Ba’ah apaan sih?…Canda 300708

Published Agustus 2, 2008 by pembawacerita

Bidadariku, dunia ini kabur dalam pandanganku. Ketika tugas kuliah minta dikebut, kemarin aku malah mendapat problem tambahan. Aku tertidur di kamar Kang Agus #1. Begitu melelahkan setelah pulang dari Senayan mengawasi orang-orang tes CPNS. Dan ketika terbangun aku menjumpai kacamataku patah. Aduh biyung…layar monitor pun kabur. Tulisan di buku terlihat bias. Jadi tambah malas membaca. Padahal aku ga boleh malas membaca. Karena membaca adalah bagian dari mempersiapkan kehidupan. Akhirnya dengan susah payah pun menyempatkan diri untuk meniti lembar demi lembar pengetahuan.

Bidadariku, kamu ingin tahu apa yang aku baca? Sedikit saja ya…sebuah petunjuk di Isyratun nisa’ minal alif ilal yaa. Mengenai sabda Rasulullah, yaa ma’syarasy syabaab, manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj. Fainnahu aghadhdhu lil bashari wa ahshanu lil farji, wa manlam yastathi’ fa’alayhi bish shaum, fainnahu lahu wijaa’. Hadits ini memanggil pemuda sepertiku bidadariku. Dalam buku itu diterjemahkan, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; sebab berpuasa dapat menekan syahwatnya”.

Terus saja terngiang-ngiang panggilan itu dibenakku. Hingga sering bibir ini bergerak-gerak mengucapkan lafaz-nya berkali-kali. Dan ditengah perjalanan menuju As Sa’adah, aku kepergok Gun-gun#20. “Waduh mas, dari tadi ngucapin qala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang itu terus”. Ya sudah, sekalian aja si Gun-gun#20 ini aku jadikan ajang percobaan. “Gun, ada yang manggil tuh. Kamu ngerasa ga?”. Lantas ku tepuk-tepuk punggungnya, “yaa ma’syarasy syabaab”. Dengan senyum tersungging, ia melirikku. Tak ada kata terucap. Hanya melirik saja seperti di film India. Dan aku lanjutkan, ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Rupanya ia mulai bosan,”Aduh mas, dari tadi ituu….terus”.

Sepulang dari As Sa’adah pun masih saja menyebut-nyebut lafaz hadits itu. “Artinya apa sih mas?”, tiba-tiba Prian#14 nyeletuk. Iyap, ini dia, aku dapat satu korban lagi. “Itu panggilan buatmu Yan”. Ia bengong. Ku tunjuk-tunjuk si Prian#14, “yaa ma’syarasy syabaab”. Terlukis tanda tanya kecil di atas kepalanya. ”manistatho’a minkumul ba’ah, fal yatazawwaj”. Dan kemudian tanda tanya kecil itu tumbuh besar di atas kepalanya. “A R T I N Y A ?”, pertanyaan keluar dari mulut Prian#14 dengan nada seperti anak SD membaca teks Pancasila…satu…dua…tiga…empat…lima.

Belum juga aku menjawab pertanyaan Prian#14, tiba-tiba Hatfi#13 memanggilku. “Mas, ini nih lihat. Pasti suka deh”. Dalam hati agak bingung juga, apa maksud ustadz-nya Pondok Muslim ini. Ia menunjukkanku tulisan arab gundul di monitor laptopnya. “Waduh Fi, mana bisa aku membacanya. Apalagi mengartikannya”. Dia tertawa terkekeh,”Ini sarah Bulughul Maram, Mas. Kamu dari tadi nyebut-nyebut hadits itu terus. Tahu maksudnya ba’ah ga?”. Dengan polos aku memenggal makna terjemahannya, ”Mampu menikah, Fi”. Dia terkekeh lagi,”Ada yang menarik nih. Disini menurut Imam Shon’ani dalam kitabnya Subulus Salam disebutkan bahwa yang dimaksud ba’ah itu kira-kira sama dengan jima’. Ini coba lihat teksnya. Jadi hadits itu bisa dikatakan manistatho’a minkumul jima’. Nah menarikkan?”. Dalam hati aku bergumam, seandainya para pemuda mengetahui dan memahami petunjuk itu, tentu mereka berbondong-bondong memenuhi panggilan ini.

Waduh, namanya juga kumpulan laki-laki yang haus kasih sayang dan telah terdoktrin untuk menyembunyikan cinta, mendengar topik menarik, langsung melirik. “Artinya apa tadi, Mas?”, Si Prian#14 masih minta penjelasan. Nah, ketika disebutkan terjemahnya, malah semakin tertarik dia. “Nah lho Pam, kamu sudah ba’ah belum?”, aku lempar pertanyaan ke arah Papam#12. “Pasteehh!”, ia mengangkat tangannya tinggi lalu menariknya kebawah. “Kok ga ada tanda-tanda yatazawwaj?”. “Waduh mas, bentar dulu napa. Bidadariku kan baru saja terbang. Sayapku ini belum kuat untuk mengejarnya”. Gun-gun#20 senyum-senyum saja dari tadi sambil berdiri. “Kalo Pak Pres ini sudah mampu belum?”, si Papam#12 me-rebound pertanyaan ke Gun-gun#20. “Ya pastilah”, jawabnya lugas. “Masih kecil gitu sudah mampu?”, tambahan Papam#12 setengah menghina si kecil Gun-gun#20. “Ndak papo Pam, yang penting jadi idola banyak perempuan di kampus kito”, dengan nada Sriwijaya-an si Gun-gun#20 malah membusungkan dada. Lantas kubelokkan pandanganku ke Prian#14,“Kalo kamu Yan, sudah ba’ah belum?”. Melotot dia,”Ya sudah lah mas. Masa ya sudah dong. Bacaannya aja majalah, bukan majadong”. “Buktinya mana?”, seperti dikomando dirigen, Papam#12 dan Hatfi#13 mengucapkan pertanyaan yang sama. “Ya, entar lah. Masa dipaksa sekarang”, kata Prian#14 dengan nada tinggi. “Kalo dipaksa sekarang, jadi kasus Ryan dong!”. Dan tawa pun meledak ditengah diskusi itu.

Tiba-tiba Tegwan#17 tergopoh-gopoh dengan perut buncitnya menghampiri forum yang tengah terbahak-bahak. “Apaan sih? Bahas apaan sih? Ulangi dari awal dwonk”. Waduh Teg, kalo dari awal ya capcay deh…….

3 comments on “Ba’ah apaan sih?…Canda 300708

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: