13 Juli 2008 Harapan Dini hariku untuk Bidadariku

Published Juli 12, 2008 by pembawacerita

Tahukah kau tengah malam ini aku menyebut-nyebutmu bidadariku? Terbangun dalam kegelisahan. Menunggumu dalam kecemasan. Beruntung keresahan ini tak terbaca oleh adikku yang sedang tidur pulas disampingku. Aku sekarang ada dirumah, bidadariku. Di rumah orang tuaku yang semuanya mengakui bahwa yang paling cantik di rumah adalah ibuku. Mungkin perempuan seperti ibuku mampu merasakan bagaimana kecemasan, harapan dan gundah menyerangku.

Dua hari yang lalu ketika aku sampai di rumah, malam harinya semua anggota keluarga makan malam di luar. Rupanya ibuku sudah mempersiapkan acara itu, bidadariku. “Nanti mampir toko baju dulu”. Begitu ibuku berkata. Aku mengira kedua adikku yang sebentar lagi mulai menyelesaikan liburan sekolahnya akan dibelikan baju seragam. Namun bukan itu maksud ibuku, bidadariku. “Bagaimana bidadarimu akan menghampirimu jika penampilanmu tetap seperti ini!ibu akan membelikan baju untukmu. Biar kamu tidak asal-asalan berpenampilan”. Luluh lantak hati ini, bidadariku. Aku mengaku tak bisa memilih pakaian yang cocok, bahkan untuk diriku sendiri. Asal menutup aurat. Itu saja yang selama ini dalam benakku. Beruntung aku punya ibu yang pandai memilihkanku pakaian. Dan memang selama ini adalah ibuku yang memilihkanku baju.

Nyaris aku tak pernah membeli baju. Beberapa waktu yang lalu ketika ibuku bertanya masalah baju, aku bisa menjawabnya karena aku diberi hadiah baju oleh adik kelasku. Ucapan terima kasih katanya. Mungkin adik kelasku itu juga prihatin bagaimana aku berpenampilan memprihatinkan. Baju itu-itu saja yang aku pakai. Juga pada saat aku mendapatkan hadiah dari teman-temanku setahun yang lalu. Ucapan terima kasih juga kata mereka. Dan mereka sangat terharu ketika aku ceritakan bahwa sehari sebelum mereka datang membawa hadiah aku mendapatkan musibah. Beberapa bajuku diambil orang tanpa ijin. Mungkin orang itu sudah sangat membutuhkan sehingga hanya terpikir pilihan itu.

Pagi kemarin aku hendak memakai baju baru pemberian ibu untuk takziyah. Mbah Sarji tetanggaku dipanggil Allah. Tapi ibu melarang memakai baju baru itu. “Memangnya kamu hanya akan diam dan duduk-duduk saja sambil ngobrol tak jelas di tempat jenazah? Mbah Sarji itu orang miskin, Le. Nanti kamu pasti akan banyak bergerak. Kasihan bajumu kena keringat dan kotor. Pakai kaus ini saja”. Tak banyak bicara aku iyakan saja apa kata ibu. Dan benar keadaannya, bidadariku. Hanya segelintir orang yang takziyah ke rumah Mbah Sarji. Tepat pula apa kata ibuku,sebagian besar mereka hanya duduk-duduk dan ngobrol tak jelas apa yang dibicarakan.

Benar pula apa kata ibuku. Di pagi hari saat mentari sedang semangat menunjukkan kedigdayaannya itu aku bergumul dengan keringat dan debu. Hanya sedikit anak muda yang datang di rumah duka Mbah Sarji. Dan lebih parahnya lagi yang membawa keranda ke kuburan hanya delapan orang. Yang mengantar jenazah Mbah Sarji jauh lebih sedikit dibandingkan semua pelayat yang tak lebih dari lima puluh orang. Di depan keranda adikku mulai resah dengan nisan yang dipanggulnya. Maklum jarak antara rumah Mbah Sarji dengan kuburan menuntut jalan kaki kurang lebih tiga kilo meter. Dan aku masih setia dengan pikulan keranda sebelah kiri belakang bergantian dengan seorang familiku. Tak lebih dari lima belas orang yang mengantarkan jenazah hingga kuburan. Aku heran pada pelayat (atau penduduk yang tidak melayat) yang lain. Apakah mereka tidak menyadari ada pahala sebesar Gunung Uhud disetiap aktivitas mengurusi jenazah?

Belum selesai keherananku dengan pembawa keranda, di kuburan aku dihadapkan pula pada adat kejahiliyahan. Pak Modin men-talkin (istilah dari Bapakku) jenazah yang dikuburkan. Kira-kira perkataan talkin Pak Modin kepada jenazah seperti ini, “Mbah Sarji sebentar lagi mbah akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir. Nanti kedua malaikat itu akan menanyakan beberapa hal kepada Mbah Sarji. Jika ditanya siapa Tuhanmu, jawablah Allah. Jika ditanya siapa Rasulmu, jawablah Muhammad SAW. Jika ditanya apa kitabmu, Jawablah AlQur’an. Jika ditanya apa kiblatmu, jawablah ka’bah”. Ketika Pak Modin ‘berkomunikasi’ dengan jenazah Mbah Sarji itu, aku melempar senyum kepada adikku yang jongkok di samping Pak Modin. Hingga dia berbisik, “Kok malah ketawa kenapa mas?”. Enteng saja aku balas,”Orang mati kok diajak ngomong!”. Dia lantas pindah tempat ke belakang sambil menutupi mulutnya menahan tawa.

Begitulah model kejahiliyahan di jaman modern, Bidadariku. Aku harap setelah kau menjadi bagian dari keluargaku, kau pun akan menjadi bagian dari misi dakwah kita. Apapun risikonya. Walaupun itu pahit seperti yang pernah kami rasakan pada saat nenekku meninggal dulu. Kami tak ingin mengotori akidah yang murni ini dengan bid’ah, churafat dan takhayul. Dan keluargaku yang berusaha menunjukkan bagaimana mengurus jenazah sesuai dengan syari’at. Dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan. Tanpa embel-embel menyembelih ternak. Tanpa tambahan adzan dan iqomat di liang lahat. Tanpa talkin-talkinan. Dan reaksi negatif pun mengalir deras. “Keluarga yang aneh karena tidak ikut adat”. Kami pun membiarkan apa kata mereka yang tidak tahu. Justru seperti itulah kami mendakwahkan bagaimana mengurus jenazah yang benar. Sekali-lagi bidadariku, aku berharap kau akan menjadi bagian dari amunisi dakwah kami.

2 comments on “13 Juli 2008 Harapan Dini hariku untuk Bidadariku

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: