Menjelang Maghrib bersama Mbok Yah

Published Juli 15, 2008 by pembawacerita

Bidadariku, kali ini aku akan menceritakan sesuatu untukmu.

Memang dari dulu tak banyak yang berubah dengan rumah Mboh Yah. Seperti sore kemarin pun pohon-pohon turi yang baru memproduksi sedikit bunga nampak riang menyambut petang. Udara dingin mulai mencubit genit kulit keriput Mbok Yah sebagai ungkapan kegembiraan bahwa mentari sebentar lagi meninggalkan siang. Sepiring umbi rebus menemani perbincangan kami. Aku tak tahu jenis umbi apa itu. Kata Mbok Yah itu umbi katak. Umbi empuk itu begitu lembut di mulut. Tak perlu susah-susah menguyah. Diamkan saja beberapa detik didalam mulut, maka sejurus kemudian kepyar butiran tepungnya yang terasa sedikit manis karena saripatinya mengendap menjadi glukosa.

Begini lah di desa. Tanahnya begitu subur. Tak ribut dengan kampanye anti global warming. Karena disini tanaman menjadi sumber makanan dan pepohonan menjadi bahan papan. Setelah tanaman diambil umbi, buah, atau batangnya sebagai bahan makanan, tanaman itu ditancapkan lagi dan tumbuh berkembang untuk menghasilkan bahan makanan lagi. Maka tak susah mendapatkan berbagai macam tanaman yang bisa dimakan di desa. Benar kata Koes Plus, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Begitu pula dengan pepohonannya. Walau tidak selebat dahulu, tapi menanam pohon kembali sudah menjadi tradisi. Tapi memang tidak dapat dipungkiri, beberapa oknum pencuri kayu hutan yang bekerja seperti kelelawar sering luput dari perhatian. Begini lah desa. Aku suka suasananya.

Aku masih menikmati butiran tepung umbi bercampur beberapa molekul glukosa di dalamnya. Aku dan Mbok Yah larut dalam obrolan dalam bahasa Jawa. “Le, Wan, kamu apa belum berminat punya gendhongan seperti Paklik-mu Yanto itu?”. Tiba-tiba Mbok Yah membuka topik pembicaraan baru.

“Ya pengen lah Mbok”

“Lantas pilihanmu yang seperti apa?”

“Ga ribet kok Mbok, yang penting paham agama”

“Jangan lupa diperhatikan bibit, bobot, bebet-nya yo le”

“Kalo itu bukan tugasku Mbok. Ada orang lain yang menilai ketiga hal itu”

“Lho kok malah dipasrahkan sama orang lain. Ga khawatir salah pilih?”

“Ya enggak lah Mbok. Kan dilihat dulu siapa yang memberikan pilihan. Kalau aku sudah yakin dengan keshalihan atau keshalihahan orang yang memberikan pilihan itu, ya aku percaya.”

“Ya itu kalau keseharian di rumah lho Le. Kalau perempuan itu ada di tempat lain, bagaimana kamu bisa tahu pergaulannya?”

“Ya aku lihat teman-temannya Mbok. Kalau teman-temannya mayoritas baik-baik, insya Allah perempuan itu juga baik”

“He, yo wis kalau begitu. Yang Mbok kuatirkan itu kamu grusa-grusu mencari pasangan. Jangan lupa rembugan sama orang tua yo Le. Kalau Mbok-mu ini sudah ga bisa lagi mencarikan pasangan yang pantas buatmu. Mbok hanya bisa berpesan, sing sabar lan sing longgar. Bersabarlah dalam menjalani usaha mencari pasangan hidupmu. Dan longgarno (lapangkan) hatimu dalam menghadapi perbedaan dan masalah. Semuanya bisa diselesaikan dengan musyawarah kok Le”

Begitulah pesan Mbok Yah. Mbok Yah memang bukan orang tua yang berpendidikan formal. Tapi umurlah yang menjadikan Mbok Yah matang. Pengalaman hidupnya adalah sari pati perjuangan.

Bidadariku, jika kita sudah bertemu nanti, aku ingin mengajakmu ke rumah Mboh Yah. Melihat kesederhanaan dan keindahan berbagi walau hanya beberapa butir padi.

2 comments on “Menjelang Maghrib bersama Mbok Yah

  • walah dalah, pakde wipy, kapan bidadarinya nyampe???
    di kantorku banyak neh, mulai dari kriteria a ampe yang jelas ga sampe z soalnya ga sebanyak itu orangnya hehehehe

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: