naksir

Published Maret 20, 2009 by pembawacerita

dari depan kelihatan bahwa pemiliknya memiliki selera keindahan. warnanya kuning keemasan. tembok pagarnya dilhiasi dg ornamen batu. pintu gerbangnya cukup sederhana. jeruji besi kotak warna hitam dengan model sliding, disisi lain ada pintu masuk kecil yg pakai engsel.

tamannya kecil. dihiasi dengan hijau rumput dan sebuah pot yang bertengger perdu kemangi (hm…enak buat lalapan nih). garasi tanpa atap terlihat lebih bersih karena sudah direnovasi. bukan hanya garasi, teras kecilnya pun meniupkan rasa nyaman ketika kongkow-kongkow disitu sambil melihat ke depan yg persis bertatapan dengan si taman kecil. tapi pemandangan menjadi lebih luas, karena depan rumah bukanlah bangunan. melainkan sungai yang DAS-nya ditumbuhi berbagai pohon dan rimbun bambu. hm…terbayang ketika siang hari panas menyengat dan tubuh penuh keringat, tiba2 datang menggelitik angin sepoi-sepoi diiringi gesekan biola bambu dan gemericik tarian air sungai. menjadikan bayangan suasana kembali ke rumah di kampung.

pintunya masih pintu yang lama. sederhana juga. tapi ketika terbuka membuat hati ini terpesona. terlihat tempat yang sangat lapang. karena ruang tamu, ruang keluarga dan dapur di desain tanpa sekat. seolah sepanjang rumah hanya satu ruangan kelas saja. toilet yg lama pun telah di pugar dan dipindahkan di bagian belakang. tak ada yang berubah dengan dua kamar tidurnya. hanya pewarna kuning emas yang menjadikannya serasi.

tak ada sekat permanen antara ruang tamu dengan ruang keluarga. namun jelas didesain pemisahnya berupa ‘gapura’ yang bagian atasnya dibentuk melengkung dan dihiasi ornamen batu. hm…ruang keluarganya juga begitu luas. karena tak terpisahkan dengan dapur kecilnya. sehingga pandangan seluruh lebar rumah seolah menjadi ruang keluarga semua. dapurnya kecl. melingkar siku-siku meja dapur permanen didesain. di sebelah dapur sengaja dibiarkan sekotak lantai tanpa keramik dihiasi bebatuan yg mengesankan kenyamanan. cahaya mentari menerobos tegak lurus menembus atap kaca diatasnya. lantai sekotak kecil itu menjadi taman dalam ruang.

tepat disebelahnya berdiri tempat melepas penat, mengikhlaskan kepergian racun2 kehidupan, membersihkan badan dan menyegarkan tubuh berikut tempat ide liar terlintas. toilet itu berada di pojok belakang rumah.

jujur, saia naksir rumah ini. tapi saia tidak bisa memutuskan sendirian. saia pun juga tidak tahu apakah ini rumah terbaik yang akan Allah berikan. saia hanya yakin dan sebenar2nya yakin. jika rumah itu adalah yang terbaik bagi saia, tentu Allah akan segera memberikannya pada saia. namun bila bukan yang terbaik,saia yakin, Allah akan memberikan yang lebih baik dan terbaik buat saia dan keluarga.

*** slap…!!! ***

tiba-tiba teringat dengan tulisan yang saia tulis waktu mengisi kejenuhan dikala diklat auditor. Jumat, 1 Juli 2005, pas banget sama milad ibu. saat saia menulis itu, umur saia sudah 22 tahun 28 hari 9 jam 4 menit ….detik. saia menuliskan, saia hanyalah laki-laki yang membutuhkan:
1. kendaraan yang bisa dibawa kemana langkah saia pergi
2. istri yang sholehah, yg senantiasa mendampingi saia dikala sengsara maupun gembira, yang mampu mengingatkan saia dari salah dan dosa, yg mampu memberi input pemikiran dan ketenangan, yang jamil untuk menjaga pandangan saia yg lemah, jamil buat saia saja tapi tdk untuk orang lain, yang….yang….yang…
3. rumah yang lapang, nyaman dan menenangkan

Ya Allah…saia mengharapkan yang ketiga sekarang. Saia mohon dengan sangat…mohon dengat sangat…mohon dengan sangat….(*Kiamat sudah Dekat mode: ON)

2 comments on “naksir

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: