MERDEKA TANPA CITA-CITA

Published Agustus 20, 2008 by pembawacerita

Tulisan ini merupakan naskah asli dari tulisan yang judulnya sama dan dimuat di salah satu produk Media Centre, Pers-nya mahasiswa STAN. Tapi rupanya banyak sekali yang diedit. Wajar saja bagiku. Memang space penerbitannya sempit. Jadi tidak memungkinkan untuk memuat keseluruhan tulisanku ini. Tulisan ini sepenuhnya adalah hasil dari kegundahan dan keprihatinan dengan kondisi pergaulan mahasiswa STAN sekarang. Sekaligus menyeru kepada mahasiswa STAN untuk memperbaiki lingkungan kampusnya. Dan juga siapa saja yang membacanya diharapkan dapat memperoleh manfaat dari tulisan ini. Dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya aku meniatkan tulisan ini sebagai alat dakwah. Entah ini memang alat dakwah atau bukan, wallahu ‘alam…

MERDEKA TANPA CITA-CITA

Oleh: Wirawan Purwa Yuwana[i]

Pemandangan merah putih khas bulan Agustus mulai marak di berbagai tempat. Memang sebentar lagi Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdekaannya yang ke-63. Saat-saat seperti inilah yang tepat bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para pemuda, mengingat kembali makna kemerdekaan dan perjuangan Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘merdeka’ diartikan bebas (dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya), dapat pula diartikan tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikeahui bahwa merdeka merupakan suatu keluaran karena adanya suatu proses. Adapun proses yang dimaksud adalah perjuangan.

Perjuangan melawan penjajah telah mengalirkan darah pejuang menjadi tumbal kemerdekaan. Kemerdekaan mutlak harus dimiliki bangsa Indonesia. Walaupun sejak tahun 1887 Belanda sudah melakukan politik balas budi dengan melaksanakan progam irigasi, transmigrasi dan edukasi, namun hal itu tidak cukup untuk menebus kemerdekaan Indonesia. Menyerah dalam kubangan politik etis Belanda berarti telah menempatkan harga diri bangsa ini di bawah bayang-bayang penjajah. Oleh karena itulah perjuangan tetap dikobarkan baik yang secara terang-terangan melawan maupun yang bergerak di bawah tanah. Perjuangan itu menunjukkan betapa semangat membara tercermin untuk mewujudkan jaman baru. Seperti kata Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi, jaman baru yaitu jaman muda, sudahlah datang sebagai fajar yang terang cuaca.

Sekarang kita bisa merasakan buah perjuangan para pahlawan. Namun bukan merdeka namanya jika kita tidak mempertahankan kemerdekaan ini dengan perjuangan. Siklus perjuangan itu tetap harus berputar. Jika dulu keluaran dari proses perjuangan adalah kemerdekaan, maka sekarang perjuangan merupakan proses untuk mendapatkan keluaran mempertahankan kemerdekaan dan menciptakan kehidupan negara yan lebih baik. Perjuangan memang tidak boleh berhenti. Menghentikan perjuangan berarti sama saja menjemput kematian cita-cita.

Lantas bagaimana seharusnya bentuk perjuangan pemuda sekarang? Pemuda harus menyadari betapa penting perannya pada masa depan bangsa. Suatu bangsa jika pemudanya baik, maka masa depannya pun baik. Namun jika pemuda suatu bangsa hanyalah kumpulan begajulan maka tinggal ditunggu kebinasaan bangsa itu. Kesadaran inilah yang perlu dipahami para pemuda agar senantiasa bersemangat dalam menempa dirinya. Menempa diri sehingga memiliki modal untuk berperan dan bermanfaat bukan sekedar bagi dirinya sendiri, tapi lebih dari itu. Bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara dan kehidupan.

Seperti itulah sejatinya perjuangan pemuda. Jadi merdeka tidak disalah artikan sebagai bebas tanpa batas. Fenomena merdeka ayam, yaitu bebas merdeka dan dapat berbuat sekehendak hatinya inilah yang harus diwaspadai para pemuda. Saat ini begitu marak fenomena merdeka ayam disertai berbagai alasan rasionalisasinya. Dalih kebebasan berekspresi sering digunakan untuk mengeksplorasi kebebasan tanpa batas. Alasan demi memancing kreatifitas anak bangsa pun diungkapkan walau banyak bertentangan dengan norma. Justifikasi hak asasi manusia pun dinomorsatukan dalam berpendapat tanpa memandang bahwa orang lain juga memiliki hak asasi. Dan tentu masih banyak rasionalisasi lainnya yang melupakan keluarannya, yaitu perubahan untuk perbaikan.

Sebelum melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk ini, mari kita lihat saja kampus STAN tercinta. Kita introspeksi bersama-sama mengenai kehidupan mahasiswanya. Mahasiswa STAN sekarang sudah mengalami pergeseran norma. Itu pun jika keberatan untuk dikatakan mengalami degradasi moral. Permasalahan ini bukan sekedar wacana, tapi sudah menjadi bukti empiris. Tidak sadarkah mahasiswa STAN sekarang sedang mempelajari mata kuliah baru yang dahulu tidak pernah ada. Sebut saja mata kuliah etika dan budaya nusantara. Seharusnya kita sebagai mahasiswa STAN sadar bahwa munculnya mata kuliah etika itu cukup membuktikan bahwa mahasiswa dan lulusan STAN tidak memiliki etika. Demikian juga adanya mata kuliah budaya nusantara. Cukuplah latar belakang bahwa lulusan STAN cenderung tidak memiliki nilai manfaat di masyarakat setelah lulus dan ditempatkan.

Mahasiswa STAN sekarang tak perlu malu jika dibandingkan dengan mahasiswa STAN jaman dulu. Jika dulu sepasang muda-mudi mahasiswa STAN ketahuan bergandengan tangan akan sangat merasa malu, namun tidak dengan mahasiswa sekarang. Bergandengan tangan sepasang mahasiswa yang berpacaran dimabuk asmara pun menjadi lumrah dan biasa. Tak ada lagi rasa risih jika dilihat orang lain. Yang ada justru cuek dengan apa kata orang. “Emang gue pikirin!”, begitulah kira-kira ungkapannya. Penulis khawatir, muda mudi seperti ini justru akan menjadi musuh dalam selimut ketika sudah ditempatkan di instansi pemerintah. Boro-boro akan mengamalkan ilmu dan mempertahankan idealisme, yang ada mungkin justru berkolaborasi, berpegangan tangan, dan berkolusi dengan koruptor untuk menguras keuangan negara demi kepentingan pribadinya. Kemungkinan masa depan seperti ini bisa terjadi karena sewaktu di kampus tangan-tangan muda-mudi ini sudah terlatih untuk memegang sesuatu yang bukan haknya.

Selanjutnya mari kita lihat pasangan muda-mudi mahasiswa STAN di beberapa kantin. Mereka saling menyuapi layaknya suami istri. Mereka seolah tak peduli dengan orang yang risih melihat kelakuannya. Jika masih berstatus mahasiswa yang belum sah menjadi suami istri sudah berani saling suap seperti ini, lantas bagaimana jika sudah bekerja nanti. Mereka mungkin akan menjadi agen budaya suap di pemerintahan. Mereka yang sudah terlatih disuapi atau menyuapi maka pada suatu saat ketika bekerja nanti sangat mungkin akan mempraktekkan suap dengan berbagi macam bentuk dan triknya. Suap dengan dalih perjamuan tamu pun menjadi biasa. Suap dengan penyediaan fasilitas kenikmatan hotel bintang lima lengkap dengan entertainment-nya pun tak menjadi apa. Hingga gepokan uang tunai pun sudah tak takut lagi untuk menerima.

Kemudian mari kita buka dunia maya. Kita akan menjumpai muda-mudi mahasiswa dengan begitu bangga mendokumentasikan hubungan mesra mereka di profile friendster, wallpaper ponsel atau dekstop komputer. Mereka tak merasa malu memasang gambar yang tampak jelas pipi kanan si perempuan ditempelkan pada pipi kiri si laki-laki. Muda-mudi seperti ini telah menanam benih tidak tahu malu yang nanti akan dibawa ketika bekerja. Yang menjadi pemeriksa pajak tak malu untuk memeras wajib pajak. Yang menjadi bendahara tak malu untuk meminta tips atas uang yang dicairkan instansi lain. Yang bertugas sebagai pelaksana pengadaan barang dan jasa tak malu lagi meminta kickbacks dari rekanan. Yang menjadi auditor tak malu lagi mengakal-akali temuan bersama auditee. Kejadian-kejadian itu sudah dimulai dengan fenomena tak tahu malu yang dilakukan mahasiswa. Entah mereka sadar atau tidak sadar telah melakukan perbuatan yang memalukan.

Fenomena dekadensi moral itu terus berlanjut. Sekarang sudah marak kos-kosan yang mencampur laki-laki dan perempuan. Model pacaran berduaan di dalam satu ruangan kos-kosan pun menjadi kebiasaan. Bahkan tak sedikit informasi yang mengabarkan ada sepasang mahasiswa STAN berciuman. Itu semua baru yang on spot catching. Jika yang kasat mata saja seperti itu, apalagi yang tidak kasat mata. Mungkin mahasiswa STAN malah sudah banyak yang menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, fenomena homoseksual, dan berbagai bentuk dekadensi moral lainnya.

Mahasiswa-mahasiswa dengan kebejatannya diatas sungguh tidak menghormati perjuangan pahlawan. Mereka jauh dari cita-cita Soekarno yaitu datangnya jaman muda, jaman yang terang cuaca. Mahasiswa-mahasiswa yang mengalami degradasi moral seperti itu justru akan membuat cuaca bangsa menjadi kelabu. Tanpa masa depan. Dan tanpa cita-cita.

Degradasi moral ini tak boleh dibiarkan. Apakah kita harus menunggu ada kasus hamil diluar nikah terlebih dahulu untuk bergerak memberantas praktek free sex di kalangan mahasiswa STAN? Apakah kita masih harus bersabar hingga ada bencana kematian mahasiswa STAN dikarenakan overdosis narkoba? Apakah kita tetap berdiam diri hingga AIDS datang menggerogoti sebagai dampak fenomena homoseksual? Pertanyaan-pertanyaan itu memang hanya retorika belaka. Tapi jelas hanya manusia waras yang paham bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Kini saatnya seluruh elemen kampus bergerak melawan arus degradasi moral. Seiring dengan semangat kemerdekaan, perjuangan melawan segala bentuk kebejatan, kehinaan dan dekadensi moral harus dimulai sekarang juga. Jika dibutuhkan infrastruktur untuk menjembatani program menghentikan praktek kehinaan ini, maka mari kita bangun bersama. Lembaga STAN perlu menerbitkan dan mempublikasikan aturan kehidupan mahasiswa STAN. Seluruh organisasi di kampus STAN perlu berkoordinasi dan menyamakan persepsi untuk memperketat pergaulan mahasiswa hingga tidak bebas tanpa batas. Bahkan setiap mahasiswa pun wajib menjadi agen yang mengawasi dan menindak setiap oknum yang melakukan perbuatan menjurus pada pergeseran norma dan penurunan moral. Jangan diam saja. Karena diam membiarkan mahasiswa STAN terkubur dalam degradasi moral, berarti sama saja menghentikan semangat merdeka pada tahun 1945. Maka semakin lama merdeka hanya akan menjadi kenangan dan tanpa cita-cita.


[i] Penulis adalah mahasiswa D IV Akuntansi STAN

3 comments on “MERDEKA TANPA CITA-CITA

  • aku melihat di papan mading Gedung C dicoret2 abis sama pembacanya. hemmm…alhamdulillah ada yang baca. coretannya macam2.
    ada yg bilang “analogi yang berlebihan”
    maka aku bilang, dosa2 besar itu bisa terjadi karena terlatih bikin dosa kecil
    ada yg bilang, “gw tersinggung” (dibawah kata homoseksual)
    lha, berarti ada yang melakukan dong kalo tersinggung. kalo ga melakukan ngapain tersinggung?
    ada yg nulis,”gue ga peduli, gue kan sekuler”
    astaghfirullah…
    ada yg nulis, “baca nih tulisan. lucu deh”
    lho kok lucu? *bingung mode on…🙂

  • terlatih memegang yang bukan haknya? suap-menyuap? hwahaha…. memang lucu. sebuah analogi yg berlebihan.

    (^_^)v

    tp mmg, di stan sdg trjdi arus “globalisasi” besar2an. segala macam aneka permesraan berpacaran sptnya ada. kaum homo sdh tak malu lg menunjukkan identitas ke-gay-annya. tp blm kutengok yg miras-narkoba itu. blm sampai kpdku, mgkn.

    skrg tanggung jawab siapa unt mengatasinya? yg plg besar adl organisasi keagamaan kampus. apa saja kerjaan mereka?? tak lihatkah kaumnya terhina smcm itu? lihatlah di luar tembok sana! //halah, ngeliat yg di dlm tembok aj g becus, dsrh liat nembus tembok…//

  • @ Farijs van Java
    Aku beda pendapat lagi sama kamu Farijs. lucu? analogi berlebih? baca lagi commentku sendiri di atasnya.
    Aku lebih setuju bukan hanya organisasi keagamaan kampus. “Elo kemana aja selama ini?”. bukan cuma aku, kamu, atau organisasi keagamaan. tapi seluruh elemen kampus. setiap pribadi mahasiswanya, organisasi mahasiswanya, lembaganya, alumninya….
    jadi biar lebih bijak gitu lho Farijs…

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: