Ceramah Pak RT

Published September 16, 2008 by pembawacerita

Beberapa malam lalu, Pak RT, Ustadz Adjma Ibnu Udja (hm..katanya sih udah pengen diganti. Bocorannya sih kandidat penggantinya Pak T#sr*p*n) dapat jadual ceramah di As Sa’adah. Benar-benar isi ceramah yang banyak menyindir. Seperti penutup ceramahnya, “Kalo ga menyindir, bukan ceramah namanya”. Seperti aku yang tersindir saat itu. Tiga kali setidaknya beberapa pasang mata melihatku.

Pertama, Ramadhan itu bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk belajar agama ini. Bukan sekedar belajar sendirian, tapi banyak sekali kesempatan yang mendorong tambahan pengetahuan dan pemahaman. Nah selagi kesempatan emas ini masih ada (kata Sang Murabbi “Selagi apinya masih mareng”) disegerakan saja improvement-nya. Yang tadinya ga bisa shalat, cepatlah belajar shalat. Yang tadinya ga bisa ngaji, segera saja belajar mengaji. Yang ga paham fikih, segera belajar fikih. Yang ga ngerti kehidupan Rasulullah, segera baca sirah nabawiyah. Yang belum menikah, cepetan menikah…setidaknya belajar munakahat. Saat Pak RT bilang begitu, spontan beberapa pasang mata melihatku.

Hm…dari sebelah kiri setidaknya ada GunGun, YanYan, dan segerombolan anak2 ga jelas lainnya. Dari sebelah kanan ada TomTom yang mencari dukungan dari bapak2 disekitarnya. Dari depan ada adik2 kelas sambil mengumbar senyum ga jelas. Dari belakang…ga tahu wong udah barisannya ibu2.

Kedua, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Masih ingat kan ayat favorit ketika Ramadhan? Bahkan anak belum baligh pun udah dikit2 hafal dengan ‘ayat kutiba’ itu. Tujuan puasa memang untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Sekali lagi menuju derajat takwa. Dari yang biasa-biasa saja menjadi lebih bertakwa. Dari ulat menjadi kupu-kupu. Dari ga bisa shalat menjadi bisa shalat. Dari ga bisa ngaji jadi bisa ngaji. Dari bujangan menjadi menikah.

Hm…lagi-lagi beberapa pasang mata melihatku. Kali ini termasuk pandangan Pak RT yang berhenti di depan mukaku.

Ketiga, Ramadhan adalah bulan jihad. Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Ada hadits yang menyatakan bahwa banyak orang yang puasa hanya dapat lapar dan dahaga. Ya karena puasanya ga sungguh-sungguh. Makanya setelah Ramadhan diharapkan setiap orang memiliki semangat jihad, semangat bersungguh-sungguh alias tidak main-main dalam melakukan kebaikan. Kalo shalat ya yang sungguh-sungguh tuma’ninah, jangan pikirannya melayang ga jelas. Kalo ngaji ya jangan asal-asalan, ngaji yang bener, paling enggak bener tajwid dan makhraj-nya. Begitu juga kalo nyari mantu. Nyari mantu jangan asal-asalan. Cari yang bener2 sholeh. Jangan sekedar ganteng ato kaya. Nah…itu kan banyak anak2 STAN yang baik2 dan sholeh2. Jadiin mantu aja.

Kali ini jama’ah tarawih ga melayangkan pandangnya ke wajah2 muda dan culun punya khas anak STAN. Sedangkan orang disekelilingku malah tambah menjadi2 ngecenginnya. Ah..Pak RT ini mentang2 mantunya lulusan STAN trus promosi begitu. Tapi gapapa juga sih…hayo syapa yang mau sama anak STAN? Hubungi Pak RT.

3 comments on “Ceramah Pak RT

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: