Syawal

Published Agustus 6, 2008 by pembawacerita

Ya Rabbi, sungguh indah sekali cara-Mu memberikan ilmu padaku. Beberapa waktu yang lalu aku agak terkejut ketika tiba-tiba ditanya, “Kira-kira kamu kapan menyelenggarakan akad nikah?”. Saat itu aku tidak menyangka bahwa perjalanan ini begitu cepat. Hingga tak menyangka bahwa awal kehidupan ini akan segera dimulai. Ya Rabbi beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih sehingga bisa membahas pertanyaan yang hingga kini belum bisa aku jawab.

Ya Rabbi, betapa diri ini bergetar ketika membuka lembar demi lembar hikmah yang ditulis orang-orang shalih. Aku menjumpai petunjuk bahwa ‘Aisyah menuturkan, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan tinggal bersamaku pada bulan Syawal. Lalu adakah diantara isteri Rasulullah SAW yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku.” Selanjutnya pada dijelaskan pula bahwa An-Nawawi rahimullah berkata, “Hadits ini berisi anjuran menikah di bulan Syawal. ‘Aisyah bermaksud, dengan ucapannya ini, untuk menolak tradisi jahiliah dan anggapan mereka bahwa menikah pada bulan Syawal tidak baik. Ini adalah bathil yang tidak memiliki dasar. Mereka meramalkan demikian, karena kata Syawal mengandung arti menanjak dan tinggi…

Ya Rabbi, beruntung sekali aku Kau dekatkan dengan orang-orang shalih yang pemahamannya lebih baik dariku. Suatu ketika aku berdiskusi dengan seorang shalih mengenai hadits ‘Aisyah di atas. Pemahaman tekstual menyatakan bahwa sangat dianjurkan untuk menikah di bulan Syawal sebagaimana yang telah di contohkan Rasulullah dengan ‘Aisyah. Dan para salafus shalih pun sangat menganjurkan untuk mengikuti sunnah Rasul, yaitu menikah di bulan Syawal. Betapa bahagianya aku jika bisa mengikuti teladan para salafus shalih itu. Dari segi sosiologis, di Indonesia terutama, keluarga biasanya berkumpul pada bulan Syawal. Dan tentu akan sangat bahagia jika menyatukan tali silaturahim diantara mereka dalam suatu prosesi walimah. Baik itu dalam pandangan sosiologis atau pun pemahaman tekstual, pernikahan di bulan Syawal sungguh membahagiakan.

Ya Rabbi, di lain kesempatan Kau mempertemukanku dengan orang shalih lainnya untuk berdiskusi masalah yang sama. Ia lebih memandang secara kontekstual sebagaimana tambahan penjelasan dari An-Nawawi. Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah merupakan sebuah perjuangan untuk memutus rantai kejahiliyahan. Yaitu kebodohan kaum terdahulu yang melarang menikah pada bulan Syawal. Maka nilai perjuangan itu pun sebenarnya dapat diambil untuk tradisi masyarakat yang masih jahiliyah di Indonesia ini. Misalnya anggapan masyarakat di daerah tertentu bahwa menikah di bulan Suro (Muharram) itu tidak baik. Anggapan ini perlu dipupus dengan pengorbanan menikah pada bulan Muharram sehingga bisa meluruskan pandangan yang salah. Begitu pula hari-hari yang ditetapkan perhitungan para dukun, entah itu Kamis Pahing, Jumat Kliwon, Sabtu Legi, atau hari apa pun yang ditentukan tanpa dasar syar’i. Tradisi jahiliyah itu haru dipupus dengan perjuangan. Dan perjuangan butuh pengorbanan. Sungguh aku yakin bahwa keberkahan itu datang dari Allah dan bukan pada waktu-waktu yang ditetapkan manusia seperti itu.

Ya Rabbi, aku memang tidak bisa memutuskan sendiri kapan akad nikahku akan terjadi. Ya Rabbi, dalam benakku masih begitu kuat terpatri bahwa menikah itu bukan sekedar untuk diriku sendiri dan istriku nanti. Tapi lebih dari itu, kami akan menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan pernikahan. Oleh karena itulah musyawarah antar keluarga sangat dibutuhkan untuk menentukan berbagai hal mengenai prosesi pernikahan. Ya Rabbi yang membolak-balikkan hati, ijinkan aku untuk menaati kedua orang tuaku sebagaimana aku taat kepada perintah-Mu. Ya Rabbi, tenangkan hati ini dalam menunggu kepastian hasil musyawarah antar keluarga kami. Apapun hasilnya, aku mohon keridhoan-Mu. Aku Mohon keberkahan dari-Mu. Aku mohon kelancaran dari-Mu. Ya Rabbi, ijinkan aku menikmati kebahagiaan dalam mengikuti sunnah Rasul-Mu. Kapan dan dimana pun aku.

13 comments on “Syawal

  • @Ely…
    Undangan apa pemberitahuan nih?
    setauku undangan itu harus dihadiri loh.
    Ato Undangan trus dikasih catatan, jika berhalangan menghadiri berlaku sebagai pemberitahuan?
    Terima kasih doanya ya…

    @Azzahra…
    Trima kasih juga doa-nya
    masalah link blog…sepertinya yg bisa jawab wordpress deh. aku juga ga ngerti.

  • OOOOO….Bulan Syawal toh?
    Alhamdulilah…
    Selamat ya,,,semoga aku cpt mengikuti jejakmu (Bulan Syawal oke jg tuh..)

    Mas, Thanks 4 all yah..
    Ntar klo aku lost lg, msh mau pinjemin “senter” kan?

    Ditunggu undangannya…

  • Alhamdulillah… setelah liku panjang perjuangan itu, kini telah muncul cahaya semangat baru yang mungkin kan menambah kobar jiwamu. moga segalanya dimudahkan…tapi…masih sama gak ya ama yang kita dulu bareng2 bicarakan di Kalibata???

  • @ Duon
    Yup…semoga Duon dimudahkan Allah untuk menggapai kesempurnaan agama. Amin.
    @ Didan
    kapan menyusul? tentu kamu sendiri yang bisa jawab, Didan. hm…niatkan dengan kuat. siapkan pernikahan dengan niat yang lurus. bukan sekedar kebelet nikah. tapi jauh lebih penting dari itu adalah menyempurnakan agama, menjaga pandangan, mempertahankan kehormatan, dan melanjutkan perjuangan. Yup…siapkan niat yang bulat ya Didan…semoga Allah memudahkan. Amin.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: