Memoar Aceh (3)

Published Oktober 26, 2008 by pembawacerita


Hari ketiga di Aceh. Hari di saat istriku harus sendiri tanpa kehadiranku disisinya esok pagi. Hari ketika aku harus sendiri tanpa ada bidadari disisi. Siang itu aku akan kembali ke Jakarta. I want to be by your side in everything that you do-Firehouse.

Setelah pamitan ke pegawai di kantor istriku, kami menuju Baiturrahman. Bus menuju bandara parker di sana. Sambil memanfaatkan waktu sebelum bus berangkat, kami kembali mengambil gambar di depan masjid indah itu.

di depan Masjid Baiturrahman

di depan Masjid Baiturrahman

Perjalanan bus Damri ke bandara itu hanya berisi tiga orang. Sopir, aku, dan istriku. Tak lepas tangan bunga cintaku itu kugenggam. When I look into your eyes, I can see how much I love you and make me realize-Firehouse.

Istriku…tabahkan hatimu. Percayalah aku pun selalu rindu. Yakinlah…kita akan segera bersama lagi. Biarlah Rabb yang menyaksikan bulir-bulir air mata kita menetes mengemis kemurahan-Nya. Memohon dengan penuh harap agar kita selalu bersama dalam kebaikan. Seperti doa yang kita ucapkan sehabis shalat sunnah setelah akad nikah. Wahai Alah, satukanlah kami bila hendak Engkau persatukan dalam kebaikan; dan pisahkanlah kami bila hendak Engkau pisahkan dalam kebaikan. Aku yakin istriku…Allah tahu bahwa kita memilih yang pertama. Maka yakinlah perpisahan ini adalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Hingga kebaikan pula yang akan menyatukan kita dalam kebersamaan. Kebersamaan dalam meniti perjuangan yang tak lekang oleh kecongkakan zaman. Anggaplah perpisahan ini hanyalah sebuah latihan sebagai ghuraba, orang-orang yang berada dalam keterasingan, yang sedang berjuang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia.

Rembulan dilangit hatiku. Menyalalah engkau selalu. Temani kemana mesti ku pergi. Mencari tempat kita tuju. (Seismic)

2 comments on “Memoar Aceh (3)

  • hff…ana jd terharu baca cerita antum..soalnya hmpr mirip dg kisah ana dg suami…mirip sekali..
    ana dan anis mmg senasib..
    hiks, mengharukan..ana inget detik2 terkhir di taksi menuju bandara Juanda jg hny 3 org, ana, suami dan sopir taksi…
    yah…bener smg perpisahan sementara ini adalah kebaikan yg Alloh berikan untuk kita. smg kebaikan pula yg akan menyatukan kita kmbl

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: