Hikmah Kereta…Balik ke Jakarta

Published Februari 11, 2009 by pembawacerita

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menikmati udara pagi di Depok yang segar. Yah…tak beda jauh dengan udara pagi di kampung Trenggalek.

Kemarin pagi menjelang siang, saia dan istri sudah kembali di Depok setelah dag dig dug semalaman di KA Brantas. Ekonomi lagi Ekonomi lagi! Lagi-lagi Ekonomi! Ga masalah, toh saudara saia yg sekarang di ostrali menempatkan KA Brantas sebagai angkutan favoritnya, mpe saia bilang dia masinis Brantas (pis yo Mil…hehehe). Kenapa Dag…Dig…Dug…
Rupanya perjalanan menuju Jakarta kali ini Allah memberikan hikmah dengan cara yang berbeda. Beda dengan waktu pulkam ke Trenggalek hari Kamis lalu. Hari Senin yang mendebarkan.

Saia membawa satu keril penuh berisi barang2 dari Trenggalek, ditambah satu kardus di tangan. Adapun istri saia punggungnya dibebani  backpack, di tangan kanannya menenteng satu kardus juga, dan tangan kirinya membawa sebesek keripik tempe khas Trenggalek. Ketika Brantas sampai di Stasiun Madiun, kami segera menuju Gerbong 6 dengan nomor tempat duduk 10D dan 10E. Tak banyak bicara, saia naikkan semua barang2 yang berisi oleh2 dan dagangan saia ke ‘kabin’ Brantas. Setelah itu saia duduk dan merasakan kekhawatiran.

Mengapa khawatir? rupanya yang membuat saia khawatir adalah orang yang duduk di depan saia. Bukan bermaksud menjustifikasi atau menduga2 tanpa alasan. Jika di depan anda ada seorang laki2 kurus memakai anting di sebelah telinganya, memakai kalung rantai, menggunakan cincin di ibu jari kirinya, ditangan kanan juga nampak cincin di jari tengahnya, kuku-kukunya terlihat kutek warna  biru baik yang masih utuh memenuhi permukaan kukunya atau yang sudah rusak, tubuhnya dibalut jaket buluk lengan panjang dimana lengannya tidak dikancingkan namun dia tarik2 sepnjang jalan untuk menutupi tangannya, lantas salah satu tangannya menggenggam korek gas dan sesekali menggigil dengan nafas yang berat sambil mengusap2 lubang hidungnya,…kira2 apa yang anda pikirkan? menurut anda siapa orang ini sebenarnya?

Di tengah ke khawatiran saia tiba2 laki2 itu bertanya,“Tanah Abang karo Jatinegara iku dhisikan endi?” [Tanah Abang dan Jatinegara duluan mana?]. “Jatinegara mas”, dalam hati saya mengira bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta. Dia kemudian diam, saia tak berani menatap wajahnya. Istri saia rupanya takut juga, hingga ia semakin mendekatkan dirinya ke tubuh saia. Saia berusaha menenangkan diri, namun kembali khawatir ketika laki2 itu kembali bertanya,  “Sakdurunge Tanah Abang lewat Bogor yo?” [Sebelum Tanah Abang lewat Bogor ya?]. “Enggak lewat Bogor mas, lewat Bekasi”. “Mudun Tanah Abang utowo Jatinegara mbayare podho yo?” [Turun Tanah Abang atau Jatinegara bayarnya sama ya?]. “Iya mas”. Saia pun semakin yakin bahwa laki2 ini belum pernah ke Jakarta.

“Panjenengan nyambut damel wonten Jakarta mas?” [Kamu bekerja di Jakarta, mas?], saia berusaha mencairkan suasana sambil berusaha menutupi kekhawatiran saia. “Enggak! Aku nganggur”. Saia diam. hening lama.

“Wonten Jakarta sampun kagungan jujukan, mas?” [Di Jakarta sudah punya tempat yang dituju, mas?]. Saia semakin berani mengorek informasi dari laki2 ga jelas itu. “Wis. Neng nggone kancaku?” [Sudah. Ditempat temanku]. hening lama.

Saia masih dag dig dug ga karuan. apalagi ketika melihat laki2 itu menggigil, dengan nafas berat, meremas-remas korek gas sambil menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya, lantas mengusap lubang hidung dengan ibu jarinya beberapa kali. Persis dengan orang yang lagi sakaw.

Saia sadar bahwa saia harus tetap waspada. akhirnya merancang rencana jaga diri dengan istri saia. tentu dengan bahasa yg saia dan istri saia ngerti tapi laki2 tu ga ngerti. of course, in english. kami memutuskan untuk berjaga gantian. waktu istri saia tidur, saia yang jaga. dan sebaliknya, waktu saia tidur, istri yang jaga. dan keputusan untuk waspada sepanjang jalan itu semakin bulat setelah saia dengan tidak sengaja melihat salah satu tangan laki2 itu penuh dengan belas luka sayatan. pantesan dari tadi ia berusaha menarik-narik lengan jaketnya untuk menutupi tangannya.

Ditengah jalan ia meminta ijin kepada saia untuk merokok. setengah takut saia bilang, “Monggo mas, tapi yen pas sepure mlaku yo, soale yen pas sepure mandek, beluke rokok ga metu ko gerbong, mesakne bojoku mas” [Silakan mas, tapi kalo pas keretanya jalan ya, sebab kalo pas kereta berhenti, asap rokoknya ga keluar gerbong, kasihan istri saia mas]. Ia pun menghisap rokok dengan nafas berat dan cepat. hingga tak lama kemudian batang rokoknya habis.

Demikian seterusnya di sepanjang jalan, laki-laki itu telah memberikan pelajaran kepada saia dan istri saia, bagaimana caranya waspada disepanjang jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: