Hikmah Kereta…Pulang ke Trenggalek

Published Februari 11, 2009 by pembawacerita

Nah kalo cerita ini beda dengan perjalanan kembali ke Jakarta. Kami ga jadi naik Bengawan ke Solo karena tempat duduk habis. Akhirnya kami naik Progo ke Lempuyangan, Yogjakarta. Dengan harapan sampai di Lempuyangan, Kereta Api Sri Tanjung jurusan Yogja-Banyuwangi masih keburu. Dan Alhamdulillah benar2 keburu hingga kami bisa sampai Madiun.

Di atas Kereta Progo, saia dan istri terlelap. nyenyak sekali. apalagi istri yang seharian survei. tak ada cerita spesial di Kereta Progo. kecuali tidur pulas.

Turun di Stasiun Lempuyangan, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket Sri Tanjung. Information Desk di Stasiun Lempuyangan tak henti-henti mengingatkan kepada penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Solo-Madiun-Banyuwangi agar segera membeli tiket Kereta Sri Tanjung. 17ribu per orang untuk sampai Madiun.

Kami langsung mencari tempat duduk yang kosong di atas Kereta Sri Tanjung. maklum, tiketnya tetulis tiket bebas. maka siapa cepat dia yang dapat. tapi ga khawatir, karena penumpang belum banyak.

Di depan kami ada ibu setengah baya duduk sendirian. “Beruntung mas dapat tiketnya”, tiba2 ia berkata. “Sri Tanjung bidhalipun rak nggih ngrantos Progo dugi to bu? kersanipun pikantuk penumpang” [Sri Tanjung berangkat bukannya nunggu Progo nyampe ya bu? biar dapet penumpang], saia menanggapi. “Enggak mas, biasanya memang berangkat tepat waktu, ya setengah delapan, beruntung ini tadi Progonya ga terlambat”, dengan bahasa Indonesia medhok si ibu menjelaskan.“Ibu badhe tindak pundi?” [ibu mau kemana?], istri saia bertanya. “Saya mau ke Klaten”, masih dengan logat medhok. tak lama kemudian si ibu mengeluarkan dua buah kardus berisi bakpia pathok. lantas dia mengambil beberapa dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. dia kemudia memindahi kardus2 bawaannya. Oh rupanya dia seorang wiraniaga di atas kereta. Hebat ya ibu itu…

Sepeninggal ibu itu, tempat duduknya tiba2 diduduki seorang bapak setengah tua. tadinya ia duduk dibangku sebelah. tapi ia kindah ke bangku depan kami, ya…mungkin mencari tempat yang longgar. Tapi mukanya sayu. terpancar kesedihan mendalam di wajahnya. Saia pun membuka pembicaraan, “Badhe tindak pundi pak?” [mau ke mana pak?]. “Solo”. “Bapak nyambut wonten Solo?”, tanya saia. “Gimana dek?”. ups…kok nadanya seperti logat sunda, begitu batin saia. Saia ulangi pertanyaan saia, “Bapak nyambut wonten Solo?”. “Maaf dek, saya tidak bisa bahasa jawa”. “Oh…maaf…maaf…pak. Bapak bekerja di Solo?”. “Ini dek saia mau cari dagangan, kunyit kuning yang kecil-kecil itu loh”. “Buat jamu ya pak”. “Bukan, buat pewarna tahu. Kan sekarang teh ga boleh pake pewarna buatan yah. suka dicekal petugas kalo tetap pake pewarna buatan”.

“Tapi namanya juga musibah ya dek ya”, tiba2 air mata si bapak menetes. “Bapak dicopet”, iapun berdiri sambil menunjukkan saku celananya yang koyak. “Tadi bapak ketiduran. waktu bangun orang disamping bapak sudah tak ada”. “Terus bapak jadi beli kunyitnya? kembali ke Bandungnya gimana nanti pak”, tanya saia. “Ini nanti bapak berhenti di Purwosari, semoga disana nanti bapak nemu truk yang ke Bandung, biar bapak bisa numpang pulang”. Saia dan istri berpandangan. Masya Allah…kami tak boleh hanya diam tak membantu. “Bapak Bandungnya dimana pak? saia pernah ke Bandung, ke Cicaheum, trus makan bakso di Padasuka, minum yoghurt di Cisangkuy, main juga ke ITB, ke Masjid Salman”, cerita saia untuk sekedar mengalihkan perhatian bapak dari air matanya. “Bapak di Cibaduyut dek. Iya…di Padasuka itu enak baksonya. terkenal sampai kemana-mana. Bapak juga sering main ke Masjid Salman. Aduh dek…adeeemmm rasanya kali masuk masjid itu. anaknya muda-muda, santun-santun, seneeenngg bapak kalo melihat pemuda-pemuda seperti itu. sudah pinter bisa kuliah di ITB, ngajinya rajin pula”. Perbincangan pun berlanjut karena si Bapak begitu semangat menceritakan pengajian dan interaksinya dengan Masjid Salman. Saia dan istri berulang kali berpandangan, banyak juga tsaqofah bapak ini dengan pergerakan dakwah.

Diantara cerita2 si bapak, tiba2 datang pedagang asongan bakpia pathok. seolah begitu kenal dekat dengan si bapak. bapak pedagang asongan ini ‘nggrapyaki’ [ngobrol ramah] dengan si bapak. lantas si bapak pedagang asongan cerita kepada kami, bagaimana ia bertemu si bapak sunda itu di stasiun. hingga akhirnya mereka dekat seperti saudara sendiri.

“Kalo mas naik kereta ke Yogja, tanya saja sama pedagang asongan bakpia, kenal sama pak Toha. pasti banyak mereka yang kenal. wong umur saia ini sudah tujuh puluh tahun dan pekerjaan saia sehari-hari adalah ngasong begini. Rak yo harus banyak bersyukur, dene bapak umure wis ngluwihi Rasulullah….” Tiba-tiba istri saia meremas erat lengan saia. “Lha iya to, Rasulullah itu umurnya 63 tahun. Lha bapak diberi untung 7 tahun, kok ga bersyukur gimana. alhamdulillah dengan ngasong begini dik, bapak bisa menyekolahkan anak bapak. Empat orang sudah sarjana semua. ya untung lagi to, wong bapak dulu cuma medhot [putus] kelas 3 SR [Sekolah Rakyat], tapi anaknya sarjana semua. Orang tua itu merasa untung dik, kalo anaknya melebihi orang tuanya. jangan sampai anaknya sama atau bahkan lebih buruk dibanding bapaknya”. Saia menyimak hikmat pidato Pak Toha, yang menurut saia saat ini jauh lebih indah dibanding janji-janji politisi muda yg hanya mencari kerja dengan magang jadi Caleg. “Alhamdulillah lagi, dengan ngasong begini bapak bisa naik haji pada tahun 2004. trus umrah tahun 2006”. Saia terbelalak dengan cerita Pak Toha. Masya Allah, luar biasa bapak ini.

Setelah cerita tentang dirinya, Pak Toha kembali membuka pembicaraan dengan si Bapak Sunda. “Lha terus nanti kembali ke Bandung naik apa pak?”, tanya Pak Toha. “Cari tumpangan di Pasar Purwosari pak”. “Terus buat makan sudah ada?” sergah Pak Toha. Si Bapak Sunda hanya diam tak menjawab. “Pak Toha lantas mengeluarkan uang 20 ribu kemudian diberikan ke Bapak Sunda. Binar wajahnya kontan berubah, air matanya bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata syukur dan bahagia, “Jazakallahu khairan katsir, ya pak”. Istri saia kembali meremas lengan saia. Saia sendiri merasakan haru biru seperti ditengah samudera. istri saia berbisik, “Mas…Jazakallah khairan katsir, katanya”. iya…saya pun mendengarnya persis seperti itu.

“Pak Toha ini sudah seperti saudara sendiri dek. Hanya saya belum sempat main ke rumah. InsyaAllah saya dan istri main ke rumah pak Toha ya Pak. Dek sebentar lagi sudah Purwosari. Kalo adek main ke Bandung mampir Cibaduyut ya, cari saja pak Cecep. atau tanya saja orang disana Pak Haji Cecep Nikmat, insya Allah semua orang tahu kok”. Masya Allah…bapak sunda ini…pantesan obrolan dengan bapak sunda ini sarat dengan tsaqofah Islam. rupanya Allah telah memberikan hikmah di atas Sri Tanjung ini. Ketika Sri Tanjung memasuki Stasiun Purwosari, Pak Haji Cecep Nikmat bergegas pamitan pada Pak Toha, saia, dan istri. Pertemuan kami begitu mengesankan seolah saia tak rela untuk meninggalkannya. Saia kejar Pak Haji Cecep Nikmat dan saia bisikkan, “Semoga Allah mempertemukan kita kembali pak”. Kembali air mata Pak Haji Cecep Nikmat menetes, sambil berkata “Jazakallahu khairan katsir, ya dek”.

Sepeninggal Pak Haji Cecep Nikmat, saia dan istri masih melanjutkan perbincangan dengan Pak Toha. hingga akhirnya pak Toha memberikan pesan kepada kami, “Kalian ini masih pengantin baru, harus titi gemi [hati-hati dan hemat]. Jangan noleh kemana-mana, sebelum kamu punya satu hal. RUMAH. pokoknya sebelum punya rumah jangan punya keinginan lain. Pak Toha ini orang kuno, tapi ya begini hasilnya”. Saia pun manggut-manggut sepakat, karena saia sepikiran dengan Pak Toha. “Doakan kami ya Pak Toha”. “Iya, Pak Toha ini bisanya ya berpesa dan mendoakan begitu. Tapi itu jangan dianggap sepele. Seperti pedagang asongan begini. jangan disepelekan. bapak ngasong begini bis menyekolahkan anak, menghidupi keluarga tanpa kekurangan, bisa naik haji dan umrah, terus bisa punya kos-kosan yang sekarang banyak disewa mahasiswa. Ngasong itu ‘ngaso nggo mangan’ [istirahat buat makan]. tapi ya jangan menuntut lebih. adanya nasi sama rempeyek, ya dimakan itu saja. nanti makan enaknya di rumah saja, jangan diluar. Orang ngasong itu penyakitnya tiga lho dik. Mendem [mabok], main [judi], dan medok [zina]. Kalo tiga penyakit itu bisa dihindari, terus ditambah titi gemi, insya Allah berhasil”. Saia semakin curiga, bapak ini pasti bukan pedagang asongan biasa.

Dan benar. “Pak Toha ini kerjaannya ya ngasong begini. daripada jalan-jalan saja di rumah ga dapat apa-apa, lebih baik jalan2 di kereta tapi dapat uang belanja to dik? Ya kalo di kereta panggil saja Pak Toha. Walau ngasong begini, tapi kalo di rumah bapak ini sering dipanggil orang2 buat ngisi pengajian. Mereka tahunya Pak Haji Muhammad Toha”. “Masya Allah”, spontan saia dan istri ucapkan. “Ini tadi Pak Kyai Haji to”. “Ya itu kalo di rumah dik. kalo di kereta, panggil saja saya, Pak Toha”.

8 comments on “Hikmah Kereta…Pulang ke Trenggalek

  • Bro..critamu tentang “pak haji asongan” tak copine neng blogku yoo..aku terinspirasi dan mudah2an iso menginspirasi pembaca yg lain..lha nek pedagang asongan ae (meskipun bukan asongan biasa)iso munggah kaji, terus awake dewe piye kudune..

    nek ok tolong konfirmasi neng blogku..thankQ

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: