Memoar Aceh (1)

Published Oktober 26, 2008 by pembawacerita

Baru dua pekan kami melangsungkan pernikahan. Seolah baru kemarin walimah di Trenggalek dilangsungkan. Begitu sekejap rasanya ketika kami menangis berdua dalam beberapa kesempatan setelah shalat berjama’ah. Tapi kami harus terpisah jarak. Istriku tercinta harus ke Aceh sedangkan aku di Jakarta.

Begitu cintaku padanya, tak rela melepas kepergiannya sendirian. Walau realisasi transportation cost mengalami over-budget, tapi tak masalah, selama aku bisa memegang tangannya lebih lama. “Just listen my lovely wife, I am here for you honey…when you need a shoulder to cry on, someone to rely on, I am here for you, when you need a someone to hold you, remember I told you, I am here for you (Firehouse)”. Tak kulepas genggaman tanganku hingga mendarat di Aceh. Dan kubiarkan kepalanya bersandar di bahuku hingga suasana Serambi Mekah membangunkan lelapnya.

Ba’da dhuhur hari pertama aku di Aceh hujan turun membasahi kebersamaan kami. Seolah alam menyapa kami berdua untuk tidak keluar rumah. Cukup berdua dan menikmati keberduaan yang penuh berkah. Hingga Asar menggaung indah, kami baru melangkah keluar rumah setelah menunaikan sujud ibadah. Mendapatkan pinjaman sepeda motor dari Bang One berkeliling-keliling Banda Aceh. Menikmati udara sejuk dan sesekali bintik hujan menyapa tubuh kami. Hingga rintik hujan semakin lebat, dan Maghrib pun memanggil. Kami melangkah menuju Baiturrahman. Masjid mewah di pusat kota Banda Aceh. Indah dan megah. Ribuan burung walet berterbangan menghiraukan hujan hanya untuk berdzikir dan menghiasi langit Baiturrahman petang itu.

Hujan kembali mengguyur Banda Aceh selepas maghrib. Kesempatan di dalam masjid megah itu kami manfaatkan untuk mengabadikan keindahannya. Hingga Isya memanggil, hujan masih menguyur mesara bumi Serambi Mekah. Hujan mulai reda ketika shalat Isya rampung. Dan kami pun bergegas memburu makan malam. Sepiring berdua begitu mesra. Walaupun toh akhirnya nambah juga, tapi tetap saja suasana indah dan panggilan lapar menjadikan makan malam itu begitu lezat.

sehabis shalat maghrib berjama'ah di masjid Baiturrahman, Banda Aceh

sehabis shalat maghrib berjama

Rintik-rintik hujan masih malu-malu meninggalkan kami. Kami bergegas ke rumah Ujang Hamdani. Saudara seperjuangan di STAN. Kebetulan istrinya akrab dengan istriku. Hhuff…sambil menahan dingin, tubuhku mulai basah. Walau hanya titik-titik gerimis, tapi jika terus menempa tubuhku, akhirnya tebus juga jaketku. Basah kuyup hingga sampai di rumah Ujang. Dan dihangatkan secangkir kopi Ulee Kareng buatan istri Ujang. Begitu nikmat sambil berkelakar. Trima kasih ya Jang….

Malam semakin pekat, dan kami harus segera kembali ke kontrakan Bang One. Dialah yang menyediakan fasilitas mobilitas dan stabilitas selama aku di Banda Aceh. Bang One terima kasih banyak…

Malam itu dingin, sejuk dan indah. Seindah qiyamul lail pertama di tanah sumatera…

7 comments on “Memoar Aceh (1)

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: