dalam kondisi yang sama, mengingat haji hukum awalnya adalah fardhu (wajib) sedangkan nikah hukum awalnya adalah sunnah maka haji lebih diprioritaskan dibandingkan nikah. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh prioritas, mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah. Lantas bagaimana jika kondisinya tidak sama? Maka kondisi itu dapat menjadikan pertimbangan untuk mengubah prioritas.

Mampu. Satu kata itu merupakan syarat haji maupun nikah. Dalam haji dinyatakan dalam Surat Ali Imran ayat 97 “…Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu…”. Oleh karena dasar saya membuat tulisan ini adalah pertanyaan dari serang kawan yang masih muda, maka saya mengasumsikan semua yang membaca tulisan ini sehat secara fisik (ya iya…orang yang bertanya itu pecinta alam, penggemar naik gunung dan pemanjat tebing/dinding).  Syarat mampu dalam naik haji juga tercermin dalam kebutuhan biaya haji, minimal 30 juta per orang untuk haji reguler.

Lain halnya dengan ’mampu’ versi syarat kondisional menikah. Dalam redaksional hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra, syarat kondisonal menikah adalah ba’ah. Mampu. Saya pernah menulisnya di blog, bahwa ba’ah itu artinya mampu jima’. Banyak memang yang mempertanyakan “kalo belum punya uang untuk menafkahi bagaimana?”. Itu pun sudah ada solusinya. Pertama, puasa. Puasa dinyatakan dengan jelas dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud itu. Kedua, nekad. Tetap menikah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberikan kecukupan rejeki. Seperti pendapat Husein Tabataba’i (Doktor Cilik penghafal Al Qur’an), “Tidak punya uang tidak bisa dijadikan alasan. Bukankah Allah berfirman,”…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya…(QS 24:32)”

Dengan demikian mampu haji dan mampu menikah adalah parameter yang berbeda. Kalaupun ditandingkan masalah biaya, biaya menikah lebih murah dibandingkan haji. Asumsikan saja dengan acara sangat sederhana hanya membutuhkan biaya administrasi KUA 500ribu dan walimah dengan seekor kambing (yang gedean dikit) 2,5juta. Berarti hanya 3 juta, alias 10% dari biaya haji minimal. Kondisi ini selaras dengan kaidah memprioritaskan persoalan yang ringan dan mudah atas persoalan yang berat dan sulit.

Bagi saya pribadi, ketika telah menikah dan telah menyempurnakan separuh agama melaui pernikahan, maka ibadah haji akan lebih indah rasanya.”Barang siapa yang telah dianugerahi istri salehah, maka Allah SWT telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah untuk menempurnakan separuh yang lain (HR. Thabrani dan Hakim)”. Apalagi membaca iming-iming dari Rasulullah SAW. bahwa  “Shalat dua rekaat yang didirikan oleh orang yang sudah menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa disiang harinya yang dilakukan oleh seorang lelaki bujangan“. Kalo udah kaya gitu, apalagi hajinya orang yang suah menikah yak, kyaa…ga kukuuuu….

Sebagai akhiran dari coretan ini, saya sampaikan pendapat Syaikh Sayyid Sabiq alam kitab Fiqh Sunnah. “Jika seseorang , merasa perlu untuk menikah dan dikhawatirkan akan terjerumus kepada perzinaan, maka ia diwajibkan untuk mendahulukan pernikahan daripada kewajiban ibadah haji. Tetapi jika kekhawatiran itu tidak terjadi, maka ibadah haji lebih utama”. Dengan pendekatan bahasa Indonesia gaya selingkung (BPK banget ini), kata ‘dikhawatirkan’ itu menunjukkan kalimat pasif, artinya ‘seseorang’ itu menjadi objek. Dengan kata lain, jika ada orang lain yang mengkhawatirkan ‘seseorang’ itu bisa terjerumus dalam perzinaan, maka ‘seseorang’ itu perlu mempertimbangkan untuk menikah.

So…pesan khusus untuk kawan saya itu, menikah lah dulu kawan…

Wallahu ‘alam….

Sumber gambar

One comment on “Semangat Haji…(barrier 2 Haji dulu apa Nikah dulu)

  • Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

    ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

    Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata “…maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya”.

    Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

    Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

    Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

    Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

    Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

    Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

    Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

    Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
    Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: