Makar Sembilan Orang…Renungan Pagi ini

Published Mei 23, 2011 by pembawacerita

48.  Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.

49.  Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, Kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.

50.  Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.

51.  Maka perhatikanlah betapa Sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.

52.  Maka Itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang Mengetahui.

53.  Dan Telah kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.

Ini adalah takdir Allah, yg menggerakkan jemari an pikiran saya untuk merenungi makna Surat An Naml ayat 48-53 itu. Ketika Allah mengabadikan kisah Kaum Tsamud jauh dalam benak saya mengkhawatirkan kejadiannya paa negeri ini. Saya merasakan betapa kisah kaum Tsamud yang diwakili oleh Sembilan orang itu merencanakan makar kepada Allah kini dekat rasanya dengan kehidupan saya.

Dahulu, ketika Rasulullah SAW ‘gembruguh’ dibalik selimutnya, merasakan kegalauan atas kejahiliyahan umatnya, ditambah peristiwa di dalam gua yang begitu berat bagi seorang manusia, Allah justru menghujamkan azzam dalam hati Rasulullah SAW. Dalam konteks kekinian, peristiwa turunnya wahyu yang kedua itu bagi umatnya (yang senantiasa memiliki niat berjuang di jalan dakwah) adalah seruan untuk bangkit. Seolah Allah berkata kepada para pejuang dakwah, apakah kamu kira hari ini masih malam sehingga kamu masih nyenyak tidur di dalam selimutmu itu? Apakah kamu akan diam saja melihat berbagai kebathilan an kejahiliyahan di sekitarmu? Apakah kamu rela orang-orang yang lemah akan terus terdholimi? Apakah kamu tidak bergerak ketika ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat sedang merusak tatanan kehidupan? Maka BANGUN! Dan berilah peringatan!

Perkembangan selanjutnya dalam sirah nabawiyah, betapa berat misi Rasulullah ini dalam member peringatan. Hingga akhirnya Rasulullah harus berhijrah demi menegakkan agama. Makna hijrah ini pula yang menunjukkan kita, umat Rasulullah, setiap orang yang ada setitik keimanan dalam kalbunya, umat terbaik yang Allah ciptakan di muka bumi ini agar berhijrah demi menegakkan agama. Berhijrah untuk meninggalkan segala bentuk kebathilan menuju kebenaran (minal bathil ilal haq)

Ketika seorang pembawa perubahan diberikan wasiat untuk membedakan kebenaran dan kebathilan sehingga dia mampu mengarahkan perbaikan dari kebathilan menuju kebenaran, maka dia harus siap dengan konsekuensi pahitnya. Demikian pelajaran yang dapat kita peroleh dari kisah Abu Dzar Al Ghifari. Suatu ketika shahabat Rasul ini mendapatkan beberapa wasiat kebenaran dari Rasulullah. Diantara beberapa wasiat itu, adalah komitmen yang nanti akan membawa keteguhan dalam amal perbuatan untuk senantiasa mengatakan ebenaran meskipun pahit akibatnya (qullalhaq wainkana murron).

Komitmen inilah yang seharusnya terpatri dalam setiap umat Islam. Apalagi ketika dia mendapatkan amanah sebagai waliyyul hisbah (pemeriksa). Berat konsekuensinya ketika kebenaran yang dia katakan dapat berdampak tercorengnya sebuah citra. Sebuah pencitraan yang kini sedang marak dipertahankan sebagaimana mempertahankan kekuasaan dan kedholiman hakiki. Dalam kondisi seperti itu, waliyyul hisbah memiliki risiko untuk tetap menjadi ‘Abu Dzar Al Ghifari baru’, tetap komit dengan kebenaran, tanpa takut tercorengnya citra, intimidasi, ketakutan kehilangan kepercayaan dari rakyat, dan apapun konsekuensi lainnya. Karena ketika kebenaran dan kejujuran yang berbicara, sepahit apapun konsekuensinya akan indah pamungkasnya.

Namun sebaliknya ketika waliyyul hisbah mundur dari komitmen itu, lebih mempertimbangkan pencitraan dan bukan kebenaran hasil muhasabah, maka perbaikan atas muhasabah tersebut hanyalah semu. Bahkan apabila ditujukan hanya semata-mata untuk membohongi kebenaran itu sendiri, saya sangat khawatir ini adalah salah satu bentuk makar. Makar yang dalam surat An Naml diatas digambarkan tidak direncanakan oleh orang banyak, tapi hanya sembilan orang. Sembilan orang saja yang merencanakan makar kepada Allah, makar dengan menyembunyikan kebenaran, akan tetapi konsekuensi berikutnya yang sangat berat. Luar biasa berat. Karena Allah akan membinasakan tidak hanya mereka yang bersembilan itu. Tapi seluruh kaumnya pun terkena dampak makar yang mereka rencanakan. Ini sungguh ancaman yang maha dahsyat.

Dan diakhir renungan ini, saya berdoa, semoga Allah mengelompokkan saya dan orang-orang yang senantiasa berjuang demi tegaknya kebenaran dan demi berdirinya nilai agama ini (iqamatud diin) dalam kelompok orang-orang yang beriman, orang-orang yang senantiasa bertakwa, sehingga terhindar dari balasan makar yang lebih mengerikan. Amiin

2 comments on “Makar Sembilan Orang…Renungan Pagi ini

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: