Sensitif

Published Desember 3, 2010 by pembawacerita

Sore ini saia bertanya-tanya, apakah saat ini saia berada dalam kehidupan yang serba sensitif? Jauh dari jangkauan saia para pembesar sedang adu sensitivitas kekuasaan. Saia tidak berada pada pendapat mendukung salah satunya, karena bukan masalah itu yang ingin saia tulis di sini. Yang ingin saia tulis hanyalah sebuah pemandangan sensitif yang saia alami pagi ini. Pemandangan ini saia awali dari introspeksi diri saia sendiri. Pagi ini sensitivitas saia muncul ketika tiba-tiba ada motor ngebut yang menyerobot jalan lurus motor saia. Padahal hujan mulai turun, jalan mulai basah, ditambah kondisi jalan yang agak macet. Adrenalin saia berdesir dan saia pun berakselerasi mengejar penyalip saia. Hingga pas disamping penyalip itu, saia “memaksa” dia untuk minggir dari jalan persis sama dia “memaksa” saia ngerem mendadak karena serobotannya. Egois. Benar saia mengakui keegoisan itu. Hingga akhirnya istri saia mengingatkan, “Abi, kalo dia jatuh kan kasihan”. Astaghfirullah.

Di masa selanjutnya jarum jam terus mengejar jadual keberangkatan KRL dari Stasiun Depok Lama. Lagi-lagi saia melihat pemandangan sensitif. Orang-orang yang berdesakan antri tiket KRL. Dan setelah mendapatkan tiket dia lantas berbalik hingga saling senggol dengan pengantri lainnya. “Pelan-pelan aja knapa sih!!”, bentak salah seorang pengantri. Entah kesenggol apanya saia tak tahu. Astaghfirullah.

Masih berlanjut saat hendak menyeberangi rel. Dalam kondisi hujan hampir setiap orang mempercepat langkahnya. Hingga saling salip pun terjadi pula saat hendak menyeberangi rel. Entah mendengar atau tidak, peduli atau tidak mereka pada pengumuman yang memberitaukan bahwa jalur 2 dari arah Bogor ada KRL Ekonomi yang hendak melintas. Peluit Petugas pun tak kalah sensitif menderit-derit. Tapi toh tetep ada beberapa orang yang “ngeyel” menyeberang. Wal hasil ada suara keras, “Hoei, maksa nyeberang mau cari mati ya!!”. Astaghfirullah

Rangkaian kisah sensitif ini belum selesai sampai di sini. Ceritanya masih lanjut di dalam gerbong KRL. Seperti biasa saia tidak berminat dan berniat untuk rebutan tempat duduk. Saia lebih suka tenang, lantas meletakkan backpack saia di atas rak KRL. Hingga tiba-tiba seorang perempuan bercelana jins ketat dan kaos yang agak minim gaya “kamu bisa melihat” tergopoh-gopoh masuk ke dalam gerbong, melipat payungnya yang basah, meletakkannya di lantai lantas menaruh tasnya ke atas rak KRL. Entah apa yang diinginkan perempuan itu. Tiba-tiba saja dia mengambil kembali tasnya dan menjinjing payungnya kemudian buru-buru meninggalkan tempatnya. Namun belum juga melintasi gerbong sebelah, perempuan itu kembali ke tempatnya semula. “Oh…mungkin perempuan ini hendak mencari tempat yang lebih longgar”, batin saia begitu. Dia berdiri, mengatur nafasnya, berpegangan handle hingga terlihatlah lengannya yang tak seputih make up wajahnya. Saia lantas memalingkan wajah, entah karena tak ingin tercium aroma ketek-nya atau alasan lain. Apakah saia lagi sensitif? Astaghfirullah.

KRL pun berangkat, meninggalkan Stasiun Depok Lama untuk mengantarkan pelanggannya ke Sudirman-Tanah Abang. Sesampai Stasiun Depok Baru KRL berhenti untuk menjemput pelanggannya yang lain. Sehingga lebih banyak orang di gerbong KRL. Belum juga terlihat teratur nafas perempuan tadi. Dia mengambil payungnya di bawah dan menaruhnya ke atas rak KRL, tepat di atas tasnya. Dan “tes”. Setitik air jatuh dan menimpa lengan seorang lelaki yang duduk tepat dibawah rak. “Ck”, decak lelaki itu sambil menarik lengannya. “Biasa aja kali!” tandas si perempuan dengan nada sewot. Mulutnya yang tadi lebih banyak mengatur nafas kini manyun ke depan hingga tak ada lagi aura cantik di wajahnya. Astaghfirullah. Sensitif lagi.

Ada apa pagi saia kali ini? Apakah saia mengawalinya dengan sensitif hingga rangkaian peristiwa sensitif lain membuntuti saia?

Astaghfirullah….Astaghfirullah…Astaghfirullah…

One comment on “Sensitif

  • Salam… .

    Perjalanan yang membutuhkan banyak waktu mungkin, Astaghfirullah….bukan pada tempatnya Ane mengomentari hal-hal yang ghaib, hal-hal yang Ane sendiri tidak melihat, Astaghfirullah….maafkan Ane….Ane hanya bisa bisa menilai secara lahir

    Pada akhirnya Ane mengucapkan semoga setiap hari dengan diawali senyuman dan ucapan “Bismillah”

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: