Memoar Aceh (2)

Published Oktober 26, 2008 by pembawacerita


Pagi sejuk hari kedua di Banda Aceh dihiasi dengan keramahan seorang jama’ah masjid yang memboncengku mencari tempat ibadah Shubuh. Waktu terus berlalu dengan tagan istriku yang lekat dalam genggamanku.

Maman, teman mengadu idealisme di kampus STAN dulu, memanggil. Dikerjain abis aku. Ngopi Ulee Kareng hanya dengan hanya kostum celana kolor dan jaket tidur yang melekat di tubuh. Cuci muka saja belum. Tapi ta apa, banyak juga pelanggan kopi yang hanya sarungan. Begitulah kebiasaan orang Aceh, ngopi. Kopinya mungkin hanya secangkir, tapi bahan pembicaraannya segudang. Mulai dari masalah politik, partai lokal, pemerintahan, olah raga, kemasyarakatan, pendidikan, dan segala hal topik lainnya. Aku, Maman, dan Ujang tak bias berlama-lama di kedai kopi itu. Teman-teman ku itu harus segera ke kantor. Dan aku juga harus silaturahmi ke kantor istriku.

Badan Pusat Statistik, Kanwil Banda Aceh. Di gedung itulah istriku memperjuangkan ilmu dan idealismenya. Cerita-ceritanya tentang perjuangannya itu semakin membuatku cinta. Aku merindukanmu istriku. May be my love will come back some day, only heavens know-Rick Price.

Acara silaturahmi itu berlangsung hingga siang hari. Hingga sore harinya sengaja akan kami habiskan untuk jalan-jalan di Banda Aceh. Tentu ditemani dua teman baik kami, Bang One dan Ely. Kami makan siang dengan menu Ayam Tangkap di sebuah restoran di depan tanah yang sedang dibangun gedung BPK Perwakilan Banda Aceh. Hm…maknyuss rasanya.

Sasaran pertama adalah Kapal Apung di Ulee Lheue. Kapal besar itu adalah pembangkit listrik tenaga diesel yang pada mulanya berada di tengah lautan. Namun tsunami telah menyeretnya hingga ke daratan. Begitu besar dan kokoh. Berdasarkan informasi yang aku dapat, hingga saat ini pembangkit listriknya masih beroperasi.

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

diatas kapal apung yg terseret ombak ke daratan

Perjalanan selanjutnya menuju pekuburan masal, masih di Ulee Lheue. Perjalanan ke pekuburan itu menuntut perhatian ekstra. Karena jalan-jalan sedang dibangun sehingga banyak material di sekitarnya. Masih di Ulee Lheuu, kami menuju pelabuhan ferry yang menghubungkan pulau Sumatera dengan Pulau Sabang. Sabang…kota tempat Ely akan bertugas. Dia dimutasi dari Kanwil BPS Banda Aceh. Praktis, ia tidak sekamar lagi dengan istriku. Dialah perempuan yang begitu setia menemani istriku ketika sedih dan senang selama istriku di Banda Aceh. Semoga Ely mendapatkan keberkahan yang berlipat ganda. Trima kasih ya Ely…

Dari Pelabuhan, aku di bawa Bang One ke Masjid Teuku Umar. Masjid yang khas, karena hanya satu di Banda Aceh masjid dengan kubah seperti topi Teuku Umar. Tidak seperti masjid lain yang berkubah bulat. Masjid itu masih sedang direnovasi. Bekas-bekas bencana masih terlihat jelas di area masjid itu. Semoga menjadi masjid yang dimakmurkan oleh masyarakat dan menjadi basis kebangkitan umat.

Sore menjelang. Kini saatnya perjalanan berdua saja. Aku dan istriku. Melihat keindahan Baiturrahman ketika mentari masih bersinar, lantas ke pantai Ujong Batee. Pantai yang gambarnya bersatu dengan puncak Gunung Lawu di undangan pernikahan kami. Hamparan pasir luas itu mementuk ukiran gelomban karena pasirnya tak kuasa menahan hembusan angin. Tapi sang angin tetap tak kuasa menghempaskan bebatuan yang berkumpul kokoh. Semoga jiwa-jiwa kami sekokoh bebatuan itu.

Malam mulai menjelang, dan kami pun segera pulang. Istriku…dengarkan…You are all I need beside me girl; you are all I need to turn my world-White Lion.

One comment on “Memoar Aceh (2)

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: